Tought

Tentang niat

By on Februari 24, 2019
“eh kok nggak niat banget sih nulisnya, masa cuma 100 kata” itu yang terbersit ketika aku melihat kembali postingan lama di blog ini, sekitar 2011. Saat ini jika diminta menulis 1500 katapun sanggup, nggak diminta juga kadang gitu sih sekalian panjang. So, jaman awal ngeblog itu bukan nggak niat tapi memang masih bisanya segitu. Lalu apasih niat sebenarnya?

Niat dari kaidah Fiqih

Ketika kita belajar ilmu fiqih, pasti deh bab pertamanya adalah soal niat. Hadits “innamala’malu binniyat” rasanya sudah di luar kepala. Semua perbuatan tergantung niatnya. Maka jika puasa kok lupa niat, maka nggak sah. Gitu kan?
 
Ada lafal yang harus kita ucapkan, ketika akan melakukan suatu perbuatan. Nggak harus dengan bahasa arab tentunya. Yang pasti, dari kaidah Fiqih jelas mengatur soal niat dan menjadi dasar sebelum ngapa-ngapain.

Niat dan kesungguhan

Dalam konteks kebahasaan sehari-hari, niat diartikan sebagai kesungguhan. Nggak niat berarti nggak sungguh-sungguh. Misalnya begini, aku berniat buat mengangkat meja kayu seberat 40 kg. aku mau geser ke pojokan sana. Udah ada tuh motivasinya kan? Nah, karena di tempat itu aku sendirian…aku nggak kuat angkat. Lalu aku pasrah, nah…itu sering diartikan nggak niat. Punya tujuan, punya motivasi, tapi nggak beres. Dianggap nggak sungguh-sungguh.
 
Dalam kehidupan sehari-hari niat memang sering dikaitkan dengan kesungguhan. Jadi, lebih sempit lagi disbanding pengertian niat dari pandangan fiqih. Motivasi ada, tapi upaya kurang sehingga hasil tidak sesuai yang diharapkan. Ya…niat sering dipandang dari sisi hasil.
 
Agak kurang fair ya, sebab kadang kita sudah melakukan A, B, C, D tapi hasilnya nggak sesuai harapan. Sedih kalau dibilang “nggak niat”. Bahkan kadang kita telah menggeser prioritas demi melakukan hal tersebut. Tapi ya…belum berhasil. Tawakal, menerima ketika kita telah berusaha. Sebuah sikap yang mulia dalam islam. Biar apa? Biar nggak serakah, manusia punya batasan.
 
“ah,,,itu alasan saja”. Kembali ke kasus menggeser meja. Faktor pengetahuan dan pengalaman hidup berefek banget buat pengambilan keputusan. Misal ada si A dan si B yang diberi tugas sama untuk menggeser meja 40 kg. si A niat, si B niat juga. Si A punya 4 cara untuk menggeser meja. Si B punya 2 cara saja. Ternyata keduanya belum berhasil menggeser meja. Tapi jika dipandang dalam konteks kehidupan sehari-hari, dianggap si A lebih niat dari si B.

Melihat kesungguhan dari mana?

Berkaitan dengan sebelumnya, niatan itu bisa dilihat dari kesungguhan. Lalu bagaimana melihat kesungguhan?
Jika seseorang memprioritaskan hal tersebut, maka dia sudah termasuk sungguh-sungguh. Menurutku loh ya. Dalam kasus menggeser meja, misalnya di saat yang sama seharusnya si A pergi ke sebuah meeting. Tapi karena belum berhasil melakukan tugas, si A tetap berusaha menggeser meja. Itu bisa dibilang niat. Meski ya belum bergeser juga tuh ke pojokan mejanya.
 
Bentuk upaya juga bisa dilihat untuk melihat kesungguhan. Misalnya nih, si B hanya punya 2 cara buat menggeser meja. Tapi caranya tuh ektrim banget. Dia pretelin meja tersebut menjadi bagian-bagian kecil. Ya lama sih dibanding dengan mendorong dikit-dikit, tapi namanya upaya kan bebas. Bisa dibilang si B niat banget.  

Usaha tak membohongi hasil

Pasti kita sering kan dengar kalimat bijak “usaha tak akan pernah membohongi hasil”. Artinya, jika kita berusaha sebaik-baiknya maka hasilnya juga akan maksimal. Ada ribuan cara memindahkan meja. Drai yang terprimitif hingga tercanggih. Tapi, karena keterbatasan daya pikir dan pengalaman kadang nggak dilakuin semua. Pun dengan kondisi lingkungan. Bisa saja si A dan si B panik sehingga nggak kepikiran cara
cerdas.
Niat di awal sebagai motivasi, lalu diikuti dengan kesungguhan untuk mencapai target, tapi jangan lupa juga usahanya. Dalam fisika, usaha dilambangkan dengan symbol W. W sama dengan gaya F dikalikan jarak perpindahan S. Gaya dan usaha itu berbanding lurus. Kita bisa menghasilkan gaya lebih besar jika usahanya juga besar.

Niat dan keberhasilan

Mendapatkan sesuatu yang kita upayakan, itu adalah tujuan dari semua hal yang kita niatkan di dunia ini. Sepakat? Motivasi, kesungguhan, prioritas, dan fokus. 4 hal yang diperlukan. Di atas aku belum nulisin soal fokus. Tapi ini penting ya. Meski aku niat banget bangun tidur di senin pagi nulisin curhatan ini, tanpa fokus nggak akan kelar deh 500 kata. Nulis di pagi hari memang minim distraksi notifikasi. Semoga kalian paham membaca tulisanku.

Continue Reading

Tought

A letter for me (20 years ago)

By on Desember 17, 2018

A letter for me (20 years ago)
Dear Inayah,
Hi, what are you doing? I will introduce my self, I am
Inayah from the future. Don’t be afraid, I don’t want to kidnap you. You might
wonder why I use English, this is related to this letter. I want to advise you
to study hard. Learn English as well as possible because this is very important
for your future.

What is it ‘to be’?

Just a quick question, do you know ‘‘to be’’? This is a
basic thing, and I am in the future having trouble to know it. Luckily the
technology is sophisticated, I can ask this to an English language tutor. I
will tell you about that.
‘to be’ is an auxillary verb or linking verb or in Bahasa it
can be said ‘to be’ an auxiliary verb. ‘to be’ needed in a sentence in English
because in each sentence in English requires a verb, and ‘to be’ helps v-ing
(present participle) and v-3 (past participle) to form a sentence.
Example:
1. I am cleaning the house. ‘to be’ (am) is needed because
we cannot say I cleaning the house. This sentence also becomes an active
sentence
2. The house is cleaned by us. ‘to be’ (is) needed because
we cannot say the house was cleaned by us. This sentence also becomes a passive
sentence.
‘to be’ in addition to v-ing and v-3 are also needed for:
1. a noun (noun)
2. an adjective (adjective)

‘to be’ was-were

I was a student in Bogor Agricultural University. What does
it mean? the statement was is mean ‘dulu’ not ‘telah. If we can say this is
called simple past. For the word ‘telah’ we can use have / has / had.
Example:
1. I have eaten (I’ve eaten) the present perfect.
2. She has eaten (she has / has eaten) the present perfect.
3. I had eaten when she came (I had eaten when she first
came) past perfect.
4. I ate (I used to eat, now I don’t eat anymore) simple
past tense.
5. I was eating (when I was eating, now I didn’t eat
anymore) past continuous tense.
6. I am eating (I am eating, now not finished) present
continuous tense.

 ‘to be’ in Bahasa

In Bahasa, one sentence is 1 subject and 1 predicate.
Predicates in Bahasa can be verbs or adjectives or nouns whereas in English the
title requires verbs (v1 and v2) or auxiliary verbs (‘to be’ + ving or ‘to be’
+ v3).

Example:
1. I am a teacher (I am a teacher)
2. She is smart (she is smart)
3. He is studying (he is studying)
Could you please translate the song from Avril Lavigne “I
wish you were here”?


And I remember, all those crazy things you said  
>> Dan aku ingat semua hal gila yang kamu katakan 
You left them running through my head 
>> Kamu membuatnya berputar-putar melintasi kepalaku
You’re
always there, you’re everywhere

>> kamu selalu ada di sana, kamu ada di mana-mana
But
right now I wish you were here

>> Tapi saat ini aku berharap kau ada di sini

All
those crazy things we did

>> semua hal gila yang kita lakukan
Didn’t think about it, just went with it
>> Jangan dipikirkan, jalani saja
You’re
always there, you’re everywhere

>> kamu selalu ada di sana, kamu ada di mana-mana
But
right now I wish you were here

>> Tapi saat ini aku berharap kau ada di sini

Damn,
damn, damn,

>> sialan, sialan, sialan
What
I’d do to have you

>> Apa yang harus aku lkaukan untuk memilikimu di sini (bersamamu
di sini)

Here,
here, here

>> di sini, di sini, di sini,
I wish
you were here

>> aku berharap kau ada di sini

This is the end of my letter. You don’t need to know what
the tenses are and what formulas or formulas. But if you understand the use and
can use it, it’s more important. Happy learning, don’t forget to play with your
friends and recite qur’an.

Continue Reading

Tought

5 Hal Membahagiakan Pagi Ini

By on Desember 16, 2018
soto mie Bogor
Kebahagiaan itu perlu ditulis. Nggak harus yang besar-besar semacam dapat hadiah barang mewah deh. Ketika kamu buka jendela dan merasakan kesejukan, sadarlah bahwa hal itu salah satu bentuk kebahagiaan. Jadi, suatu hari aku melihat postingan blog Listeninda, dia menuliskan hal yang bikin dia bahagia hari tersebut. Simple sih, dan ketika aku baca…kok aku ikutan bahagia ya. Okedeh, semoga kamu yang baca tulisanku juga ketularan bahagiaku ya.

Sarapan Soto Mie Bogor

Aku suka semua jenis soto di Indonesia. Dari yang berkuah kental hingga bening. Dari yang banyak sayurnya hingga yang dominan daging plus lemak. Dari yang rasanya gurih hingga pedas cenderung manis seperti soto Pekalongan Tauto. 
Tapi dari semua jenis soto tersebut, favoritku adalah soto mie. Kenapa? Karena soto mie itu rasanya segar. Kuahnya bening, ada permainan tekstur juga dari kriuk risol hingga empuk daging. Soto mie itu praktis, semangkok sudah berisi karbohidrat, protein, sayur. Jadi nggak perlu nambah nasi ya.
Pagi ini alhamdulillah bisa sarapan soto mie dekat komplek. Biasanya aku go-food sih, ini kok mumpung sempat lewat dan ada waktu lumayan. 

Motorku akhirnya dicuci

Adalah kemewahan bisa nyuci motor di hari minggu. Biasanya aku selalu sibuk kemana-mana atau kalaupun nggak pergi ya ndak sempat. Hari kerja? Jangan harap!! Ahahaha.
Padahal motorku ini dalam seminggu sudah nyemplung banjir yang cukup dalam sebanyak 2 kali. Kemarin aku sempetin banget ke tempat service motor buat cek semuanya termasuk ganti oli dan busi. 
Motor bagiku adalah sumber kebahagiaan sehari-hari. Kalau nggak ada motor ribetnya ya Allah, meski ada ojek online pun. Ngelihat motor dekil rasanya kasihan sama dia, tapi aku tak sempat nyucii huhuhu.

Beres ngedit video 

Kemarin memang tak terduga sih harus ngedit video. Tapi aku melakukanya dengan bahagia. Maksudnya, pas ngerjain pusing panik itu pasti ada. Tapi lega ketika render beres. 2 video dengan durasi 3 menit dalam waktu setengah hari. Rekor baru bagiku, terpecahkan!
Aku ngeditnya bukan di hape lho ya, pake adobe premiere pro. Jadi ini prestasi tersendiri. Ketika ngedit itu aku coba menenangkan diri dengan membayangkan hal-hal indah. Sejenis liburan, atau sekedar maskeran. Sungguh aku ngantuk banget sekarang, kurang tidur semalem.

Submit lomba Bank Indonesia

Sebenarnya aku sudah submit untuk lomba blog dan video Bank Indonesia 2018 dari beberapa hari lalu. Eh semalem dadakan manfaatin stock footage dan jadilah 1 vlog. Hemm..tapi tak semudah itu proses uploadnya. Karena mungkin servernya penuh atau gimana.
Buat yang pengen tahu aku nulis apaan, bisa cek di postingan ini.

Ketemu Sahabatku Laras

Tadi itu aku memang ada perlu ke Bekasi. Eh pas di stasiun nggak sengaja ketemu Laras. Semenjak Laras resign aku dan dia hampir ngga pernah ketemu. Palingan pas dia nyamper ke kos hujan-hujan itu. 
Aku itu suka ngobrol langsung sama orang. Face to face. Ngobrol lho ya, yang lumayan deep tentang kabar masing-masing bukan sekedar bicara sama kang ojek atau kang bubur. 
Chat bisa kapan aja, mau lewat platform manapun. Tapi nggak ada yang bisa gantiin ngobrol secara langsung kayak barusan. Apalagi kalau yang kita ajak ngobrol adalah orang positif. Bicara idea, bukan gosip apalagi hibah artis siapa lah gitu…heu.
Apa yang bikin kamu bahagia hari ini?

Continue Reading

Tought

Kartu Indonesia Pintar dan Kenangan Sekolah di Desa

By on Desember 13, 2018
Kartu Indonesia Pintar dan Kenangan Sekolah di Desa
“Eh kamu kok ga pernah masuk sekolah lagi? Mau mbolos po?” Tanyaku ke seorang anak dengan wajah lusuh.  

Sekolah SD di Bawah Pohon Pinus

Dia tak menjawab. Tapi raut matanya berkaca-kaca. Aku segera berlalu, karena sepertinya telah membuat perasaan dia tidak nyaman. Kejadian ini berlangsung ketika aku masih kelas 3 SD. Sangat dini bagi seorang anak untuk putus sekolah bahkan saat masih memakai seragam merah putih. Anak tersebut adalah tetanggaku, yang kondisi keluarganya sangat memprihatinkan. 

Aku menjalani Sekolah Dasar di desa, sekitar 40km di Selatan Pantura Jawa. Dengan fasilitas seadanya, sehari-hari kami menjalani hari-hari di sekolah yang ada pohon pinusnya itu. 

Pada masa itu, tak ada yang namanya beasiswa untuk anak kurang mampu baik dari pemerintah maupun swadaya sekolah. Teman seangkatan SD banyak yang mandeg di jalan. Selain kondisi ekonomi masyarakat desaku waktu itu yang kurang bagus, kesadaran akan pendidikan juga minim.

Secercah Harap Dari Selembar Kartu

Suatu hari saat aku sedang pulang kampung dan menonton televisi bersama ibuku, ada berita tentang masyarakat yang ramai membeli perlengkapan sekolah dengan KIP (kartu Indonesia Pintar).
KARTU INDONESIA PINTAR
Sumber: www.kemdikbud.go.id/

“Bu, kartu begitu cuma di Jakarta ap sampai sini sih?” 
“Sampe tho…tapi didata dulu, nanti ndaftar, trus dikasi kartu dan bisa dicairkan kayak di berita ini.” 

Program Indonesia Pintar yang menelurkan Kartu Indonesia pintar itu sampai desaku. 

Kemendikbud telah menyalurkan dana Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2018 sebanyak 16,8 juta siswa. Penerima PIP seluruh jenjang (SD,SMP,SMA dan SMK) sudah bisa mengambil dana melalui tabungan masing-masing.

Kartu Indonesia Pintar Buat Beli Apa Sih?

Salah satu penyebab putus sekolah adalah kurangnya biaya buat beli perlengkapan sekolah. Intinya kebutuhan personal lah ya, termasuk uang transport.

Ketika masuk SMP, sekolahku masih di desa juga…dan jaraknya lumayan jauh yaitu 10km. Sudah lintas kecamatan sih itu. Jaman itu ongkos angkot dan uang saku ditotal sehari 5000 rupiah. Kecil banget kan? Tapi bagi keluarga yang penghasilan harianya nggak menentu, angka segini gede. Bayangin tiap pagi harus ngeluarin nominal itu ngga peduli musim panas atau musim hujan.

Makanya, kartu Indonesia Pintar itu ibarat secercah harap banget. Tujuan dari program ini adalah untuk membantu biaya personal pendidikan bagi peserta didik miskin atau rentan miskin yang masih terdaftar sebagai peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Biaya personal pendidikan dimaksud meliputi: 

  • Membeli buku dan alat tulis; 
  • Membeli pakaian seragam sekolah/praktik dan perlengkapan sekolah (sepatu, tas, atau sejenisnya);
  • Membiayai transportasi peserta didik ke sekolah; 
  • Uang saku peserta didik; 
  • Biaya kursus/les tambahan bagi peserta didik pendidikan formal; atau
  • Biaya praktik tambahan dan biaya magang/penempatan kerja.

Kalau ada anak usia 6-21 tahun dalam usia sekolah yang belum punya kartu Indonesia pintar, coba deh kita bantu buat ngurus. Soalnya nggak ribet-ribet banget.
mendaftar kartu indonesia pintar
www.kemdikbud.go.id/


Rintisan Kemajuan Bangsa

Sekolah adalah tempat penyiapan generasi selanjutnya. Buat apa bikin kebijakan ini dan itu kalau pendidikanya tak dibenahi dari dasar, ya ngga? Selain pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, akses mendapatkan pendidikan yang layak ngga boleh dilupakan dari keberhasilan pemerintah. 

Aku si anak desa yang sekolah SD nya di bawah pohon pinus tadi suatu hari akhirnya bisa merasakan aroma kelas universitas di benua lain. Siapa sangka? Aku mau tetanggaku, sodara-sodaraku, juga ngerasain hal tersebut. Nggak ada lagi yang kesusahan buat biaya sekolah. Amin.
Ayooo sekolaaah…!

Continue Reading