Review

Mengambil Paket Di Warehouse JNE

By on Juni 12, 2018
Mengambil Paket Di Warehouse JNE
Sudah menjadi rahasia umum kalau menjelang lebaran, ekspedisi pasti overload. Apalagi di bulan ramadan ada flash sale berbagai ecommerce yang makin menambah aktivitas kirim mengirim makin banyak. Sudah tahu begitu, aku harus nungguin paketan dari sebuah toko online karena dia ngirimnya telat mepet lebaran. Karena aku juga dikejar deadline mudik, jadilah paketan tersebut kuambil sendiri ke warehouse JNE.

Overload fenomena

Jasa ekspedisi semakin banyak, yang sudah establish juga semakin kuat…tapi kok masih saja ada overload jelang lebaran ya? Bukannya menjadi sebuah hal yang dimaklumi, seharusnya malah ada perbaikan di tahun-tahun berikutnya. Pasti dong ada caranya biar nggak merugikan konsumen.

Jangan Pakai paket REG

Hasil pantauan jelang lebaran, pihak JNE memang memprioritaskan paket YES. Ya, YES saja masih bisa meleset kok gmana REG kan? kalau kamu nggak buru-buru mau mudik, atau barang yang dikirmkan nggak terlalu penting sih ngga masalah.

Paketan Penting

Jadi ceritanya aku lagi nunggu paketan yang penting dan mendesak. Masalahnya si toko dimana aku beli barang baru ngirim h-1 mudikku. Udah gitu, ngirimnya pakai Reg pula. Meskipun jaraknya dekat dari Jakarta ke Bekasi, tetap saja dimasa overload siapa bisa jamin 1 hari nyampe?
Demi paketan tesebut aku batalin tiket mudikku. Kebetulan memag sudah dapat cuti sih. Jadi, aku gunain 1 hari cuti tahunanku buat ngurusin paketan JNE yang terlalu mepet lebaran.

Prosedur pengambilan paket di warehouse

Tak terhitung berapa puluh ribu aku habisin buat nelpon ke customer service JNE. Kayaknya memang lagi sibuk banget, waktu tunggu nyambungnya bisa 5 menitan. Aku nelpon buat mastiin tuh paket udah sampai warehouse Bekasi apa belum.
Dari jam 2 malam, aku pikir jam 8 pagi data resi sudah berubah dong sampai warehouse. Eh belum nyampe. Akhirnya aku ke kantor JNE yang di jalan jenderal sudirman Bekasi. Ternyata itu bukan warehouse, tapi cuma kantor pengiriman saja.
Oleh mba CS disana aku diberi alamat yang sangat jelas pakai peta ke warehouse JNE cikarang Cibitung di daerah Kalimalang Tambun. Naik gojek dari situ sekitar 11 km an, melewati kota Bekasi yang puanas dan berdebu.
Sampai di gudang, aku terkejut. Ternyata beneran gudang lho. Gede gitu. Pagarnya semi permanen, atapnya seng, dan kantornya nyempil di belakang. Aktivitas bongkar muat lagi rame banget. Sampai di kantor, aku nulisin nomor resi dan nggak berapa lama dipanggil. Ternyata paketanku statusnya masih ON THE WAY dari Jakarta.
Aku diminta pulang lagi dan mencoba cek terus di website JNE hingga sore. Sebelum pulang aku nanya dulu jam berapa tutupnya. Untuk warehouse JNE buka 24 jam, tapi pengambilan barang dari jam 8 pagi hingga 9 malam. Okelah aku pulang lgi, ojek sekitar 14km.
Dalam penantian paketan, aku tertidur di bawah AC. Dalam tidur siang itu, aku mimpi mengecek resi JNE di websitenya dan melihat status paketanku sudah sampai warehouse Bekasi. Sungguh mimpi yang sangat random bukan? Harusnya mimpi minum es teh aja sih ahhaha.
Tapi, ternyata mimpiku menjadi nyata di sore harinya. Tepatnya pukul 17.27 wib. Status paketanku fix sudah di warehouse. Posisiku saat itu on the way stasiun Gambir, baru sampai Jatinegara. Okelah aku putuskan balik arah ke Bekasi lagi dan melintasi wilayah kalimalang yang sudah penuh pemudik.
Mengambil Paket Di Warehouse JNE
 
Dengan modal tenaga dari sebatang coklat coco crunch, aku sampai di warehouse Cikatung Tambun pada pukul 19.30 wib. Langsung deh nulisin nomor resi dan 5 menit kemudian paketanku sudah di depan mata. Dan 1 jam kemudian aku sudah di KRL menuju stasiun senen. Mudik.

Jadi, kalau kamu mau mengambil sendiri paketan di warehouse JNE bisa kok. Syaratnya adalah membawa KTP dan nomor resi. akan mudah kalau kamu adalah penerima paket ya. kalau kamu bukan penerima, perlu surat kuasa.

Continue Reading

Review

Cara Packing Paketan Agar Tidak Ditolak Jasa Ekspedisi

By on Mei 15, 2018

 

Cara Packing Paketan Agar Tidak Ditolak Jasa Ekspedisi

Seberapa sering kamu mengirimkan paket lewat jasa ekspedisi? Mungkin ada yang setiap hari ya, maklum jaman sekarang urusan jual beli bisa jarak jauh. Keberadaan jasa ekspedisi pengiriman juga semakin mengakomodir. Kalau dulu rasanya cuma POS saja tempat mengirim
paketan. Sekarang setelah JNE, JNT, eh muncul Wahana, Ninja, dan jasa pengiriman lain termasuk yang menggunakan kereta api. Dari sekian banyak pengalaman ngirim paket, pernah nggak sih ditolak sama jasa ekspedisi dan terang-terangan disuruh ganti ke ekspedisi lain? Biar ngga kejadian, aku maubagi ceritaku soal cara packing paketan yang baik.

Paketan Ditolak JNT karena packing tidak baik

Sebelum menuliskan ini, aku sempat membuka websitenya JNT. Aku nyari standar packing yang baik itu seperti apa. Penjelasan detil malah aku dapatkan di websitenya PT Pos Indonesia. Jadi gini, beberapa waktu lalu aku mau mengirimkan paketan berupa catridge printer. Packingnya berupa kardus dengan menggunakan kardus asli catridge tersebut. Di dalamnya sudah ada bubble warp tentunya. Sedangkan pada bagian luar, kardus dilapisi selotip 100% alias menyeluruh. Sebelum ini, aku pernah mengirim paketan dengan bentuk serupa lewat JNE dan Tiki.
Cara Packing Paketan Agar Tidak Ditolak Jasa Ekspedisi
Entah sedang banyak pikiran atau bagaimana, petugas JNT terang-terangan menolak paketan bahkan menyuruh untuk pindah jasa pengiriman saja. Alasannya packing paketan tidak sesuai standar. Katanya, seharusnya diberikan bubble warp (bukan bubble warp yang biasa dipencet itu lho).
Daripada eyel-eyelan semakin panjang, yasudah paketan itu berpindah ke JNE. Yey, dan Alhamdulillah ngga dikomplain sama sekali. Apakah aman sampai ke tujuan? Ya, aman dan tidak ada cacat sedikitpun pada barang yang dikirimkan tersebut.
Cara Packing Paketan Agar Tidak Ditolak Jasa Ekspedisi

Ketahui Jenis Bahan Packing Yang Tepat

Sebelum memilih bahan packingyang tepat, kita harus tahu dulu apa yang akan dikirim ahhaha. Packing itu komponen yang nggak gratisan kan? Jadi ya harus seefisien mungkin. Misalnya aku mau mengirimkan remote AC, rasanya nggak perlu pakai packing kardus tebal. Cukup buble warp atau malah pelapis Koran saja sebagai bantalan. Berikut ini jenis-jenis bahan untuk packing.

1| kertas kado atau amplop

Aku beberapa kali mengirimkan buku, pakaian, menggunakan ini. Semua aman dan nggak ditolak saja ekspedisi pengiriman.

2| Kardus

Ini packing paling standar sih, apapun itu emang bagusnya dikardusin. Nggak hanya perangkat elektronik, alat kosmetik dan peralatan rumah tangga juga seperti itu. Untuk saat ini, jasa ekspedisi Ninja yang ngasih cuma-cuma packing kardus. Bentuknya juga bagus gitu jadinya sih.

3| Buble warp

Ada beberapa jenis bubble warp yang digunakan dalam packing paketan. Biasanya sih bubble warp yang bisa kita pencetin itu hahaha. Ada lagi lho bubble warp yang lebih mahal dan mampu menahan guncangan lebih baik. Itu bentuknya satuan, bubble warp ini biasanya ikut
dalam pembelian alat elektronik berukuran besar atau mesin.

4| Styrofoam

Nah, kalau Styrofoam agak jarang sih. karena biasanya toko atau produsen besar saja yang mencetak Styrofoam sesuai patern produk yang akan mereka kirim. Udahlah aman banget kalau ada Styrofoam dalam packingan. Konsekuensinya ya lebih mahal dan berat.

5| Packing kayu

Untuk alat elektronik atau pecah belah berukuran kecil hingga sedang, sebaiknya menyertakan packing kayu. Beberapa jasa ekspedisi memberikan pelayanan untuk mempackingkan kayu barang semacam handphone, tentunya dengan biaya tambahan. Setidaknya kita nggak perlu modal tenaga nyari kayu dan makuin paketan kan?

Sertakan kelengkapan alamat

Meskipun bentuk packingan paket sudah sempurna, bisa saja jasa ekspedisi masih menolak lho kalau nggak ada keterangan yang jelas. Penting mencantumkan alamat penerima beserta nomor handphone, begitupun dari sisi pengirim.
Nggak mau kan, repot paketan hilang karena salah nulis kode pos misalnya? Aku pernah mengalami kejadian paketan JNE CRISS CROSS dan itu ngurusnya agak memakan waktu. Inginnya sih urusan kirim mengirim paketan lancar dari saat di jasa ekspedisi hingga barang
diterima.
Pernah juga aku mengirimkan buah
dengan packing berupa karung plastik. Diterima sih oleh jasa ekspedisi, tapi
buahnya keburu matang di jalan jadi banyak yang busuk (karena kepanasan). Ada pengalaman
mengenai packing paketan? Yuk berbagi di kolom komentar.

Continue Reading

Review

Jika Paketan JNE mengalami Criss Cross (tertukar)

By on Januari 5, 2017
Pagi ini saya merasa lega setelah melakukan tracking paketan JNE. Akhirnya status barang DELIVERED juga. Penantian panjang 10 hari, follow up Jne pusat juga agen dimana saya mengirimkan paket sudah dilakukan. Ini pertama kalinya saya mengalami problem bernama CRISS CROSS saat mengirim barang menggunakan JNE. Sebelumnya, saya tidak mengetahui apa itu CRISS CROSS. Untunglah teknologi sudah canggih, komplain ke JNE bisa dilayani via twitter dengan cepat. Kerjasama antara penerima, pengirim, Pihak agen, dan JNE sendiri harus ada agar CRISS CROSS cepat terselesaikan. Pengalaman ini menjadi pelajaran untuk saya agar lebih teliti lagi saat mengirimkan barang lewat jasa ekspedisi.

Apa Itu Criss Cross

Sekitar tiga hari sejak pengiriman barang, saya mulai tracking nomor resi lewat situs online JNE. Terlihat paketan saya sudah sampai Jakarta, alhamdulillah. Tapi, kenapa receivernya CRISS CROSS? Awalnya saya pikir ini nama orang, tapi STATUS masih ON PROSES.
Setelah cek di google, ternyata CRISS CROSS adalah istilah untuk paketan yang tertukar. Bisa juga terjadi jika alamat di resi berbeda dengan alamat yang ditulis pada paket. Apa? Trus gimana? Ketika saya cek lebih teliti ke lembaran bukti kirim (sebut saja kertas resi) terlihat jelas bahwa agen JNE tempat saya mengirimkan paket salah tulis alamat. Di paketan saya sudah menulis alamat tujuan di Jakarta Barat. Yang tertera pada kertas resi, alamatnya di Jakarta selatan. Fatal sih menurut saya, karena di sistem jadinya terdata sebagai paketan ke Jakarta Selatan kan? Paketan tidak akan menemukan alamat, alamatnya palsu.

Jangan Panik

Ketika mengetahui telah terjadi kesalahan pada agen, saya langsung menghubungi agen JNE yang bersangkutan. Dari agen itu, saya dilempar ke agen JNE pusat Pekalongan. komunikasi masih manual dengan telepon, alhamdulillah nomornya se-provider dengan saya semua jadi bisa gratiiiss hahaha. Dari JNE Pekalongan, saya dilempar lagi ke bagian outbond.
Jika ini paket isinya barang murah sih saya ngga terlalu heboh. Kebetulan sedang ada transaksi dengan sebuah e-commerce. Paketan yang CRISS CROSS ini isinya smartphone yang hendak saya return karena tidak sesuai harapan. Jadi, di sisi lain saya ditekan juga oleh pihak e-commerce juga penjual.

Komplain Lewat @JneCare

Merasa alur yang tidak jelas, langsung saja saya  by pass ke twitter @jnecare. Modal paket data doang ya kan? Sepertinya memang banyak yang komplain lewat twitter, tapi sabarlah pasti punyamu kebagian dibalas kok. Jawaban pertama, saya diminta mengirim direct message berupa alamat penerima secara lengkap beserta nomor telepon.
Sering-sering saja untuk follow up status laporanmu ya, paling nggak sehari sekali. Paketanku ini beres 5 hari setelah saya membuat laporan.

Pentingnya kode pos

Jangan sepelekan kode pos ya, karena andai saya menuliskan kode pos di paketan…CRISS CROSS kemungkinan tidak akan terjadi. Kalau kamu nggak tahu kode pos nya berapa, cek di google saja. Kejadian kemarin itu, si penerima memang tidak memberikan kode pos.

Telepon Juga Penting

Nah, biasanya sih agen JNE mewajibkan pengirim memberikan nomor hape yang bisa dihubungi milik pengirim serta penerima. Kebetulan saya lupa menuliskannya di paketan, tapi pihak agen tidak mempermasalahkannya. Ini fatal.

Cek Alamat Pada Resi

Sudah bertahun-tahun saya memakai pos Indonesia, Tiki ataupun JNE untuk mengirimkan aneka macam barang. Setiap menerima resi, fokusnya di biaya sama nomor resi saja. Mulai sekarang, coba cek alamatnya. Barangkali ada typo atau hal yang kurang lengkap.

Standar Pengiriman Paket

Kalau mengirim paket, nggak mesti di agen tertentu sih. Nah, biasanya semua agen itu punya standar yang sama. Ini adalah standar yang biasanya harus dilewati:
  • Pengirim memberi tahu Isi paketan
  • Pengirim memberi tahu harga barang
  • Pengirim memberi tahu nomor telepon
    pengirim dan penerima
  • Agen mewajibkan kotak kayu jika
    isinya barang elektronik
Saat pengiriman kemarin itu, hanya nomor 1 saja yang dilalui. Selanjutnya semua terserah pengirim. Kita sebagai konsumen harus proaktiv ketika menggunakan jasa ekspedisi. Kasus CRISS CROSS tidak perlu terulang lagi meski mengurusnya juga tidak terlalu rumit karena bisa diproses customer care JNE.
Kamu punya pengalaman serupa?

Continue Reading