Photography

Mau serius bikin video

By on November 24, 2017
Seketika aku lari menyambar
handuk saat terbangun dari tidur tadi pagi. Bukan hal yang biasa untuk kembali
terlelap usai subuh, tapi rasanya akupun nggak sadar kalau aku ketiduran (lagi). Malamnya
hingga dini hari aku masih membuat story board untuk vlog singkat. Ya,
kesibukan seperti ini memang baru mulai aku jalani akhir-akhir ini. Tapi ya
gitu, akunya masih bandel dan ngga maksimal kalau bikin video. Padahal sarana
dan prasaran mencukupi, oke…mulai hari ini aku mau serius bikin video.
inayah Mau serius bikin video

Vlog 10 tahun lalu

Tanpa sengaja aku pernah
menemukan vlog jaman masih ngerekam pakai hape nokia jadul. Format file 3GP,
tanpa konsep, tapi ya pede banget diupload ke youtube. Akun youtubenya sudah
kulupakan passwordnya, biarin lah. Basically aku emang suka ngerekam, terutama
sejak mulai kenal hape berkamera ahahah.
Urusan ngomong depan kamera juga
ngga grogi-grogi amat kok. Aku enjoy banget kalau bikin video, dan ngga harus
nunggu momen piknik buat ngerekam. Kalau ngecek file di laptop sih, banyak
banget momen keseharian jaman old yang tersimpan.

Ngga maksimal

Setahun lebih aku punya kamera
mirrorless, Fujifilm XA2. Bukan kamera yang wow sih untuk bikin video, tapi ini
sudah cukup untuk ngevlog dengan layak. Masalahnya kenapa aku baru sekarang
kayak yang kenalan gitu lah.

Baca: Review kamera fujifilm XA2

Nulisin ini antara malu sama
pengen nangis. Setelah diingetin kalau kualitas videoku itu ya malu-maluin. Padahal
aku subscribe dan rajin nontonin tutorial cinematography, suka nonton film,
suka merhatiin detail visual. Kemalasan itu harus dilawan, ya pakai pemaksaan
salah satunya.

Yang aku pikirkan

Tampilan cinematic dari sebuah
video bisa nyampein pesan lebih banyak daripada foto apalagi tulisan. Belum lagi
kalau ditambah musik yang sesuai, camera movement dramatis, narasi menggetarkan,
color grading yang membuat mata nyaman, dan footage antimainstream.
channel youtube innnayah
channel youtube aku

Hal-hal kayak gitu sudah ada di
pikiran, tapi eksekusinya itu masih terasa berat. Harusnya sih engga ya, toh
yang bikin video bagus udah bejibun. Ini tandanya ngasilin video cinematic itu
ngga susah. Semua orang bisa, ini hal yang bisa dipelajari dan ilmunya ada
dimana-mana.

Sedikit takut

Aku emang ngga takut buat ngomong
dan nampil depan kamera sekalipun. Yang aku takutin justru videoku malu-maluin.
Kualitas rendah, konten sampah, ngga layak dilihat apalagi dapat likes. Ketakutan
macam apa ini? Eh…apa ini wajar atau justru aku sakit jiwa? Ahahaha.
Aku tahu ini ngga bener sih,
justru kritikan atau dislikes itu jadi pacuan. Setiap orang pernah di level
cupu, newbie, konyol, norak, atau apapun itu dalam setiap hal yang dilakuinnya
meski dia suka banget.
Huhuuu lagi-lagi pengen nangis sambil garuk tembok.

Janji bakal serius

Awal bulan lalu bahkan aku
menyengaja beli laptop baru dengan spesifikasi yang sekiranya mumpuni buat
ngedit video. Belajar software adobe premiere buat ngedit, belajar teknik ini
itu dari youtube, tapi prakteknya masih minim. Malas dan takut jelek jadi kendala utama.
Selepas nulis ini, aku janji
bakal bikin video lebih serius. Bukan demi subscriber, likes, tapi demi bisa
nyampein pesan lebih baik lewat media tersebut. Aku nggak tahu pintu surga mana
yang Allah bakal bukain, siapa tahu dengan cara ini.
 Someone barusan membisiki aku agar jangan main-main saat
melakukan apapun, intinya ya memaksimalkan semuanya termasuk gear dan aneka
pritilan yang telah dimiliki.
Kamu sedang serius jalanin hobi
apa? Atau juga lagi sama denganku mau serius bikin video? Coba dong share di
kolom komentar.

Continue Reading

Tought

Progres Satu Bulan Belajar Biola

By on Oktober 30, 2017
Lapangan gemek Kedungwuni nampak
ramai di minggu pagi, meskipun sebenarnya orang Pekalongan lebih banyak yang
libur di hari Jumat. Di tengah area taman, nampak seorang wanita berjilbab yang
menggesek biola dengan nada fals. Tangannya kaku memegang bow, hingga sesekali
pria di sampingnya membenarkan posisi gesekan biola tersebut. Jangankan
memainkan lagu, mengesek dawai secara bebas saja memprihatinkan. Itulah aku,
sebulan yang lalu pada hari pertama memegang alat musik gesek bernama biola.
biola vienna


Kuliah dan Lagu Tanah Air

Aku itu baru memperhatikan biola
di jaman kuliah, memang telat banget sih. Di tingkat pertama, saat masih
tinggal di asrama aku sering melihat seseorang entah siapa berlatih biola. Sore
hari biasanya, dia berdiri sendirian di bawah gedung Toyib Hadiwijaya fakultas
Pertanian.
Ketika sudah masuk jurusan, adik
tingkatku yang namanya Dea sering nampil di acara-acara. Salah satunya  pas ada kuliah nyampur lintas angkatan. Kok aku
lupa ya itu kuliah apa, sehingga tiap akhir kelas selalu ada acara nyanyi
bersama. Dea ini bawain biola, ada yang main gitar entah siapa namanya, dan
teman sekelasku Asa nyanyi.
Lagu tanah air dengan iringan
biola itulah yang paling terngiang di telingaku. Saat itu aku menganggap biola
adalah alat music yang mustahil akan bisa kumainkan. Background music aku hanya
pemain marching band yang ngga paham not balok. Kalau rebana sih, hayuk aja
kita mainkan hahaha.


Ketemu coach biola

Tahun demi tahun berlalu,
kemampuan musikalitasku tak ada perkembangan sama sekali. Yaiyalah, wong ngga
belajar kok meski aku tahu bahwa belajar musik itu bagus buat otak. Pada suatu
malam, dalam obrolan yang tak berhubungan dengan music sebenarnya…tercetuslah
kata “biola”.
Sebuah video 3 detik masuk ke
pesan whatsap berisi penampakan tangan yang memainkan tuts piano.

Coach: belajar piano
Me: 3 detik doang, lagi JCoach: masih belajar, kaku banget
ya JMe: aku anak marching band pas
SMP
Coach: aku lebih bisa main biola
Me: serius?
Coach: yap, boleh aku ajarin?
Me: Mau, tapi gapunya biola
Coach: beneran yaa, mau diajarin

Mulai detik itu, ada satu bagian
dari diriku yang selama ini hibernasi rasanya terbangun tiba-tiba. Apalagi saat
coach aku bilang bahwa musik itu bukan soal bakat ngga bakat, semuanya bisa
asal mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Beli biola pertama

Beberapa jam setelah sesi latihan
pertama di lapangan gemek Kedungwuni, aku beli biola secara online. Sebelumnya coach
sudah ngasih panduan biola kayak gimana yang cocok untuk pemula. Yang pasti
sih, jangan sampai salah beli biola ukuran anak-anak ya kalau kamu sudah gede
ehehhe.
Biola merek Vienna seharga
600ribu lengkap dengan tambahan shoulder rest tiba keesokan harinya di
tanganku. Sebelumnya aku sudah pesan kepada penjualnya untuk sekalian melakukan
penyeteman (setting senar) pada biola tersebut. Jadi, pas biola datang aku
langsung bisa nyoba.

Do-re-mi nya gimana?

Inilah yang aku bingungin jaman
dulu, nentuin nada di biola tuh kayak gimana ya? kan nggak ada batasan kayak di
gitar atau piano? Yaps, pakai perasan sodara-sodara. Tapi, karena aku masih
tahap belajar bolehlah pakai alat bantu. Tutorialnya sudah banyak di youtube,
kamu bisa lihat aneka cara dari pakai tip X hingga selotip bergambar chord.
Pada suatu malam di stasiun
Pekalongan, coach aku membantu menempelkan selotip-selotip hijau itu pada freet
biola. Nah, jadi sedikit ada panduan tempat memencet senar dengan benar
sekarang. Kalau mau tabulator fret biola yang lengkap banget, yang jual
stickernya juga banyak kok.

Lagu Pertama Yang Kubisa

“Pemanasan dengan doremi di dua
senar paling engga 30 menit” begitu pesan coach.
Jadi, setiap malam sepulang kerja
aku punya kesibukan baru. Latihan nada dasar buat lemesin jari dan tangan,
nonton aneka macam tutorial, dan sedikit demi sedikit berlatih lagu. Yang mudah
saja lah, bukan lagu Akad nya payung teduh kok. You know ‘Twinkle little star’?
yak, itu dia lagu pertama yang kubisa mainkan pakai biola.
Pada minggu ke-2, aku mencoba
belajar lagu ‘balonku ada 5’ yang sampai sekarang rasanya kok masih fals. Lagu kekinian
macam ‘surat cinta untuk Starla’ juga aku cobain biar ngga jenuh dengan
meletusnya balon hijau. Tapi ya begitu, patah-patah tak menentu.

Nada patah-patah

Aku pernah frustasi banget, lalu
ketiduran dengan biola di sampingku. Rasanya kok aku lambat amat, suara gesekan
ngga bisa bersih dan masih saja patah-patah. Hingga keesokan harinya ketika
nonton tutorial biola di youtube ada yang bilang begini,

“jangan stress kalau gesekan biolamu
masih patah-patah, semua perlu proses. Pergelangan tangan, jari, posisi bow,
bahkan postur tubuh kamu berperan dalam menghasilkan suara yang ngga fals.”

Yakkk…semua perlu proses dan aku
harus menikmati setiap progresnya.

Mulai Menikmati Musik

Kemarin-kemarin ketika dengerin
lagu, fokusku ya ke liriknya. Kalau sekarang tuh kayak yang pengen merem dan
fokus ke musiknya, nadanya. Aku lebih menikmati musik, mungkin itulah kalimat
yang tepat.

“kalau ada yang mensugesti biola
itu susah, jangan diterima. Hanya butuh kesabaran” coach.

Inilah progres aku sebulan
belajar mengenali alat musik gesek yang ternyata punya banyak saudara dari
Viola hingga bass. Jangankan Stacato, vibrato saja aku belum bisa singkronin
jari kiri dan tangan kanan. Dan selama tulisan ini dibuat, telingaku full suara
gesekan biola lagu Indonesia pusaka dan Tanah airku yang diputar
berulang-ulang.

Continue Reading

Indonesia | sponsored | Traveling

Paket Honeymoon Lombok Traveloka

By on September 13, 2017
Apa-apaan ini, sebuah
kontradiski? Tak ada salah dengan merencanakan bulan madu selagi hati sedang
patah. Justru hal ini bikin aku kembali punya motivasi untuk menjalani hari. Saat
Raisa dan Hamish masih jadi pengantin
baru
, tiba-tiba teteh Bella melangsungkan akad nikah di Kuala Lumpur. Keesokan
harinya, bertebaran foto-foto prewed dengan caption mengharu biru dari suami
Bella. Bukannya jadi mellow dan demotivasi, sebaliknya lho aku malah merasa
kalau Tuhan itu maha adil. Ada jodoh yang pasti akan hadir di saat yang tepat
dan tak disangka-sangka. Jadi, mari temani aku menuliskan impian honeymoon
idaman sembari mengobati hati.
obat patah hati adalah merencanakan bulan madu

Supporting grup patah hati

Beberapa hari yang lalu, aku
membaca twit mas Effener tentang patah hati. Beliau menuliskan bahwa punya
supporting grup saat patah hati itu penting banget. Alhamdulillah aku punya,
whatsap grup dengan nama “klinik 24 jam”. Mereka nggak hanya menguatkan sih,
kadang juga marahin aku kalau aku mulai ngeyel, termasuk juga tim penyemangat
yang nyuruh aku mandi hahaha.

“Patah hati itu tergantung
mental. Jika mental kuat, bisa dianggap angin 
lalu. Tapi jika mentalnya lemah, bisa merembet berkepanjangan, bisa jadi
dendam, bisa jadi depresi, bisa jadi demotivasi. Banyak.” – Efeneer

Semua sepakat kan, makanya punya
teman sefrekuensi itu penting ya. Mau itu kamu introvert atau extrovert rasanya
sama saja deh.

Bicara Pernikahan? Aku berani

Teteh Bella ini motivatorku
banget untuk saat ini. Aku dan dia ada persamaan sih, ehem..selain sama-sama
punya dagu belah. Kisah cinta dia sering kandas, pun denganku. Dan ketika dia
tau-tau nikahan, aku langsung mengamini caption fotonya yang penuh kisah romantis.

“Pada saat saya diberi ujian yang
sangat besar dalam hidup dan saya percaya bahwa ujian itu penghapus dosa. Saya hanya
ikhlas dan sabar. Alhamdulillah…Allah mempertemukan jodoh saya. Jadi siapapun
yang sedang mendapatkan ujian bersyukur ya…karena nati disaat waktu yang tepat
menurut Allah pasti JODOHmu akan datang” – Laudyacynthiabella

Selama 3 hari jalan-jalan di Kuala Lumpur, aku kayak dapat ilham gitu
untuk lebih membuka diri termasuk pernikahan lintas etnis. Blasteran melayu,
cina dan India bisa cakep gitu ya jadinya hahaha kayak Engku Emran. Aku berani
bicara pernikahan, termasuk berani bicara soal destinasi impian untuk
honeymoon.

Honeymoon di Lombok

Aku nggak begitu suka pantai,
tapi kenapa pengen ke Lombok ya? mungkin karena sudah umum sih, honeymoon yang
deket-deket itu kalau nggak Bali ya Lombok. Eh pas browsing kok ternyata
pantainya Lombok tuh beda dengan pantai di pekalongan hahahah. Indah amat sih
yak, maulah kalau begini.
paket honeymoon lombok
image by Traveloka
Tapi namanya honeymoon, kalau
bisa jangan capek-capeklah outingnya. Sok tau deh ya aku, kata temen yang udah
pada ngerasain sih gitu. Mending pilih penginapan yang lokasinya dekat
kemana-mana khususnya pantai. Nah, pas lagi cek-cek harga pesawat…ternyata
kalau pesan tiket sekalian sama hotel jatohnya lebih murah lho. Ketemu deh sama
Paket honeymoon Lombok Traveloka yang sepertinya nggak cuma buat kamu yang hendak memulai cerita malam pertama.
kuliner Lombok
image by Traveloka
Selain eksplore kamar *eh,
pastinya mau eksplore pantai dan kulinernya Lombok. Meskipun dari sumber
terpercaya sih kalau lagi honeymoon jangan makan kenyang-kenyang hahaha aku
nggak tahu alasannya apa.

paket honeymoon lombok traveloka

Jalan-jalan
bikin happy
                                                         

Kalau kalian follow aku di Instagram,
pasti bakal mikir “ni anak jalan-jalan mulu deh”. Ya ya ya, salah satu caraku
menghempas sepi adalah dengan pergi ke tempat baru. Capek pastinya, tapi yang
kayak gitu lebih aku suka dibanding tidur-tiduran di sabtu-minggu.
jalan-jalan di kuala lumpur
Menyusun itinerary dan
jalan-jalan bikin happy. Termasuk aktivitas weekend lalu yang aku ngabur ke
Kuala Lumpur itu. Dari awal sudah exited, browsing lah, nyari hotel dan tiket
lah, nuker duitlah, dinikmati. Semua berjalan lancar dan aku merasa lebih
enteng aja hati dan pikiran ketika balik ke aktivitas.

Continue Reading

Food | Indonesia | sponsored | Traveling

Piknik Jalan Kaki di Kota Bandung Sekalian Hunting Street Food

By on Agustus 24, 2017
Bandung itu bukan kota yang asing
buat saya, 10 tahun tinggal di Jawa Barat gitu lho. Tapi, ngerasa beneran jalan
santai sambil ketawa-tawa jepret foto sani-sini ya baru kemarin. Duduk memandangi
gedung sate yang ikonik itu dari ujung running track Gasibu membuat saya
berpikir banyak hal tentang hidup ini. Tak ada angin tak ada hujan, dua hari
sebelumnya teman saya ngajakin ke Bandung dadakan. Terlalu cepat seminggu sih sebelum karnaval kemerdekaan pesona parahyangan. Niat saya memang piknik
santai saja sambil menikmati trotoarnya Bandung yang sekarang enakeun sekalian
hunting street foodnya.

piknik jalan kaki di bandung


Gara-Gara Damri

Turun dari bus Primajasa di
terminal Leuwipanjang, saya segera naik ke Damri tujuan Dago. Ada janji disana,
di sekitaran kampus ITB sore itu. Cuaca Bandung agak mendung tapi adem, atau
memang AC Damrinya yang dingin meski karcisnya hanya 5000 rupiah.

“Neng, mau ke Boromeus?” kata
kondektur bus
“iya pak”
“turunnya di depan situ ya, nanti
lurus saja”

Saya nggak hafal di luar kepala
peta kota Bandung, apalagi jalan yang dilewati Damri tadi bukan jalan utama. Tapi,
hawanya kok malas buka google maps ya, kayak yang pasrah saja gitu lost in
Bandung.

Kursi duduk trotoar Bandung
Trotoar depan Boromeus
rute piknik jalan kaki di bandung
panjang tapi santai

Jalanan Bandung
Jalan kyai gede utama

Di hadapan saya terbentang
pohon-pohon besar dengan rumah-rumah megah. Langsung kebayang setting film
Habibie Ainun gitu lah, cuma kurang becak aja. Ternyata itu adalah jalan tembus
ke rumah sakit Boromeus dari jalan Dipatiukur. Kalau ke arah ITB, jaraknya
sekitar 800 meter.

Masuk Masjid Salman ITB

Karena sibuk foto sana-sini,
udara yang sejuk, dan hawa Bandung yang ramah, nggak terasa tahu-tahu sudah
sampai depan masjid Salman ITB. Hari sudah sore, belum sholat ashar. Masjid Salman
sudah nggak asing di telinga saya, bolak-balikpun ngelewati. Tapi, ini pertama
kalinya mampir 
sekalian sholat dan menikmati kedamaiannya.

Masjid salman ITB
Suatu sore di masjid salman ITB

Suara burung menjadi backsound
indah, mungkin mereka sedang menclok di pepohonan taman masjid Salman yang ternyata
luas banget. Saya takjub, ada tanaman kopi di pinggir taman. Tak biasa memang,
umumnya taman ya nggak ada tanaman kebunnya. Syahdu banget pasti kalau bunga
kopi lagi bermekaran.

Masjid Salman termasuk bangunan
bersejarah di kota Bandung, usianya sudah 50 tahun dan menjadi masjid kampus
pertama di Indonesia. Seperti halnya masjid kampus saya Alhurriyah, masjid ini
bukan hanya menjadi tempat ibadah. Aktivitas keagamaan berupa kajian selalu
menyemarakkan suasana masjid.
Masjid Salman ITB
Memakmurkan masjid

Biar lebih jelas, tonton vlog
saya waktu explore masjid Salman ITB ini ya.

Malam Mingguan di Teras
Cikapundung

Waktu ulang tahun kota Bandung,
pak walikota ngerayain di teras Cikapundung. Ridwan Kamil bangga banget dengan
tempat ini. Sebab, dulunya Cikapundung itu super kumuh. Sekarang malah jadi
indah dan bisa jadi tempat piknik gratisan.
piknik-jalan-kaki-di-kota-bandung
rute ke teras cikapundung dari hotel Harris

Saya jalan kaki dari hotel Harris
di Ciumbuleuit ke teras Cikapundung. Aduh mau nulis Ciumbuleuit saja saya musti
googling lho, takut typo hahha. Susah bener nulisnya, pun ngucapinnya saya
salah-salah terus. Biar gampang sih ingetnya gini kalau mau nulis ‘cium-bule-uit’
hehhee.
street food bandung indomie rebus
Indomie rebus keju telor

Perut keroncongan karena belum
makan dari siang. Tapi tetep ya niatan saya kan mau hunting street food, bukan
kafe gitu. Jadinya ngasal saja beli indomie rebus di warung ramen pinggir jalan
tak jauh dari hotel.

650 meter jalan kaki menurun mah
santai saja, apalagi trotoarnya nyaman. Teras Cikapundung aslinya di belakang
hotel, tapi jalannya memang muter gitu.
teras cikapundung
teras cikapundung

Malam minggu ternyata ramai juga
di sana, bahkan ada beberapa kumpulan komunitas. Salah satunya komunitas ular,
hehehe saya berani megang lho. Karena asik main sama ular ini juga saya jadi
kelupaan kotak makanan isi seblak yang tadi dibeli, huhuu.

Jogging di Gasibu

Ini pertama kalinya saya mencoba
running track lapangan Gasibu kota Bandung. Dari hotel ke Gasibu nggak jalan
kaki kok, saya pakai taksi online. Minggu pagi nggak bisa lari kenceng di
gasibu, sebabnya ya penuh orang. Yang ada sih kalau saya fokus ke hunting
street food hehhe sama lihatin orang jogging.
Lapangan gasibu bandung
Running track gasibu

Menyeberang ke arah pasar kaget
depan Telkom, terbentang aneka jualan. Dari sayur sampai cardigan rajutan sisa
impor 100ribu dapat 3. Oke, karena sudah lapar langsung melipir ke gerobak
kupat tahu. Tentu kupat tahu di Bandung beda dengan di Pekalongan atau Jakarta.
Gimana ya, lebih light gitu lah.

Jadi, di gasibu ada apa saja? Nih
tonton videonya ya biar tahu yang namanya cilok mini dan baso imut.

Ketemu Ridwan Kamil di Taman
Balaikota Bandung

Puas menghabiskan minggu pagi di
gasibu, sebenarnya saya iseng dulu ke farmhouse susu Lembang. Tapi karena ngga
menarik, lain kali saja ya ceritanya hehe. Turun dari Lembang saya naik angkot
dan turun di jalan pajajaran. Tujuan selanjutnya adalah taman balikota, mau
leyeh-leyeh sambil makan cilok.
piknik jalan kaki di kota bandung
rute panjang ke balaikota Bandung

Entah gimana pakai acara tersesat
dulu masuk ke markas tentara, muterin BEC, menembus gramedia, lalu tiba di
depan BIP. Ya Allah, muter-muter pisan ini teh. Di depan BIP saya nyerah, buka
google maps saja lah. Jarak yang sudah saya tempuh 1km jalan kaki hahaha.
Taman walikota bandung
Khas nya taman balaikota

Sudah belasan pikulan bakso
cuanki dan dorongan batagor khas street food Bandung yang saya lewati sebelum
tiba di taman balaikota. Untung saja adem banget di sana ya, pohonnya
gede-gede. Saat sedang santai dan membayangkan masa depan gemilang, saya
mendengar suara yang tak asing.

“hah…suara pak Ridwan Kamil”

Dengan sisa tenaga yang masih ada
di badan, saya melangkah lebar-lebar ke sumber suara di dekat gedung kantor
walikota Bandung. Ternyata benar, pak Ridwan Kamil sedang memberikan sambutan
di acara hari veteran.
Beruntung banget bisa dapat angle foto yang pas dan tanpa hambatan, lhezzz.
Ridwan kamil
Walikota Bandung
Mobil gegana bandung
Mobil gegana

Rute saya ini mirip sama alur karnaval kemerdekaan pesona parahyangan ternyata. Sayang banget ngga menyaksikan langsung. Piknik dengan jalan kaki membawa
kesan tersendiri, saya jadi ingat jalan lho (minimal untuk sebulan kedepan
deh). Selain explore street food dengan lebih maksimal, saya juga jadi punya banyak
stock foto untuk Instagram. Ayo, siapa mau coba?

Continue Reading