Traveling

Tips Naik Pesawat Ke Luar Negeri Dengan Transit Untuk pemula

By on Januari 28, 2019
Tips Naik Pesawat Ke Luar Negeri Dengan Transit Untuk pemula

Bepergian dengan menggunakan pesawat sudah bukan hal yang asing lagi. Meskipun moda transportasi lain seperti kereta sudah nyaman, tetap saja pesawat punya keunggulan. Ya, pesawat bisa lintas pulau dengan cepat. Tahu sendiri lah ya, Indonesia negara kepulauan. Kalau mau naik kapal sih bisa, tapi apa ya nggak lama banget tuh. Sudah sering naik pesawat domestik belum tentu bikin nggak gagap waktu mau ke luar negeri. Aku menuliskan panduan naik pesawat ke luar negeri termasuk cara transit ini bagi pemula, semoga bermanfaat dan enjoy your trip!

Tepat setahun yang lalu, aku naik pesawat ke Sydney dari Jakarta dengan transit di Bali. Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 0426 berangkat dari terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta padan17.15 wib dan mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar Bali pada 20.15 Wita. Penerbangan ke Australia dilanjutkan dengan pesawat dengan nomor penerbangan GA 0717 pada 22.25 Wita untuk mendarat di Bandara Internasional Kingsford Sydney keesokan harinya pada 07.25 (waktu Sydney). Harga tiketnya saat itu sekitar 8 juta rupiah (bukan promo dan sudah termasuk airport tax). Pesawatnya memang lux buat aku. Airbus A330 200 dari Jakarta, dan Aibus A330 300 buat ke Sydney. Wow, ini jenisnya sama lho dengan pesawat presiden kalau ke luar negeri. Lalu bagaimana step by stepnya?

Tiba di Terminal 3

Alhamdulillah sekarang sudah ada kereta bandara. Bahkan dari Bekasi pun bisa lho naik kereta ini, nggak harus dari stasiun utamanya di BNI City. Tapi waktu itu aku memilih naik bus Damri, karena tinggal keluar komplek saja dan naik deh. Tiba di terminal 3, jangan bingung masuk dari mana ya. Bisa dari pintu manapun kok. Karena terminal 3 lebih terintegrasi dibanding terminal lama.

Tips Naik Pesawat Ke Luar Negeri Dengan Transit Untuk pemula

Jangan sampai salah terminal, apalagi salah bandara. Ya memang konyol sih, tapi aku pernah mengalami itu di Kuala Lumpur. Aku salah bandara dong ahahha, untungnya waktu terbang masih lumayan lama. Selain itu, antar bandara KLIA 1 dan KLIA 2 sudah terintegrasi dengan kereta super cepat.


Baca: Traveling di Kuala Lumpur dengan Budget Kurang dari 1 Juta

Menuju Counter Maskapai Untuk Check in dan Membeli Bagasi

Tips Naik Pesawat Ke Luar Negeri Dengan Transit Untuk pemula

Setelah masuk bandara, kamu bisa cari counter check in maskapai kamu. Kalau mau jajan dulu atau foto-foto dulu sih boleh. Tapi saranku sih itu nanti saja di ruang tunggu. Meskipun sudah check in via web, kita tetap harus ke counter maskapai ya. Siapkan tiket (nggak harus diprint), visa dan paspor. Kalau ada bagasi, sekalian didaftarkan juga. Saat aku terbang, batas bagasi 30kg masih free, jadi nggak usah beli hanya didaftarkan saja.

Baca: Cara membuat visa bisnis ke Australia

Melewati Pintu X-ray

Paling tidak kamu harus spare waktu 2-3 jam sebelum jam terbang biar nggak terburu-buru ya. kalau sudah lewat counter check in sih lumayan aman. Selanjutnya menuju ruang tunggu bandara sesuai dengan gate dimana pesawat kita parkir. Sebelum sampai ke sana, kita akan di x-ray terlebih dahulu. Nggak perlu takut dulu ya, selama kita nggak bawa barang-barang terlarang sih nggak akan lama kok. Biasanya laptop, jam tangan, dompet, sabuk, kita pisahkan dari badan dan tas. Oiya termasuk power bank (kadang diperiksa dulu voltasenya).

Aku pernah kelupaan bawa micellar water (pembersih wajah) yang bentuknya 100% cairan. Ya nggak loloslah, dibuang di situ. Pernah juga lupa di Tupperware masih ada air, duh. Gunting jangan sampai kelewatan ikut juga. Intinya sesimpel mungkin saat di bandara. Biar nggak mengganggu penumpang lain juga kan kalau kita kelamaan. Oiya, di bagian x-ray ini nggak boleh foto-foto atau merekam. Karena aku pernah dan dimarahi petugasnya ehehe. Mungkin kalau nggak begitu mencolok bisa. Saranku sih pakai kamera hape atau action cam gitu aja.

Masuk Ke Ruang Tunggu

Alhamdulillah sudah beres semua, tinggal duduk manis. Eit…nyari gate dulu lah. Terminal 3 ini panjaaaang banget gatenya. Penerbangan internasional biasanya di ujung. Jangan sampai kamu sudah lolos check in, x-ray, eh malah duduknya kejauhan dari gate. Taunya kita di gate mana gimana? Ada kok di tiketnya tercetak gitu. Tapi kadang tiba-tiba gate dipindahkan (kayak KRL aja). Nah, makanya pas di ruang tunggu kita musti dengerin secara saksama setiap pengumuman. Jangan lupa hafalin kode penerbangan kita. Ahaha jangan keliru masuk ke pesawat orang. Hampir sama dengan penerbangan domestik, nanti kalau pesawat kita sudah siap untuk menerima penumpang kita akan dipanggil kok menuju gate.

bandara soekarno haat terminal 3

Ruang tunggu terminal 3 bandara soekarno hatta sangat nyaman. Terasa lega dengan kaca lebar, ruang terbuka ke atas, dan suasana terang. Charger dan kursi santai juga bertebaran dimana-mana. Jangan bandingkan dengan terminal lama deh ehehe.

Rasanya Naik Airbus A330-200

Akhirnya masuk ke pesawat juga nih. Dan wow!! Ternyata pesawat yang kunaiki berjenis airbus A330-200. Menurutku ini pesawat domestik rasa luar negeri. Iya, kan aku mau transit ke Bali dulu. Aku mengira bakal naik pesawat Garuda kayak biasanya dengan seat 3-3. Eh ini kok ada 2 lorong ya, jadi seatnya 2-4-2 berasa mau langsung ke luar negeri saja. Meskipun aku naik kelas ekonominya, tetap saja ini keren sih ehehe (maaf aku biasa naik pesawat murah).

makanan garuda indonesia

Di dalam pesawat, tentunya kita cari dong kursi kita. Kalau sudah duduk, nikmatilah. Mau tidur atau nonton film, baca buku, atau ngobrol dengan orang di samping yang kece seperti di novel critical eleven ahahha. Di pesawat Airbus A330-200 disediakan layar LCD dengan berbagai pilihan hiburan. Sore itu dapat sajian makan juga. Wow, makan sore on board. Makan berat lho ya, dengan sajian yang kupilih nasi baso ikan. Ada pudding sebagai dessert, dan pilihan minuman standar seperti jus atau susu. Inilah pertama kali aku mencicipi makanan beratnya Garuda Indonesia.

Cara Transit Dan Ganti Pesawat

Film Batman belum sampai beres kutonton, eh sudah sampai Denpasar saja. Kerlip lampu pulau dewata menyambut bagai kerlingan mata. Bagaimana sih caranya transit? Sekali lagi ini mirip transit KRL di manggarai kok, tapi bedanya kita musti laporan dulu.

transit bali

Turun dari pesawat, kita akan masuk ke area bandara. Bagasi nggak usah diurusin, yang kita bawa tas yang di kabin saja. Biasanya ada mba-mba yang bersiaga dan memanggil penumpang yang transit untuk mengikutinya. Jika tidak, ikuti saja papan petunjuk. Ada ruangan tersendiri untuk penumpang transit, jadi nggak langsung masuk ke ruang tunggu ya. Di ruangan itu ada meja seperti counter check in untuk mendaftarkan tiket serta paspor kita. Setelah semua beres, baru deh masuk ruang tunggu dan bersiap di dekat gate.

Ketika itu terminal penerbangan internasional di bandara Ngurah Rai masih dalam tahap pembangunan. Lumayan jauh sih jalan dari loket tadi ke gate aku. Di ujuung banget lah, sampai melewati dipan-dipan kecil buat orang numpang tidur di bandara. Aku sempat ke toilet buat ambil wudhu, hampir saja kameraku ketinggalan di sana. oiya, bandara Ngurah Rai musholanya memang tak sebanyak di Soeta. Jadi, aku dan teman-teman memilih sholat di salah satu pojokan ruang tunggu. Dan ketika beres sholat, disamperin bule berjenggot tebal katanya kami arahnya salah kkekeekke. Entah kompas siapa yang belum terkalibrasi, yang penting sudah sholat maghrib dan isya.

Kemewahan Airbus A330-300

Dengan pesawat yang jenisnya sama tetapi lebih bongsor, aku akan diterbangkan ke negeri Kanguru. GA 0717 tampak lebih padat dibandingkan pesawat airbus yang aku naiki dari Soeta tadi. Isinya tentu saja bule semua. Jadwal penerbangan pukul 22.25 WITA, jujur aku sudah nggak sabar pengen tidur. Posisi duduku ngga dekat jendela, tapi di seat tengah. Nggak masalah sih, penerbangan malam mau lihat apa juga kan. Kalau mau yang dekat jendela pilih nomor kusri berhuruf A atau J.

seat guru airbus a330 garuda indonesia

Pramugari membagikan seperangkat alat kenyamanan terbang dalam sebuah pouch bermotif batik. Isinya kaos kaki dan ear plug. Tentu saja ada selimut, earphone masih plastikan, dan ya.. bukan itu saja. Kukira karena sudah mau tengah malam ya nggak ada makan lagi. Eh, ada ternyata…dengan menu western. Oke…saatnya tidur.

Suara denting gelas membangunkanku, langit sudah berwarna jingga. Sarapan sedang dibagikan, sepertinya aku telah berada di atas langit Australia. Ada roti gemuk-gemuk, sosis, pie, dan entah apalagi. Intinya sih aromanya sudah bule banget. Aku nggak begitu nafsu karena masih sangat ngantuk. Yaiyalah, ini masih dinihari kalau di Jakarta.

breakfast on board garuda indonesia

Sebelum pesawat turun, pramugari akan mebagikan form declare buat imigrasi. Pastikan kamu bawa pulpen ya, untuk menuliskan declare barang bawaan. Tulis sejujur-jujurnya biar nggak ribet nanti urusan sama imigrasi. Isi saja pas di pesawat sekalian. Kalau kamu sekeluarga, bisa ngisi 1 form saja. Tapi sebaiknya sih isi masing-masing.

Pemeriksaan Imigrasi Di Negara Tujuan

Pukul 07.25 waktu Sydney atau 03.25 WIB pesawatku mendarat di bandara Kingsford Sydney. Nggak seramai Soeta ternyata. Agak deg-degan sih, karena harus melewati pemeriksaan yang terlihat lebih ketat. Kami diminta berbaris dengan rapi gitu sebelum barang bawaan semuanya diperiksa. Nggak hanya x-ray, ada anjing juga yang mengendus masing-masing koper. Ketika koperku lagi diperiksa, aku melihat ada penumpang yang kopernya musti dibongkar semua. Kayaknya sih dia bawa kerajinan kayu-kayu gitu dari Bali.

custom sydney

Yang musti diwaspadai ketika datang ke sebuah negara adalah aturan di imigrasinya ya. Barang bawaan terlarang nggak hanya narkoba lho. Setiap negara punya aturan masing-masing. Kalau ke Australia, sebaiknya ngga bawa produk susu dan olahannya. Kayu dan sejenisnya. Eh tapi biola gitu boleh. Bumbu atau keripik yang nggak ada mereknya juga jangan dibawa. Tenaaang…INDOMIE DAN BERAS LOLOS. Drone juga boleh kok.

Baca: Menerbangkan drone di Australia

Ada random check juga dengan diwawancara gitu, tapi aku nggak kebagian. Jadi ya habis lolos dari pemeriksaan barang langsung antri masuk gate dan disapa “welcome to Australia”. Tanpa ada pemeriksaan visa dan cap di paspor ahahha. Kalau negara lain beda lagi. Jadi, kalau tujuan traveling kamu buat nambahin cap di paspor, nggak bisa ke Sydney ya ahhaha.

imigrasi sydney

Pesawat itu moda transportasi yang aman, nggak usah khawatir. Long flight memang menjemukan, apalagi kalau siang. Siapkan saja amunisi seperti buku, game, atau tumpukan deadline kerjaan buat diberesin di pesawat. Itulah step by step cara naik pesawat ke luar negeri dengan transit, semoga bermanfaat.

Continue Reading

Australia | Traveling

Kenapa Di Sydney Lebih Rajin Nyuci Baju?

By on Desember 9, 2018
Aku suka mencuci baju
Urusan nyuci baju adalah pekerjaan rumah tangga yang wajib dilakuin tapi berat. Jaman kuliah saja rela ngurangin duit jajan biar bisa ngelaundry kok. Lha apalagi sekarang jaman sudah kerja? Tapi ternyata, Sydney merubah hidupku. Di sana aku beneran super rajin nyuci baju. Kok bisa?

Mesin Cuci Serba Auto

Maafkanlah wong ndeso ini. Hari pertama sampai di apartemen, aku udah seneng tuh karena ada ruang khusus laundry. Jadi di tiap unit tuh ada 1 kamar yang isinya mesin cuci, pengering, sama wastafel. Keranjang baju, sabun, meja setrikaan dan setrikanya sudah tersedia. So, meski aku ga bawa baju banyak dari Indonesia tetep aman.

Pas mau nyuci, eh kok masukin airnya gimana ya? Di rumahku, juga di kosanku, yang namanya mesin cuci tuh pasti ada selang airnya buat masukin air. Juga ada selang keluar buat buang air bekas cucian. Mesin cuci ini tanpa selang. Lalu pencetanya banyak banget ahahah.

Taukah apa yang kulakukan? Aku nampung air dong dari wastafel di sebelah mesin. Nah air itu aku tuang dikit-dikit ke mesin cuci. Dan, ketika sudah penuh…aku pencet tombol “wash” tadaaaa byurrrr air keluar sendiri dari mesin cuci. 

Pencetan mesin cuci ini banyak. Ternyata bisa ngeringin juga dalam satu lubang. Wow praktis sekali bukan? Lalu aku mikir “kalau mesin cuci ini bisa ngeringin baju ngapain ada pengering di atasnya?”.

Ternyata baju yang dikeringkam di mesin cuci masih “cepel” gitu. Basah nyemek-nyemek ‘halah. Jadi ya perlu dikeringkan lagi secara super di mesin pengering yang alhamdulillah ngga banyak pencetan ahahah.

Ngga  Njemur

Pernah nggak sih mikir gini “orang bule di filem-filem kok ngga kliatan jemuran bergelantungan ya?” Hihi. Terutama yang tinggalnya di apartemen. Ternyata di sini tuh umum untuk memiliki mesin pengering baju. Jadi nggak perlu njemur sama sekali. Di apartemen ini juga nggak ada balkon, jangan aneh-aneh mau naliin tambang jemuran di ruang tamu ya.

Karena antara nyuci, ngeringin, nyetrika, sudah terintegrasi maka aku nggak perlu ngeluarin duit dan tenaga buat laundry. Kalau di Indonesia aku punya fasilitas gini sih kayaknya bakal sekalian aku bisnisin deh, eheeh. 

Lalu gimana setelah balik ke Indonesia? Hiks semua kembali ke kebiasaan awal. Baju kotor numpuk, laundry, mager nyuci baju sendiri, kalau bisa nggak nyetrika.

Teknologi memang memudahkan segalanya. Aku menikmati. Kelak di rumahku perlu ada ruangan khusus laundry seperti ini.

Continue Reading

Tought

Kaleidoskop 2018 dan Resolusi 2019

By on Desember 6, 2018

Kaleidoskop 2018 dan Resolusi 2019
Sudah menjadi kebiasaanku untuk
menuliskan kaleidoskop dan resolusi sebelum tahun baru. Karena ini sudah masuk
Desember, dan Alhamdulillah diberi kewarasan pikiran mari kita segera
menuliskannya. Bagiku nulis kayak gini penting, sebagai pengingat dan ya aku
jadi bisa lebih menghargai waktu.

Kaleidoskop, Highlight 2018

Tahun 2018 adalah tahun yang “GREAT”
buat aku. Banyak hal tak terduga yang terjadi. Tak terduganya itu yang bahkan
aku sendiri nggak pernah bayangin sebelumnya. Aku mengawali 2018 dengan kondisi
yang kurang fit secara pikiran sebenarnya. Tapi semenjak kepergianku ke benua
sebelah, aku merasa lebih baik.
Pekerjaan
Pencapaian layaknya SULTAN dengan
tinggal di suite mewah di tengah kota Sydney, jalan-jalan di mall mahal. Alhamdulillah
pekerjaan tahun ini bisa dibilang stabil. Ada masanya super sibuk hingga lagi
jalan-jalan di puncak gunung saja bawa catetan kerjaan, ada kalanya slow. Patut
disyukuri untuk semua kepercayaan yang diberikan kepadaku tahun ini.
Hobi
Ngeblog itu masuk hobi sih, tapi
bisa juga masuk kerjaan ya. Alhamdulillah, blog lancar jaya. Aku emang sudah
nggak aktif di beberapa komunitas, eventpun jarang banget. Tapi aku coba konsen
dengan komitmen mengisi blog secara kontinyu. 
Bergabung di Danone Blogger Academy juga sebuah pencapaian yang harus distabilo di 2018. Aku dapat ilmu, pengalaman, dan networking baru. Alhamdulillah, aku menjadi best story telling dari hasil tugas akhir. InsyaAllah tulisan yang kubuat juga segera dibukukan.
Drone dan videografi adalah hobi
baru di 2018 ini. Aku belajar dengan sangat militant untuk teknik menyajikan
video. Beneran aku sampai kurang tidur dan kurang tenang kadang-kadang demi
ini. Ambisi di bidang videografi beberapa kali mendapatkan apresisasi yang tak
terduga juga. Mana pernah aku bermimpi bisa menang lomba video atau videoku
viral?
Traveling lebih jauh dan lebih
ekstrim. Dulu aku anak rumahan banget. Palingan main juga ke mall. Sekarang,
rasanya kalau weekend nggak pergi jauh tuh ada yang kurang. Blusukan ke Bandung
sebelah dalaam banget sampai nyasar, pedalaman Kalimantan, Pedesaan Bali, atau
mengulik gang-gang di Jakarta.
Tapi aku mengalami penurunan
signifikan dalam hobi membaca buku. aku sadar ini nggak bagus buat kesehatan. Sebab,
aku merasa lebih waras saat membaca dan menggambar. Ambisiku di bidang video
mungkin menyita sebagian besar waktuku.

Interpersonal
Karena langkah kakiku semakin
panjang, aku kini mengenal lebih banyak orang. Ketika hobi berkembang,
jaringanpun melebar. Di sisi lain, waktuku bertemu dengan keluarga dan sahabat
jadi semakin minim. Sungguh hal yang kalau diingat tuh sedih banget, aku janji
2019 harus lebih baik.
Baca:
Kaleidoskop 2016 awal yang baru
Kaleidoskop 2015 menemukan jati diri
kaleidoskop 2014 Revolusi mental
Kaleidoskop 2013  titik balik
Kaleidoskop 2012  mencari jati diri


Resolusi 2019

Setiap menuliskan resolusi, harus
jelas dan nyata. Nggak boleh abstrak gitu, nanti hasilnya juga abstrak. Aku udah
nggak mau mikir lagi soal target-target yang berkaitan dengan umur seperti yang
dikata orang. Terserah aku.
1| Kuliah S2 Manajemen
2| Punya sebidang tanah di
Jakarta
3| Punya apartemen untuk
disewakan
4| Upgrade kemampuan fotografi
dan videografi
5| one day one juzz (yang 2018
sudah nggak dijalanin, huhuuu)
6| mi instan maksimal 1 bulan
sekali
7| melunasi hutang puasa
8| lari minimal 1km per minggu
9| Traveling ke Padang
10| Traveling ke Penang
Yang pasti, aku ingin menjalani
hidup lebih tenang. Tak perlu ada distraksi yang tak penting. Untuk sementara
segitu dulu resolusinya, tapi pasti berkembang setiap bulan. Dengan menyebut
nama Allah yang maha pengasih dan maha penyanyang.

Continue Reading

Australia | Traveling

Separuh Jiwaku Tertinggal Di Sydney

By on Desember 2, 2018
Bondi beach sydney

Troli yang tak berat-berat amat itu kudorong masuk ke lift. Paspor sudah siap di tangan. Segera aku memasuki bandara International Sydney untuk check in. Mataku sembab, aku merasa belum siap kembali ke Indonesia. Aneh memang, harusnya aku bahagia dong bakal ketemu bakso lagi ahaha juga es teh manis. Tapi, aku merasa separuh jiwaku tertinggal di Sydney. 

Yang Kurindukan Dari Sydney

Hidupku terasa positif banget di Sydney. Teratur, dunia akhirat ahhaah. Karena makna hari yang bermakna buatku adalah ketika aku bisa menjalani schedule harian tanpa lupa sholat, tanpa lalai nyuci baju, dan dibonusin masih sempat masak.

Susu Segar Murah Meriah
Aku susah banget naik berat badan. Tapi di Syndey naik signifikan dong. Lha gimana engga, tiap minum pasti susu segar kok. Di Indonesia aku juga mau gitu, tapikan mahal banget. Di Sydney seliter susu segar dihargai 10ribu rupiah saja. 

Sayuran dan buah murah
Nggak hanya susu, sayuran dan buah juga murah dan segar-segar. Ini yang bikin aku semangat masak, selain juga karena biar hemat dan masih menikmati cita rasa Indonesia.

Meriton world tower
Jadi selama di Sydney aku tingga di Meriton world tower. Lantai entah berapa puluh deh, sehingga pemandangan 360 derajat adalah sejembreng Sydney. Ya, 360 ada kacanya kalau mau dibuka ahahha. Saking tingginya, pas lagi mendung awan-awan lewat depan kaca. Oiya aku juga bisa melihat pesawat lalu lalang di seberang gedung layaknya angkot.

Makan Siang Di Taman Kampus
Ritme hidup di sini memang sangat teratur. Saat jam makan siang tiba, segera deh bawa bekal makanan ke taman kampus. Soalnya, kalau beli di kanton mahal banget ya ahahaha. Angin sepoi-sepoi menerpa sekotak nasi goreng, betapa syahdunya!!!

Jalan kaki kemana-mana
Akhirnya ngerasain juga kayak di filem-filem nyeberang jalan dengan suara sirine khas. Anyway sirine kayak di Sydney ini sekarang sudah ada di sekitaran jalan MH Thamrin Jakarta.
Meski transportasi publik murah, aku lebih suka jalan kaki. Biar bisa nikmatin dan nemuin hal-hal baru. 

Selain hal-hal di atas, aku merasa di Sydney perasaan ini tentram banget. Aku sering bepergian jauh, tapi di kota inilah aku merasa seimbang jiwa raga dunia akhirat. Aroma kopi dari coffee shop depan kampus yang setiap pagi kulewati apa kabarnya sekarang? Jika Tuhan mengijinkan, semoga suatu saat bisa tinggal lebih lama di Sydney.

Continue Reading