Traveling

Melamun di Lembah UGM Alternatif Wisata Jogja

By on November 1, 2019
wisata-jogja-ugm

Berkali-kali ke Jogja tapi baru sekarang bisa sesantai ini, menikmati kota gudeg ala orang lokal. Bukan Kalibiru, Malioboro, atau Mangut mbah Marto yang kucari. Motor sewaan membawaku siang hari yang terik itu ke daerah UGM. Tanpa panduan google maps, aku benar-benar berkendara mengikuti naluri. Wisata Jogja di lembah UGM ternyata bisa jadi pilihan untuk mencari Keheningan yang menghasilkan banyak inspirasi.

Continue Reading

Pekalongan | Traveling

Kota Tua Pecinan Pekalongan

By on April 26, 2019
wisata-heritage-pekalongan

Tiga hari sebelum ramadhan tiba, suasana pasar Banjarsari kota Pekalongan lebih ramai dari biasanya. Semenjak pasar ini terbakar, pedagang menyebar di sekitar bekas lokasi Sentiling ini. Teriknya matahari membuatku menyingkir sebentar dari pengapnya aroma bumbu dapur. Sepertinya jalan belimbing yang lengang menarik untuk dinikmati. Pagi itu aku menelusuri kawasan Kota Tua Pecinan Pekalongan.

Continue Reading

Traveling

Pariwisata 4.0 milik siapa?

By on Maret 21, 2019
ruwatan-sukerta

Obrolan kalau sudah mencatut 4.0 tuh kayaknya sekarang keren banget ya. Ahahaha. Sebagai orang yang berada di dunia industri manufaktur, istilah industry 4.0 sudah aku dengar dari beberapa waktu lalu. Sempat ada yang share di grup whatsap berita pariwisata 4.0 yang lagi digalakkan. Hemm sebenarnya Pariwisata 4.0 punya siapa sih? Punya Kemenpar atau milik segelintir orang yang mengambil istilah hits saja?

Industry 4.0

Udah pada tahu kan industry 4.0? Intinya sih, pada step ini tuh proses-proses udah nggak hanya online saja tapi terintegrasi dengan cloud atau sejenisnya termasuk kecerdasan buatan.

Gampangnya gini deh. Belanja. Dulu kita belanja manual, lalu muncul Kaskus dimana kita bisa jual beli pakai Rekber ahaha. Sistemnya kayak belanja manual aja kan cuma kita ga ngadepin langsung lawan kita. Tahap ini masih masuk industry 3.0.

Teknologi dan kebutuhan kejar-kejaran, munculah e-commerce. You mau sebut Gojek, Tokped, Bukalapak, atau Traveloka dan Pegipegi silakan. Aplikasi-aplikasi ini pakai data kita baik itu demografi maupun habit buat ngelayanin kita. Ngasih penawaran. “Oh kamu suka liat-liat kamera ya, sini aku iklanin kamera terbaru deh”. Itu sudah masuk industry 4.0.

Pariwisata 4.0

Lalu bagaimana dengan pariwisata 4.0? Aku sih ketika browsing dan nyari-nyari beritanya hasilnya kecewa. Masih kayak wacana aja. Ngambil istilah yang lagi hits. “Milenial suka nih yang onlen-onlen…yaudah kita bikin program saja 4.0”.

artifisialorsubstansial

Sekedar online dan viral belum bisa dikatakan sebagai 4.0 lah pak buk. Lagian ya mana bisa disebut patiwisata 4.0 kalau beli tiket masuk lokasi wisata saja masih pakai kertas. Jangankan 4.0, lha 3.0 aja belum kok.

Memang kita bisa beli tiket atau transportasi lewat ecommerce, tapi yang real dari kemenpar apa?

Bali Baru Yang Semu

Selain objek wisata digital, milenial, kemenpar juga jago deh bikin nama-nama. Tapi ya gitu, zonk. Bali Baru misalnya. Bulan lalu aku ke Belitung, dimana salah satu objek wisata andalannya yaitu pantai Tanjung Kalayang masuk ke list Bali baru.

Nggak ada beda kok dengan adanya label itu maupun engga. Aku juga yakin, para pelaku wisata di sana belum tentu tahu apa itu Bali baru. Bahkan sepanjang perjalanan dari Bandara Tanjung Pandan hingga Pantai, taka da tuh baliho atau penanda akan hal tersebut. Jadi sampai tulisan ini dibuat, Bali Baru hanya ada di medsos dalam bentuk hashtag.

Aku bukan orang Bali, tapi penyebutan istilah “Bali baru” kok rasanya kayak bikin cemburu. Sejenis “istri muda” wkwkkw. Apakah akan sama seperti Bali dengan segala keterbukaanya untuk dunia, atau sekedar keindahannya saja yang ngga kalah? Semu.

Sebagai turis yang datang ke salah satu spot Bali baru, aku merasa kecewa. Tak sesuai ekspektasi. Malu-maluin Bali sebab sudah dicatut namanya eh kok ndak memuaskan.

Pembenahan SDM Itu Perlu

Beberapa hari lalu aku membaca artikel blog dari mas Insanwisata. Aku sepakat dengan yang beliau tulis, tentang salah kaprah desa wisata.

Yang aku temui di daerahku sendiri, Pekalongan memang seperti itu. Desa wisata sama dengan objek wisata. Sejak istilah itu didengungkan (minjem diksi Kemenpar ah “diviralkan”), mindset sebagian besar kapala ya kayak gitu. Bikin wahana, bikin spot selfi, bikin papan gede bertuliskan nama tempat. Oiya nama tempatnya dibikin selera milenial “katanya”. Misal, Bukit cinta…atau apalah Taman seribu janji. Hadeuuh.

Pemda mendukung? Ouuw tentu. Jalan-jalan diaspal, ditambahi lampu kiri-kanan, nice banget. Tapi bagaimana dengan SDM nya? Sudahkah dibekali dengan konsep wisata sustainable?

Ngikutin Selera Netizen

Suatu hari aku ungkapkan unek-unek kayak gini di instagram. Lalu ada yang komentar kalau “ya spot wisata dibikin ada lope-lope dan warna-warni itu biar narik pengunjung. Intinya kan pemasukan. Dan kalau orang suka selfi di sana jadi media promosi”. Hemm iya, oke aku menangkap mindset tersebut.

curug_lawe

Selera netizen saat ini memang seperti itu mungkin. Kalau netizen sudah nggak selera gimana? Dibongkar? Mangkrak? Banyak kok spot wisata yang sempat viral kini nganggur. Kan sayang banget. Padahal daya tarik utamanya masih ada. Misalnya saja sebuah curug dekat tempat tinggalku di kampung. Curugnya ada, alamnya ada, suasana pegununganya masih terjaga. Tapi populatitasnya hilang. Sebab dari awal memang yang diikutin selera netizen.

Baca: Jengah dengan wisata artifisial

Harapan aku, pariwisata 4.0 bukan sekedar milik staf kemenpar, tapi milik Indonesia. Anggaran ratusan juta buat lomba itu bisa kali ya dikurangin buat yang lebih berimpact. Atau lombanya jangan hanya buat netizen lah, adain lomba antar pengelola lokasi wisata. Mana yang udah 4.0 mana yang perlu dibenahi. Gitu lho? Maaf kalau terkesan ngajarin, mungkin udah dilakuin yang begitu tapi akunya aja yang nggak tahu.

Ada apa engga istilah milenial, wisata digital, atau wisata 4.0…piknik itu penting. Itulah inti dari inti tulisan ini.

Continue Reading

Indonesia | Traveling

Kampung Kapitan, Menelusuri Jejak Tionghoa Pertama Palembang

By on Februari 21, 2017

“Kenapa orang Palembang asli
kulitnya putih-putih ya?”

Itu pertanyaan saya saat berada di tingkat satu bangku kuliah. Saat mulai mengenal berbagai kultur, agama, suku, dalam atap yang sama asrama Tingkat Persiapan Bersama IPB. Ternyata, sejak runtuhnya kerajaan Sriwijaya…bangsa Tiongkok sudah masuk ke Palembang dengan niat berdagang. Jejak-jejaknya masih tersimpan di kampung kapitan kota Palembang. Setelah kemarin saya cerita soal rumah Letnan Tionghoa Pekalongan yang sekarang menjadi hotel the Sidji, kali ini adalah mengenai atasannya letnan…kapten alias kapiten tapi di Palembang.

Menyeberang Dari Benteng Kuto Besak

Mba Ira dan mba Nana memandu saya, mba Lutfi, dan Ghana…yang baru pertama kalinya ke kampung kapitan. Dari
benteng kuto besak, kami menyewa perahu ke sana…biar lebih berasa pikniknya. Sebenarnya bisa saja sih pakai mobil, hehehe.Kampung kapitan sudah terlihat dari benteng kuto besak dan jembatan ampera, tapi sungai musi yang mirip laut itu harus diarungi terlebih dahulu.
Perahu kami merapat di depan restoran yang bertuliskan ‘kampung kapitan’. Saya pikir, tulisan itu adalah gerbang ke kampung pecinannya Palembang, hehehe ternyata logo restoran. Gerbang kampung ada di belakang resto tersebut kok, ngga perlu berjalan terlalu jauh.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang
dermaga kapitan

Getaran Dari Masa Lampau

Beberapa langkah kemudian, nampak nyata di depan saya jejak masa lampau yang membawa getaran aneh. Seakan-akan, masih ada lalu lalang orang berpakaian abad ke-15. Lalu muncul orang yang berbadan tinggi, mungkin bangsa Belanda. Heheh..itu khayalan kok, tapi itulah yang kurasakan setiap melakukan heritage walk seperti ini.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang

Rumah Kapitan

Kapitan itu sama dengan kapiten, atau kapten. Jadi, para pedagang Tionghoa sejak dahulu menetap di kampung 7 ulu ini. Setelah Belanda datang, ada pembagian wilayah berdasarkan etnis dengan dikepalai seorang kapten. Makanya, kita sudah akrab sama kampung arab…kampung cina…dan sebagainya.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang
Konon di sini dulunya ada 15 rumah, tapi pas minggu lalu saya datang…tinggal 2 saja. Rumah tersebut berupa rumah panggung besar bergaya campuran  tionghoa, palembang, dan eropa. Rumah pertama yang saya masuki terbuat dari kayu, khas Palembang banget lah. Itulah rumah Kapitan atau rumah yang dari dahulu hingga sekarang dipakai sebagai tempat tinggal kapitan dan keturunannya.
Dari bagian teras, saya bisa memandang ke seluruh area kampung. Andai tidak ada bangunan di depan, mungkin
jembatan ampera akan nampak dengan jelas. Pintu tinggi, jendela tinggi, inilah aksen eropa di rumah sang kapitan.
Masuk ke dalam rumah, saya malah merasa seperti masuk ke rumah nenek saya dulu. Ruangan persegi panjang dengan 2 meja kayu di kiri dan kanan. Banyak lukisan dan foto di ruang ini, termasuk foto planet-planet yang saya tidak tahu maksudnya apa.
Ruang tengah diisi dengan altar doa dengan kamar di sisi kanan dan kiri. Nuansa merah, emas, dan gelap, memenuhi ruangan. Dari ruang altar, saya bisa melihatada halaman terbuka khas rumah orang Tionghoa. Dari teras tengah ini, saya melihat tanda-tanda bahwa rumah kapitan benar-benar masih dihuni.

Kantor Kapitan

Tepat di samping rumah kapitan yang didominasi kayu, ada bangunan yang eropa banget. Ternyata itu adalah
kantor kapitan yang dulu digunakan untuk aktivitas menerima tamu maupun pesta. Dari tangga, tiang, arsitektur…semuanya Eropa.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang
Berbeda dengan rumah kapitan, ruang utama kantor kapitan ini snagat luas. Mungkin, dulu sering ada pesta dansa di ruang ini ya hhehhe. Sekarang, ruang tersebut diisi altar doa yang setiap perayaan hari besar tionghoa selalu ramai.
Istilahnya, ini rumah abu. Para keturunan dari orang tionghoa kan masih suka ziarah ya, daripada susah mencara makam…berdoanya dari sini saja. Kurang lebih seperti itu peruntukan kantor kapitan saat ini.

Pagoda Di Taman

Bagian depan dari rumah dan kantor kapitan adalah area terbuka. Di bagian itu terdapat sebuah pagoda yang tingginya kurang lebih 2,5 meter. saat saya datang kesana, tidak ada aktivitas apa-apa kecuali anak-anank yang bermain.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang

Heritage Walk Selalu Menarik

Bagiku, heritage walk selalu menarik. Berkesempatan untuk masuk ke rumah bersejarah yang usianya sudah 400
tahun seperti ini sungguh menakjubkan. Biar lebih jelas soal kampung kapitantermasuk isi rumah serta kantornya, bisa tonton di video berikut:

Continue Reading