Photography | Review

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

By on Februari 28, 2019

Satu tahun setelah pembelian kamera sony A6000, baru nulis reviewnya. Ahahha biar nggak bodong dan kredibel juga sih isinya. Kamera super mungil dan ringan ini aku beli buat ngegantiin Fujifilm XA2. Aktivitasku dengan kamera adalah seputar pembuatan konten untuk blog dan Instagram dalam bentuk foto dan video. Kalau preferensimu sama kayak aku, bolehlah pilih A6000 ini.

Alasan pindah dari Fujifilm Ke Sony

Kamera mirrorless pertamaku adalah Fujifilm XA2. Mungkin karena kamera pertama ya, jadi rasanya tuh belahan jiwa banget. Waktu beli aku belum tahu segala macam pencetan kamera. Maklum ya, selama ini cuma kenal kamera hape dan kamera pocket. Waktu aku beli Fujifilm XA2, kamera mirrorless masih asing. Kebanyakan orang punyanya DSLR

Baca: Alasanku memilih Fujifilm XA2 Mirrorless

Setelah menjalani panas dan hujan bersama hingga melintasi benua, Fujifilm XA2 kulepaskan. Alasannya sih mau cari kamera yang ringkes dan buat video stabil. Ehemm,,waktu itu mulai jadi hamba warp stabilizer. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, aku beli sony A6000 body only secara online.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Kelebihan Sony A6000

Ringkas dan Enteng

Sesuai dengan ekspektasi, sony A6000 memang enteng dang lebih ringkes dari Fujifilm XA2. Bahkan kamera ini dengan lensa fix 35mm dapat mausk ke tas kondangan ahaha. Rasanya nggak perlu beli tas kamera kalau gini.

Video stabil

Ini sudah kubuktikan, meski Cuma pakai tangan…hasilnya tak seburuk Fujifilm XA2. Ya untuk hasil terbaik pakai gimbal saja lah ya. Tapi sekiranya terpaksa banget mau bikin video handheld pakai sony A6000 sudah lumayan.

Banyaknya pilihan Lensa

Aku beli kamera sony A6000 body only ya, jadi belum sama lensa. Ya amu gimana motretnya? Tenang, sony itu pilihan lensanya buanyak dna murah-murah. Ada loh yang ratusan ribu doang. Selama setahun ini aku sudah mencoba beberapa lensa. Diantaranya lensa tele sony 55-210 mm, lensa fix Fujian 35mm f 1.8, Lensa fix sony 35mm f 1.8, Lensa sigma 35mm F 1.4 . semoga nggak bingung ya. oke aku bagikan hasil gambarnya ya biar bisa bedain satu dengan lainnya.

Lensa Tele Sony 55-210mm

Salah satu motivasi aku beli lensa tele adalah buat motert bulan. Ehehe, tapi ternyata lensa tele bagus juga buat photo portrait. Aku beli merek sony, bekas seharga 2jutaan.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Lensa Fix Fujian 35mm F 1.8

Ini lensa termurah yang pernah kubeli, 700ribu saja loh. Pengennya sih dapetin foto bokeh-bokeh gitu. Kalian tahu lensa fix kan? Itu loh yang nggak bisa zoom in zoom out. Ternyata Fujian ini memang superbokeh ya, tapi ku tak terlalu suka bokenya yang lebay. Kayak membentuk lingkaran gitu. Dan sepertinya kurang tajam.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma
portrait (no male up lagi panas2an di pasar baru)
Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma
contoh low light

Lensa fix sony 35mm f 1.8

Yay, kelemahan Fujian bisa aku hilangkan dengan ganti lensa sony fix f 1.8. urusna bokehnya alami bangte. Tajam dan warnanya memuaskan. Buat foto maupun video mumpuni deh. Waktu itu dapat lensa bekas yang masih buagus ini seharga 2 jutaan juga.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Lensa fix Sigma 35mm f1.4

Aku lupa alasan membeli lensa sigma yang merupakan lensa termahal yang pernah kubeli. 3 jutaan bekasnya, fiuhhh. Tentunya aku menjual semua lensaku untuk membeli lensa ini.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Kekurangan Sony A6000

Tidak ada Charger Eksternal

Kesan pertama ketika unboxing adalah kaget karena ternyata dalam paket pembelian nggak ada charger externalnya. Maksudnya bukan kabel ya, tapi adapter gitu. So, ketika mau ngecas kamera harus nancepin kabel langsung ke body.

Selain jadinya panas, kayak gini juga kurang efisien. Misal nih, aku lagi traveling lalu baterai habis. Yaudah, mau nggak mau ngecas dulu baru bisa motret lagi. Kalaupun ada baterai pengganti, kan ngecasnya musti di body.

Tapi tenang, adapter sejenis merek Kingma gitu yang bisa ngecas sampai 2 baterai di luar body nggak mahal kok. 70-100 lah kalau beli online. Di toko mungkin 200an. Waktu itu pas di Pasar baru malah aku ditawari seharga 500. Oh noooo.

Layar LCD belum bisa diputar

Buat yang suka vlog dengan gaya selfie, harap kecewa ya. sebab LCD A6000 belum bisa diputar loh. Aneh padahal seri sebelum-sebelumnya dengan kepala 5 sudah bisa diputar.

Tidak bisa dipasangi Mic

Aku sudah beli mic eksternal merek Boya seharga 800ribu. Nganggur banget nih silakan kalau mau dibeli. Soalnya sony A6000 nggak ada colokan buat mic eksternal. solusinya pakai recorder wireless, yang harganya lebih mahal ehehe.

Belum touchscreen

Kita sudah terbiasa mencet-mencet LCD nih, mungkin terasa rempong kalau harus mencetin tombol pas milih menu. Apa cuma aku yang mikir gitu?

Sony A6000 worth it to buy?

Bat pemula kayak aku atau yang preferensinya buat sehari-hari, silakan sih ini worth it. Dengan 6 jutaan untuk body saja ya. tapi kalau mau professional, ya kamu musti siapin budget buat beli lensa maupun wireless eksternal sepertinya. Juga charger dan baterai cadangan. Oiya cage atau pelindung buat body sebab kamera ini nampak imut sekali dan ngeri jatuh.

Setelah setahun bersama sony A6000, aku belum merasa memiliki kamera ini. Meski sudah eksplore banyak dan sering jalan bareng. Mungkin aku akan pindah ke lain hati, murtad, hmmm ganti ke Lumix gimana?

Continue Reading

Book

Review Buku Literasi Visual, Harus Dibaca Photography Enthusiast

By on Januari 21, 2019

Review Buku Literasi Visual
Membaca visual itu 60.000 kali lebih cepat daripada membaca
teks. Percaya? 

Apakah kamu termasuk yang sering bingung ketika ingin
menuliskan caption foto untuk Instagram? Ya memang segitunya, sampai-sampai ada
jasa pembuatan caption atau aplikasi caption generator. Pemirsa memang pelu
sebuah keterangan untuk sebuah foto meskipun itu hanya beredar di jagad Instagram
bukan di surat kabar. Kadang pemahaman akan foto belum kita miliki dengan baik
karena kurangnya literasi visual. Aku baru saja menyelesaikan membaca buku
berjudul “literasi visual”. Buku yang ringan tapi isinya padat dan bisa
langsung kita terapkan.

Identitas Buku

Judul: Literasi Visual
Penulis: Taufan Wijaya
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2018
Genre: Fotografi (semua umur)

Resensi

Ringan dibaca

Buku Literasi visual ini aku beli di e-commerce, bukan di
toko buku nyata. Biar mudah aja gitu kan, dan harganya ternyata lebih murah. Ketika
sampai, aku tak langsung membacanya, ndak sempat. Beberapa hari kemudian aku
harus melakuakn perjalanan ber KRL dari Cikarang ke Cikini. Kebetulan kereta
sepi karena belum jam pulang kerja. Alhamdulillah bisa khusyuk banget membaca
sampai kelar sebuku langsung saat itu juga.
Review Buku Literasi Visual

Menelaah Fotografi

Bab pertama buku Literasi Visual isinya tentang telaah
fotografi. Di sini aku mulai sadar, bahwa buku ini layak djadikan referensi
ilmiah. Tentu saja ini bukan buku trik memotret atau kamu tak akan menemukan
aturan-aturan settingan kamera.
Di balik itu, justru aku menemukan telaah mendalam tentang
apa itu fotografi. Jadi ingat waktu ikut sesi fotografinya Arbain Rambey di
Danone Blogger Academy. Mana foto dokumenter, foto jurnalistik, dan foto
cerita. Apa saja yang membedakan dan bagaimana sensor serta estetika dalam
sebuah foto.

Baca: Berkah Ngeblog, Masuk Danone Blogger Academy

Literasi visual berguna untuk memahami hubungan antara apa
yang kita lihat, apa yang kita pilih agar dilihat oleh orang lain, apa yang
orang lain pilih untuk dilihat, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana
kita melihat diri kita sendiri.

Budaya visual

Salah satu bagian yang menarik bagiku dari buku literasi
visual adalah tentang kemajuan dan budaya dalam fotografi. Foto prewedding
misalnya? Aku jadi berpikir jauh tentang ini. Perlukah itu buatku nanti?
Lalu tentang swafoto atau selfi, yang jadi budaya. Anyway
aku nggak suka foto selfi, silakan cek ke hapeku atau mirrorlessku deh. Hahahha.
Swafoto menampilkan eksistensi, mengukuhkan status, dan kadang menipiskan batas
antara yang privat dan publik.

Suara Perempuan dalam Fotografi

Sering banget sih ini terlintas di fikiranku. Kenapa model-model
foto itu sebagian besar perempuan? Pasti kalian akan menjawab “semua hal
tentang perempuan itu indah”. hmmm…hallo hallo fotografer perempuan, ayo dong
kita jangan ikutan pakai pikiran lelaki.

Etika

Yang tak kalah seru adalah bab tentang etika atau kesopanan
dalam fotografi. Sehari-hari masyarakat sering abai atas pertimbangan etis
ketika dengan begitu mudahnya menerima kiiman gambar kemudian membaginya
kembali. Apalagi di zaman sekarang, saat orang serba terburu-buru dalam
mengambil keputusan dan bertindak.

Rate

4.5 dari 5 bintang untuk Buku Literasi Visual. Cocok untuk
siapapun yang merasa tertarik dengan dunia fotografi. Bukan sekedar cuap-cuap
penulisnya, terbukti Taufan Wijaya menggunakan banyak sekali referensi dalam
penulisan buku ini (hingga perlu 6 halaman untuk menuliskannya).

Quotes

Ada bagian buku Literasi visual yang quotesnya merasuk
banget.
Pemaknaan foto dipengaruhi oleh pengetahuan tentang aspek
kultural dan historis, sehingga foto yang sama akan dimaknai berbeda oleh orang
yang berbeda budayanya, kelasnya, dan seterusnya.

Continue Reading

Blogging

Berkah Ngeblog 2018, Terpilih Ikut Danone Blogger Academy Batch 2

By on Oktober 10, 2018
Kalau kamu melihat cewek dengan kemeja hitam naik motor matic dengan gontai senin sore 17 Oktober 2018, mungkin itu aku. Di teras minimarket, smartphoneku berbunyi dengan nomor pemanggil berkode area Jakarta. Hmm, biasanya sih tagihan dari marketplace karena aku belum bayar belanjaan. Eh tapi aku salah, ini yang nelpon mas-mas bawa kabar gembira. Aku keterima Danobe blogger academy batch 2 dari 600 pendaftar lho. Semacam berkah ngbelog, ketika mendaftar aku nggak naruh ekspektasi tinggi. Dan sesuai dengan bayangan, Danone Blogger Academy beneran keren. Mau tahu?
Berkah Ngeblog 2018, Terpilih Ikut Danone Blogger Academy Batch 2
lagi konsul gratis sama dokter Clara ehehe

Ketemu blogger-blogger dan influencer senior dan jagoan lomba

Malam hari setelah ditelpon dari pihak Kompasiana, aku chat mba Evrina. Kalau kamu blogger, pasti tahu siapa dia. Lucky me! Dari melihat status mba Ev pada suatu hari, aku tertarik mendaftar Danone Blogger Academy. Dan akhirnya lolooooss. Bahagiaku membuat energi di badan bertambah berlipat-lipat. Padahal itu adalah hari yang melelahkan karena harus mencari paketan penting yang hilang entah di stasiun senen atau Jogja. 
Beberapa hari kemudian, aku mendapat mention di facebook dari mba Arin. Nah, baik mba Evrina maupun mba Arin ini alumni Danone blogger academy batch 1. Dan beliau adalah jagoan lomba, yang kebetulan 1 almamater dengan aku di IPB. Dari mentionan tersebut aku jadi tahu siapa saja 20 blogger terpilih di Akademi menulis Danone. Wow!!! Para senior dong. Aku melihat nama yang tak asing seperti mas Harris Maul, mba Yayat, Bang Zul.

Berkah Ngeblog 2018, Terpilih Ikut Danone Blogger Academy Batch 2
academia. ada yang kenal?
Ketika mendaftar kami diminta memasukan alamat sosial media, dan 2 tulisan terkait kesehatan. Dari sini aku makin nggak percaya sih kalau lolos, followersku masih seuprit dibanding mereka. Kualitas tulisanku juga rasanya jauh lah, secara dari mereka banyak yang sudah nulis buku lho. Tapi apa aku minder? Tentu saja tydaccc. Bukan Inayah kalau susah membaur, hheheh.

Melek tentang Nutrisi

Sebelum ikut Danone blogger academy, jujur saja aku nggak paham tentang stunting. Apalagi menu MPASI yang benar. Tahunya dari sekedar yang terbaca dan tergambar di sosial media. Di DBA, kami dipertemukan dengan para pakar langsung. Misalnya pak Doddy dari Kemenkes dan Dr. Klara yang membuka cakrawala aku soal nutrisi. Sempat terpikir apa jangan-jangan aku ini stunting? Ahaha semoga tidak.

Diajarin nulis

Namanya juga blogger pasti bisa nulis dong. Tapi bagaimana menciptakan tulisan yang berbobot, shareable, dan tentunya valid? Aku suka banget penjelasan mas Wisnu dari Kompas. Bahkan rasanya langsung tersugesti untuk nulis saat itu juga. Pesan dia,

Menulis itu diawali dari skeptic

Benar dong, kalau nggak skeptis sih langsung terima saja semuanya. Dengan skeptic kita jadi kritis, menggali lebih dalam, dan hasilnya bisa lebih lengkap karena disertai analisa. 
Tapi apalah artinya konten bagus jika informais didalamnya nggak valid. Mengandung hoax atau hate speech misalnya. That’s way ada pembicara yaitu ibu Niken dari Kemenkominfo yang memaparkan soal hoax dan infulencer top Jonathan End untuk materi ” digital Landscape in Indonesia & Future + Enchance Social Media Skill”.

Berkah Ngeblog 2018, Terpilih Ikut Danone Blogger Academy Batch 2
lagi ice breaking
Mas Jon serius banget asli pas bawain materi, ahhaha. Dia cerita soal yang terjadi di diunia sosial media saat ini. Trend podcast bakal meroket di Indonesia, dan memang sudah dimulai di 2018 ini. Aku tertarik, dan sedang dalam proses pembuatan anyway. 

Dilatih bikin foto dan video

Yang bikin blog jadi berwarna adalah ilustrasi. Foto dan video. Jaman kemarin sih, foto cukup. Kalau sekarang, harus pakai video juga ahhaha. Nyatanya aku snediri lebih mudah nerima informasi dalam bentuk audio visual dibanding tulisan. 
Berkah Ngeblog 2018, Terpilih Ikut Danone Blogger Academy Batch 2
lagi nanya soal video

Ada Meizal Rossi lho ngajarin bikin video, dia yang videonya di youtube asli sinematis banget. Para peserta Danone blogger academy diminta praktik dan langsung direview. Seru banget dan tentunya sangat bermanfaat. Untuk sesi ini, aku sudah nulis secara lengkap lho. 

Arbain rambey
om Arbain bikin suasana cair
Menurutku, sesi paling cair dari 3 hari Danone blogger academy adalah saat Arbain Rambey bercerita tentang fotografi. Iya, aku bilang bercerita alih-alih memaparkan materi. Karena beliau ini senior, daripada ngajarin teknis mendingan memang begini ya didongengin pengalamannya yang seabrek-abrek. Ada sesi latihan meotret juga lho dan langsung direview. 

Berkah ngeblog 2018

Nggak berlebihan kalau aku bilang ini berkah ngeblog 2018. Setahun ke belakang aku jarang banget ikutan lomba blog. Bahkan update blog saja mengendur. Lagi banyak project atau memang duniaku lagi ruwet banget dah ahahha. Tapi dengan keikutsertaanku di Danone blogger academy ini, aku merasa bermetamorfosis sebagai blogger. 

Continue Reading

sponsored

Sofa minimalis, Objek Foto Yang Menarik

By on
Salah satu hal yang mengalihkan perhatianku ketika berkunjung ke kafe, hotel, atau tempat baru adalah furniturenya. Aku bukan anak desain interior sih, tapi memang suka menjadikannya sebagai objek foto. Dibandingkan dengan makhluk hidup di dalam sebuah ruangan, keberadaan perkakas lebih menarik perhatianku. Sebut saja sofa minimalis atau meja klasik. Sebuah sofa bisa dieksplor lebih banyak. Diletakan buku di atasnya, diisi dengan makanan, atau dibiarkan begitu saja.
Sofa minimalis, Objek Foto Yang Menarik

Hunting sofa minimalis

Suatu hari aku lagi nyari sofabed di sebuah toko meubel di Pekalongan. wow display roomnya luas banget 2 lantai. Semacam Ikea mikro lah ehehe. Banyak orang mengira bahwa harga sofa minimalis jauh lebih terjangkau dan lebih murah jika dibandingkan dengan sofa-sofa yang bentuknya lebih ruwet dan jauh dari kesan sederhana. Tapi sebenarnya tidak. Karena harga sofa minimalis seperti sofa-sofa lainnya sangat bergantung pada bahan rangka yang digunakan, jenis busa yang digunakan, serta bahan kain pelapisnya.

Tips menjadikan perabot sebagai objek foto

Sekarang coba amati sekeliling, apakah ada sofa minimalis? Kesannya maksa banget ya ahaha. Tapi aku seperti punya ikatan kuat dengan perabot ini. Apa sih kelebihannya?
memotret sofa minimalis
1. Sofa minimalis sedang trend. Mengikuti trend adalah cara paling mudah untuk menentukan perabot rumah tangga yang akan diletakkan di ruang tamu khususnya, agar tetap terlihat up to date dengan zaman
2. Sederhana. Sofa minimalis yang menganut desain simple dalam perancangannya terkesan tidak berlebihan. Dan justru enak dipandang karena kesederhanaannya
3. Fungsional. Sofa minimalis cenderung lebih fungsional dibandingkan dengan sofa model konvensional. Sofa yang dirancang dengan sangat sederhana seringkali tidak hanya bisa digunakan untuk membentuk sebuah tempat duduk yang nyaman. Melainkan juga bisa diubah sedemikian rupa agar berubah fungsi menjadi tempat tidur. Selain itu, sofa seperti ini juga kadang-kadang bisa diubah tampilannya hanya dengan memindahkan dudukan atau sandaran sofa
4. Multifungsi. Sofa minimalis mudah menyesuaikan diri dengan berbagai jenis ruangan sehingga tidak hanya bisa ditempatkan di ruang tamu saja, sofa-sofa seperti ini juga bisa ditempatkan di pojok ruang keluarga, bisa dimasukkan ke kamar tidur, dan bahkan bisa diletakkan di taman (outdoor) tanpa terlihat aneh
5. Multi-transform. Lebih mudah diatur karena bentuknya yang sangat sederhana baik itu yang terdiri atas sofa single seater, sofa double seater, daybed, hingga sofa bed
Tuh aku sampai bisa menjabarkan seperti itu lho ahhaa. Tapi kenyataanya aku belum punya perabot ini. Nanti saja deh kalau sudah punya rumah sendiri, amiiin.
Kalau kamu suka dengan jendela, tempat tidur, atau meja makan juga tidak masalah. Tipsnya kurang lebih sama kok. 
Point of interest. Ingat ya, kita akan memotret perabotnya. Jadi jangan sampai property lain lebih menarik dari si perabot tersebut.
Cahaya. Nggak harus terang, foto dengan gaya lowkey yang gelap-gelap gitu juga lagi trend kan? Yang penting adalah atur sekiranya nggak noise dan nggak over exposure (jika mau foto terang).
Pemanis. Kadang sebuah foto yang terlalu banyak negative space terkesan mati. Berilah sentuhan cerita di sana. Buku, mug, atau boneka mungkin, atau sesuatu yang nampak di sekitar kamu (biar nggak ribet nyari props foto ahahha).
Jadi gimana? Kamu suka memotret perabotan juga? Apa sih nama gaya foto kayak gini tuh, kalau motret makanan kan foodphotography, kalau motret sofa apa ya?

Continue Reading