Australia | Traveling

Menemui Three Sisters di Hutan suku Aborigin Blue Mountain

By on September 21, 2018
blue-mountain-sydney
Adzan subuh berbunyi dari smartphonku, dan kulihat titik air hujan menempel di kaca apartemen. Rencana penting pagi ini membuatku nggak asik berhangat-hangat ria di kasur. Aku menolak pelukan mesra selimut Meriton world tower yang aromanya khas. Sydney sedang musim panas, tapi udaranya sedingin Jakarta kalau sedang musim hujan. Beranjak dari kamar, langsung kubangunkan teman-teman agar segera bersiap. Kami mau ke blue mountain yang ada di kawasan hutan suku aborigin sekitar 100km dari pusat kota Sydney. Hingga cerita ini ditulis, aku masih merasakan batapa bahagianya aku waktu itu. Momen yang barangkali takkan terulang. 

Blue mountain itu gunung biru?

Jujur saja aku cuma ‘manut’ teman-teman dengan rencana ini. Sama sekali belum kebayang blue mountain itu apaan. Kalau selama di Indonesia, yang namanya ke gunung itu kan harus bawa tenda atau jaket gitu. Dan pastinya harus tracking entah berapa kilometer. Tapi jangan mikir ribet dulu deh. Meski jaraknya 100km dari Sydney yang mana itu kalau di Indonesia bisa berjam-jam melewatinya…tapi ke blue mountain mah keciiilll.
central-station-sydney
central station sydney
Kota Sydney masih gelap saat aku dan teman-teman jalan kaki ke central station. Yak, selama maish dalam kota jalan kaki saja karena nyaman banget. Selama melewati pedestrian Sydney aku jadi terbayang blue mountain itu seperti apa dari cerita teman-teman yang sudah research. Ternyata blue mountain memang beneran gunung. Tapi memangnya biru? Nanti kita buktikan ya hahaa.

Kereta tingkat

Maaf norak, aku belum pernah naik kereta tingkat. Keretanya mirip kereta jarak jauh di Indonesia kok tapi tingkat. Lantai dasarnya agak ke bawah tanah gitu, jadi meski 2 lantai nggak setinggi bus tingkat. Kami naik kereta jurusan mount Victoria dan berencana turun di stasiun Katoomba. Dari central station, tarifnya hanya 2,5 dollar dengan opal card. Kalau dikurskan ke rupiah hanya sekitar 30ribu. Kok murah? Jadi, opal card itu semacam kartu untuk segala macam transportasi di Australia. Nah, kalau weekend ada diskon. Untuk semua alat transportasi bayarnya hanya sekali dan itupun 2,5 dollar pukul rata jauh dekat. 

Pedesaan Australia

Kereta beranjak dari pusat kota masuk ke suburban. Awlanya sih masih biasa, hmm kayak masuk daerah Cikampek gitu lah wkkwk. Eh kok makin lama makin syahdu berasa lagi nonton film ya. Ini mimpi aku banget bisa melihat pedesaan dengan tatanan ala Eropa. 

Bahkan nulis ini saja mataku berkaca-kaca.

Katoomba dari Sydney itu 100km dengan durasi perjalanan 2 jam. Selama itu pula mataku tak terpejam. Terlalu sayaang dong ya. Golden sunrise menyentuh ujung pepohonan di hutan, hangat. anyway, pepohonan di sini juga kayak di film-film ahahha. Nggak ada penampakan pohon ala Asia gitulah. Semakin menjauh drai Sydney, jalur kereta mulai menanjak dan kadang berkelok. Bayangkan saja naik kereta jalur selatan pas lewatin daerah Garut.

Baca: Panduan Membuat Visa Australia (termasuk biaya)

Membeku di Katoomba

Yak, akhirnya kereta merapat. Dengan pedenya kami serombongan orang-orang Indonesia ini keluar kereta. Dan…oh nooo…dingin banget. Makin shock ketika mau instastory dan melihat sticker temperature di angka 11 derajat celcius. Wow!! Matahari bersinar cerah tapi suhu sedingin itu. Biar segera dapat keringat, kami langsung bergegas keluar stasiun untuk menuju ke blue mountain. Lho belum sampai tho?
katoomba-station
katoomba station dalam 11 derajat celcius

Masuk ke Inggris masa lampau

Kesan pertama ketika keluar stasiun Katoomba adalah kembali ke masa lampau. Katoomba itu semacam Wonosobo buat para wisatawan ek Dieng, atau Malang buat yang mau ke Bromo. Halah kok contone jauh banget ya? biar gampang gitu bayanginya. Jadi semacam kota persinggahan dengan banyak toko cenderamata. Katoomba itu tatanan kotanya kayak tahun 80an banget. Terus nggak hiruk pikuk ya, senyap dan tenang. 
bus hop on hop off
hop on hop off

Buat ke blue mountain aku perlu naik bus dari sini. Tenang, ndak perlu nyari terminal dan naik ojek. Langsung saja dari stasiun tinggal nyebrang. Ada haltenya di sana. Pilihan busnya ada bus hop on hop off maupun bus biasa sejenis transjakarta. Bus hop on hop off itu yang warna merah, tingkat, nggak bisa pakai opal card. Tentunya demi penghematan, aku pakai bus biasa dong ahhaha. Sepanjang perjalanan di bus, pemandanganya luwaar biasa. Sungguh ini bagaikan filem (sudha berapa kali aku bialng begini sih). Hutan, jalanan berkelok yang lengang, rumah mungil bergaya Eropa, wow. 

Beneran biru

Bus berhenti di beberapa halte, dan karena tujuanku adalah blue mountain maka kami turun di echopoint. Echopoint itu lokasi tempat menikmati blue mountain. Berapa tiket masuknya? Nggak ada!! Serius lho. Tinggal menikmati saja semua fasilitasnya. Termasuk toilet yang ada air hangatnya itu juga gratis. 
blue-mountain
echo point blue mountain
Tidak ada gunung warna biru layaknya gunung Slamet ya sodara-sodara. Blue mountain itu malah semacam dataran tinggi dengan pepohonan yang jika terkena cahaya matahari jadi kebiruan. Itu asal muasalnya. Langitnya kontras karena pas kami datang kondisinya cerah banget meski udaranya super dingin. 
Di blue mountain echopoint ini ada semacam spot foto gitu, tapi elegan. Nggak kayak di Indonesia yang malah dikasih lopelope atau tulisan apalah. Ada track lari juga, track bersepeda, banyak deh. Kayaknya bisa seharian di sini mah asik. 

Legenda Three sisters suku aborigin

Tersebutlah legenda yang ada di blue mountain tentanga sal muasal 3 bukt batu itu. Katanya nih jaman dulu ada 3 gadis aborigin bernama Meenhi, Wimlah, dan Gunnedoo. Mereka ini punya bapak penyihir. Nah suatu hari salah satu dari mereka menjatuhkan batu ke jurang dan membangunkan makhluk jahat yang akhirnya mengubah mereka menjadi batu. 
three sisters
itu lho three sisters
Versi lain kisahnya lebih tragis. Konon ada 3 gadis suku aborigin yang dilarang menikah oleh karena aturan di sana. suatu ketika mereka jatuh cinta. Lalu mereka dikutuk jadi batu. Eh kok malah jadi mirip Malin kundang atau Sangkuriang ya? 
giant stairway
tangga curam
Apapun itu, keberadaan kisah-kisah legenda bikin tempat wisata jadi seru sih. Tapi jujur saja di lembah three sisters aku merasakan lelah yang teramat syaang. Teman-temanku pada selfie aku mah milih duduk di kursi di pojok bukit. Kayak ada yang menyerap energiku ahhaha. Yaiyalah, kan jalan kaki dari echopoint lalu menuruni tangga 90 derajat ke bukit ini ngabisin energi. Foto di bawah ini diperankan oleh model, travelblogger yang sudah keliling Asia, yurop, sendiriaan lho. Dia meja kerjanya cuma 10 langkah dari mejaku tapi kami jarang ketemu. Ini, blog nya nih…>  https://heremyplayground.wordpress.com/ asli dia mah tipikal orang yang piknik tapi hampir nggak pernah instastory.
three sisters blue mountain
ini aja sih tujuan rangorang nurunin bukit terjal tadi

Ada nasi goreng teri di hutan aborigin

Apakah aku orang pertama yang menjatuhkan DNA ikan teri di hutan suku aborigin ini? Demi menghemat uang saku, habis sholat subuh tadi aku masak bekal sekalian buat serombongan. Spesial lho, nasi goreng teri!!! Kurang krupuk saja yang kami subtitusi pakai kripik kentang. Hari menjelang siang, suhu udara masih belasan derajat celcius. Mari sarapan.
nasi goreng australia
otentik Indonesia

Nggak nemu air terjun katoomba

Berbekal peta wisata, serombongan anak-anak Indonesia ini menuju air terjun katoomba yang ngga jauh dari echo point. Halah di Indonesia juga banyak grujugan, ya tapi kami pengen tahu sih gimana air terjunnya bule. So, langkah demi langkah menapaki trek jalan kaki yang disediakan..dan badanku lemas lagi. Hutan ini beneran menyerap energiku nih kayaknya ahahha. Yang lain lanjut turun, aku balik ke naik ke jalan raya. Duduk di semacam tempat nunggu bis gitu tapi bergaya Inggris. Ya apasih yang nggak unik di sini. Kerasa kayak di filem-filem (lagi). 
workout sydney
planking di jalan
Tak lama kemudian, teman-temanku menampakan diri. Kata mereka air terjunnya nggak ada. Loh! Yaudah, demi menghangatkan badan serta bisa sexy kayak orang Australi aku memilih planking saja di tepi jalan. 
Masih tengah hari di Blue mountain, tapi badan sudah capek banget. Mendingan balik deh ke kota. Dan ternyata pas banget pas sampai stasiun Katoomba, kereta ke Sydney station mau berangkat. Lariiiiiiiii!

Momen tak terlupakan

Seperti yang kubilang di awal, perjalanan ke blue mountain ini bisa jadi momen tak terlupakan di 2018. Untungnya aku bawa hape, apa pasal? Kemana-mana aku memang bawa kamera mirrorless, tapi pas ke blue mountain ini baterainya habis. Kemarinnya aku barusna jalan ke Bondi beach, the rock, dan kawasan sekitaran apartemen. Hunting foto kesana kemari. Malemnya nggak ngecas, berangkat subuh. Yaudah deh. Baru sampai kereta baterai merah. 
huawei nova 3i
Smartphone dengan kamera mumpuni itu penting banget buatku yang suka pepotoan dimanapun dan kapanpun. Tapi, kalau kapasitasnya kecil seperti punyaku sekarang juga buat apa? Aku lagi pengen upgrade smartphone nih. Maunya tuh yang kayak Huawei Nova 3i , lihat deh fitur andalanya yang aku banget. 

Continue Reading

Australia | Beauty | Traveling

Hunting Sepatu Wanita di Sydney

By on Juli 21, 2018
Sebelum aku berangkat ke Sydney, salah seorang sahabat bilang kalau dia mau nitip sepatu. Katanya sepatu di Australia bagus-bagus. Aku malahan baru tahu kalau sepatu merupakan salah satu item oleh-oleh wajib dari Ausy. Ternyata benar, kalau melihat di jalan sih…item fashion sepatu orang-orang Sydney termasuk kece-kece. Sepatu wanita model terbaru jenis sport bertebaran di jalan, sepatu bulu-bulu, boot aneka bentuk, wow…dan harganya kurasa lebih murah daripada di Indonesia.

sepatu army

Sepatu army

Jadi ceritanya aku ke Sydney cuma bawa 1 sepatu, yaitu converse andalan yang sudah 5 tahun hidup Bersama. Eh trenyata di sini aku harus jalan kaki tiap hari ke kampus. Rasanya kok kurang nyaman gitu, ingin sepatu yang lebih ringan.
Akhirnya aku ke supermarket yang bernama K-mart yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Di sini aku bisa dapetin aneka barang dari perkakas hingga alat make up dengan harga miring. Keliling k-mart adalah hiburan tersendiri. Aku bergegas ke area sepatu dan menemukan sepatu wanita model terbaru sneakers putih dengan bordiran bunga-bunga di bagian ujungnya.
Sneakers putih itu lucu sih, tapi yang aku perlukan sepatu ringan. Akhirnya di rak sepatu untuk anak-anak aku menemukan sepatu selop bermotif army. Yey, unik dan nyaman banget dan harganya tentu murah. Ketika aku upload ke Instagram, banyak yang nanya beli dimana dan mau nitip hehhe.

Sepatu boot hitam

Masih di k-mart, aku menemukan area khusus berupa rak sepatu boot. Modelnya banyak, warnanya beragam, dan harganya dari range murah sampai mahal ada semua. Aku memilih sepatu boot hitam dengan bahan beludru dan aksen resleting. Kebetulan yang untuk nomorku ada. Anyway sepatu ini sampai sekarang baru aku pakai sekali. Merasa sayang saja nanti debuan atau kena becek di jalan.

Sepatu Made In Indonesia

Di bawah apartemenku ada toko sepatu yang cukup besar. Ada berbagai merek terkenal dan sepatu wanita model terbaru tentunya. Dari sisi harga sih lebih murah daripada di Jakarta. Yang bikin kaget adalah, ada sepatu Adidas made in Indonesia. Wow, sungguh aku baru tahu. Apakah aku beli? Tentunya tidak, hehhe. Jujur saja ku baru tahu ada speatu dengan brand tersebut yang bikinan Indonesia. Malah kalau di Indonesia sendiri yang beredar bikinan luar negeri.

Sepatu Bulu-bulu

Inilah yang dimaksud temanku. Sepatu booth dengan bahan lembut disertai dengan aksen bulu-buku. Kayaknya memang khas Australia deh. Karena pas aku jalan-jalan di Paddys market pusat oleh-oleh Sydney sepatu ini banyak banget. Meskipun ketika itu sedang summer, tapi tetap dipajang dimana-mana. Menurutku sepatu ini cocok dipakai saat winter, tapi summernya di Syney juga adem sih.
sepatu australia

Jarang Lihat Sandal Jepit

Aku sih jarang banget atau malah hampir nggak pernah melihat orang pakai sandal jepit di jalan. Mostly gaya street fashion mereka adalah sporty. Sepatu sneakers yang nyaman untuk jalan kaki tentunya, sebab di Sydney orang hobi jalan dan kecepatannya luar biasa. Kecepatan berjalan ini terbawa olehku sampai di Indonesia. Kalau di sini orang jalan cepat sering dipandang aneh. Tapi di Sydney sebaliknya.

Aku rasa hunting sepatu di Sydney bukan hal yang sulit. Selera fashion mereka bagus dan bisa menjaid rujukan sebelum membeli. Model-model sepatunya beragam dan nggak ketinggalan jaman. Tapi ingat saja dengan berat bagasi ya kalau mau membawa oleh-oleh. Sekedar tips, kardus sepatu nggak perlu dibawa.

Continue Reading

Australia | Traveling

Panduan Membuat Visa Bisnis Australia Termasuk Biaya

By on Juni 29, 2018
Visa itu sebenarnya dibeli atau dibuat ya istilahnya? Ini adalah pengalaman pertamaku mengurus visa. Sekalinya pergi jauh langsung lintas benua dan durasinya lama, wow Sydney Australia. Sebelumnya aku pernah membaca postingan travel blogger favoritku, Arievrahman. Waktu itu aku lagi blogwalking dan nemu postingan dia soal panduan lengkap mengurus sendirivisa turis Australia. Berbekal postingan ini, aku coba mengisi formulir yang berlembar-lembar itu. Ternyata prosesnya cepat dan mudah. Dan benar seperti yang Arievrahman bilang, visa Australia bentuknya lembaran gitu doang.
Panduan Membuat Visa Bisnis Australia Termasuk Biaya

Persyaratan pengurusan visa

Inilah dokumen yang perlu dipersiapkan salam pengurusan visa Australia.

Paspor masa berlaku minimal  9 bulan terakhir + Paspor lama

Pertama dan utama harus punya paspor ya. dan kalaupun sudha punya, coba dicek kadaluarsanya sampai kapan. Minimal ada waktu 9 bulan lagi dari tanggal kedatangan kamu ke Australia.

Fotocopy paspor halaman depan & belakang berikut dengan copy semua cap / stamp / visa yang sudah pernah dikunjungi

Fotokopi bagian paspor yang ada foto kita, yang ada stempelnya (kalau pernag keluar negeri sebelumnya), danbagian belakang banget yang ada tanda tangan kita.

Surat Sponsor dari tempat bekerja

Aku berangkat ke Australia karenadiutus tempat kerjaku, jadi ya mudah saja minta surat sponsor. Langsung deh tanda tangan vice presiden direktur. Kalau yang freelance,semisal blogger atau influencer mungkin bisa di screen capture blog dan akun socmednya.

Surat Ijin Suami diatas materai 6000 (jika suami tidak ikut bepergian)

Karena aku belum bersuami saatpergi ke Australia, jadi skip saja yang ini.

Surat Undangan dari Australia(jika bisnis)

Aku melampirkan undangan dari Australia Government sebagai pemberi beasiswa.

Pas foto terbaru berwarna 4 x 6 = 2 lembar (Background putih)

Nggak harus ke studio sih, aku malah foto pakai mirrorless di kamar. Yang penting gayanya ngga usah aneh-aneh,
pasfoto lho ya bukan foto Instagram.

Copy bukti keuangan min. 3 bulan terakhir (Rekening Koran / Tabungan)

Aku tidak melampirkan samasekali, mungkinkah karena beasiswa?

Copy Akte lahir Anak

Skip juga karena belum beranakehehe.

Copy Kartu Pelajar / Surat Keterangan Sekolah

Rasanya ini ngak perlu

Copy Kartu Keluarga

Kalau ini harus ya, yang terbaru kalau ada.

Copy KTP

Meski sudah melampirkan paspor, KTP jangan diabaikan.

Copy Akte Nikah / Akte Cerai

Lagi-lagi skip, karena pas bikin visa belum punya buku nikah.

Copy Surat Hak Perwalian Anak dari Pengadilan

Skip juga

Surat Ijin ke-2 orang tua ( u/anak < 18 Thn )

Ahahha tampilan aku memang kayak teenagers, tapi kan sudah punya KTP.

Copy SIUP

Skip juga

Medical Check Up dr dokter yang ditunjuk (diatas > 75 th)

Alhamdulillah aku masih muda.
 

Travel Insurance (diatas > 75 th)

Skip dong pastinya.

Mengisi formulir dan tanda tangan sendiri

Dan yang tak kalah penting adalah kita harus mengisi form pengajuan visa. Untuk mengurus visa turis, kamu membutuhkan formulir 1419 (dapat diunduh di sini) sementara untuk mendapatkan visa bisnis, kamu memerlukan
formulir 1415 (dapat diunduh di 
sini
).
 
Kalau kamu ngurus visa pakai agen, ada tambahan formulir lagi, namanya form 956A (dapat diunduh di sini) yang bertajuk ‘Appointment or withdrawal of an authorised recipient’. Jangan lupa juga untuk menandatangani kolom ‘Your Declaration’ di akhir formulir.

Berapa lama Pengurusan visa Australia?

Seingatku, nggak sampai sebulan deh. Itu lembaran yang katanya visa beserta paspor sudah kembali ke tangan aku.
Memang waktu itu diurusin sama gen, secara kan aku kerjanya jauh dari Kuningan tempat ngurus visa Australia. Oiya, membuat visa Australia bukan ke kedutaan Australia ya tapi di Australia Visa Application Centre (AVAC)  yang terletak di Kuningan City, Jakarta.
visa australia
 
 

Biaya visa Australia

Ini yang sangat penting. Ternyata visa Australia nggak mahal-mahal amat kok. Dengan bantuan agen saja hanya 1,8 juta rupiah. Tentunya kalau datang sendiri ke AVAC bisa lebih murah dong.

Mengurus visa Australia Online

Kalau mau lebih praktis, ngisi-ngisi formulirnya online saja. Dokumen semuanya discan. Ternyata bisa lho, malah nggak pakai ngeprint segala kan. Blogger hits Mba Shintaries juga berbagi lho ceritanya lewat postingan cara membuat visa Australia Online.
Selamat datang di Australia,
yeyyy. Lembaran visa yang kamu dapatkan itu nggak perlu ditunjukan kok pas
pemeriksaan paspor. Semuanya sudah terintegrasi dalam system. Sudah siap
menjelajah New south wales yang indah?

Continue Reading

Australia

Bagaimana Sholat Di Sydney Australia?

By on Mei 28, 2018
Sebelum berangkat ke Sydney, perkara sholat adalah salah satu concern aku. Terutamanya untuk sholat di jam
kuliah. Aku mencari informasi tentang kehidupan muslim di Sydney termasuk ke pembimbing Bahasa Inggris yang memang pernah tinggal di sana. Bukan mau ribet sih, setidaknya pas disana udah nggak kaget karena well prepared. Ternyata urusan sholat di Sydney memang seru. Ini pertama kalinya aku tinggal di luar negeri (bukan Cuma buat piknik). So, ada beberapa tips buat kamu yang muslim dan mau berkunjung ke Sydney berdasarkan pengalaman pribadiku.

Tentang Bagaimana Sholat Di Sydney Australia

Waktu Sholat Sydney

Yang harus kita ingat, Indonesia itu Negara di khatulistiwa. Matahari bergeser nggak jauh-jauh lah dalam kurun
waktu setahun. Akibatnya, waktu sholat juga nggak berubah banyak. Misalnya kita tinggal di daerah WIB, subuh rata-rata ya jam 4 sampai jam 4.30. Nggak pernah kan nemuin waktu subuh jam 5.30? Demikian juga dengan waktu sholat yang lain. Kalau begini, urusan pengaturan waktu di tempat kerja maupun sekolah dan kampus bisa
lebih fix.
Lain dengan Australia yang merupakan benua 4 musim. Adakalanya matahari berada di utara, itulah saatnya musim dingin. Waktu subuh bergeser ke jam yang agak siang. Saat matahari di selatan sekitar bulan desember hingga Januari, maka di Australia musim panas sehingga waktu subuhnya bergeser lebih malam.
Sebagai gambaran saja, inilah waktu sholat pada bulan Januari 2018 di Sydney. Subuh pukul 05.15, Dzuhur pukul
1.30, Ashar pukul 6.15, Maghrib pukul 8.07, Isya pukul 10.00. Beda banget kan dengan di Indonesia? Terutama jam sholat ashar, maghrib, dan isya sih yang kerasa ekstrim.
Tapi tenang saja, meski nggak ada masjid yang adzan untungnya kita hidup di jaman serba ada aplikasinya. Pasrahkan saja kepada Tuhan dan aplikasi smartphone untuk urusan pengingat waktu sholat dan arah kiblat.

Mencari Tempat Sholat di Sydney

meriton-suites
ruang tamu meriton suites
Setelah kita paham waktu sholat, saatnya mencari tempat menjalankannya. Kalau di apartemen sih aku nggak masalah sama sekali. Kebetulan banget arah kiblat dari unit apartemen yang aku tempati adalah dinding full kaca dengan pemandangan kota Sydney. Bisa kamu bayangkan jika malam tiba syahdunya seperti apa? Lain cerita jika waktu sholat datang pas aku lagi beraktivitas di luar, inilah pengalamanku.
sydney-night-view
pemandangan malamnya Sydney

Sholat di Kampus

Di kampus aku nggak tersedia mushola atau masjid. Ada lho kampus yang menyediakan tempat ibadah resmi,
misalnya UTS (university Technology Of Sydney). Ada sholat jumatnya juga di sana, tapi khusus buat mahasiswa UTS. Ini sih karena alasan keterbatasan tempat, kalau dibebasin nanti malah mahasiswa ngga kebagian. Soalnya UTS itu di tengah kota Sydney yang mudah dijangkau dari manapun.
D 411 Connected Classroom
Ruang kelas
Jadi aku sholat dimana? Aku sholat di kelas. Alhamdulillah orang Australi itu toleran dan nggak rese. Kadang aku
pakai mukena, kadang tidak. Pakai mukena ala sholat di Indonesia memang mencolok, tapi nggak diliatin juga kalau ada mahasiswa lain. Kalaupun nggak sholat di kelas, taman-taman kampus dan sudut-sudut kampus juga bisa digunakan sebagai tempat sholat.

Masjid King Faisal dan Redfern di Surryhills Sydney

Di Sydney ada semacam kampung arab gitu lho. Di situ selain ada restoran-restoran timur tengah, rumah-rumah
bergaya khas, juga ada masjid. Ya, masjid besar dan umum yang bisa digunakan untuk sholat 5 waktu maupun sholat jumat. Yang aku tahu sih ada masjid king Faisal dan masjid Redfern di sana.
masjid-king-faisal-sydney
Masjid king Faisal
Masjid king Faisal lebih besar dari masjid redfern. Kedua masjid ini bisa dijangkau dengan jalan kaki santai dari central station sekitar 15 menit. Tenang saja, urusan jalan kaki di Sydney itu asli nyaman kok. Jangan bayangin dengan Jakarta, 5 menit saja mungkin kita langsung pengen minum es teh segelas.
Pengalamanku ketika menemukan masjid redfern cukup kocak sih. waktu itu dari kampus niatin jalan kaki ke Allianz stadium. Eh pas asik foto-foto menemukan tulisan “mosque” pada bangunan yang nggak mirip masjid. Rasanya bahagia banget meskipun ya nggak masuk karena masjidnya ditutup.
redfern-mosqua

Tempat sholat di Mall

Sayang sekali aku belum menemukan pusat perbelanjaan semacam mall atau supermarket yang ada tempat sholatnya. Dan kalau di keramaian seperti itu, kita agak sulit menemukan spot sholat dadakan layaknya di kampus. Saran saya sih, kalau mau ngemall atau ke supermarket pastiin jamnya terlebih dahulu.

Sholat di Pojokan Sydney Opera house

Hal greget yang aku alami nih. Jadi ceritanya saat itu bareng teman-teman dari Indonesia mau melihat Opera house di malam hari. Ada pertunjukan lampu-lampu gitu yang dimulai jam 9 malam. So, harus sholat maghrib di sekitara Sydney opera house.  Urusan wudhu sih gampang ya, ada toilet kok. Tapi karena kebetulan sata itu malam minggu, opera house rame banget. Agak susah menemukan pojokan untuk dijadikan tempat sholat darurat. Alhamdulillah, Allah memudahkan juga kok. Ada spot di dekat semacam loket gitu di belakang Opera Kitchen.
sholat-di-sydney-australia
sholat magrib berjamaan
Dengan menggelar lembaran brosur sebagai sajadah, kami sholat berjamaah maghrib. Opera kitchen yang ramai
pengunjung malam itu rasanya bisa kami hiraukan sebentar. Foto ini diambil oleh mba Retno, salah satu teman dari Indonesia yang non muslim.


Peta Masjid di Sydney

king Faisal mosque
Redfern mosque

Sydney Ramah Muslim

Awalnya aku pikir bakal dipandang aneh ketika berjalan di tempat umum dengan berpakaian muslim. Ternyata Sydney itu kota multicultural yang orang-orangnya toleran lho. Banyak juga yang berjilbab seperti aku, malah kadang kalau papas an gitu sering disenyumin. Iya, aku ragu senyum duluan ke orang asing di jalanan. Etapi kalau mereka senyum masa aku mnggak balas. Rasa persaudaraan itu terasa, hanya karena seelembar kain jilbab.

Continue Reading