Australia | Traveling

Kenapa Di Sydney Lebih Rajin Nyuci Baju?

By on Desember 9, 2018
Aku suka mencuci baju
Urusan nyuci baju adalah pekerjaan rumah tangga yang wajib dilakuin tapi berat. Jaman kuliah saja rela ngurangin duit jajan biar bisa ngelaundry kok. Lha apalagi sekarang jaman sudah kerja? Tapi ternyata, Sydney merubah hidupku. Di sana aku beneran super rajin nyuci baju. Kok bisa?

Mesin Cuci Serba Auto

Maafkanlah wong ndeso ini. Hari pertama sampai di apartemen, aku udah seneng tuh karena ada ruang khusus laundry. Jadi di tiap unit tuh ada 1 kamar yang isinya mesin cuci, pengering, sama wastafel. Keranjang baju, sabun, meja setrikaan dan setrikanya sudah tersedia. So, meski aku ga bawa baju banyak dari Indonesia tetep aman.

Pas mau nyuci, eh kok masukin airnya gimana ya? Di rumahku, juga di kosanku, yang namanya mesin cuci tuh pasti ada selang airnya buat masukin air. Juga ada selang keluar buat buang air bekas cucian. Mesin cuci ini tanpa selang. Lalu pencetanya banyak banget ahahah.

Taukah apa yang kulakukan? Aku nampung air dong dari wastafel di sebelah mesin. Nah air itu aku tuang dikit-dikit ke mesin cuci. Dan, ketika sudah penuh…aku pencet tombol “wash” tadaaaa byurrrr air keluar sendiri dari mesin cuci. 

Pencetan mesin cuci ini banyak. Ternyata bisa ngeringin juga dalam satu lubang. Wow praktis sekali bukan? Lalu aku mikir “kalau mesin cuci ini bisa ngeringin baju ngapain ada pengering di atasnya?”.

Ternyata baju yang dikeringkam di mesin cuci masih “cepel” gitu. Basah nyemek-nyemek ‘halah. Jadi ya perlu dikeringkan lagi secara super di mesin pengering yang alhamdulillah ngga banyak pencetan ahahah.

Ngga  Njemur

Pernah nggak sih mikir gini “orang bule di filem-filem kok ngga kliatan jemuran bergelantungan ya?” Hihi. Terutama yang tinggalnya di apartemen. Ternyata di sini tuh umum untuk memiliki mesin pengering baju. Jadi nggak perlu njemur sama sekali. Di apartemen ini juga nggak ada balkon, jangan aneh-aneh mau naliin tambang jemuran di ruang tamu ya.

Karena antara nyuci, ngeringin, nyetrika, sudah terintegrasi maka aku nggak perlu ngeluarin duit dan tenaga buat laundry. Kalau di Indonesia aku punya fasilitas gini sih kayaknya bakal sekalian aku bisnisin deh, eheeh. 

Lalu gimana setelah balik ke Indonesia? Hiks semua kembali ke kebiasaan awal. Baju kotor numpuk, laundry, mager nyuci baju sendiri, kalau bisa nggak nyetrika.

Teknologi memang memudahkan segalanya. Aku menikmati. Kelak di rumahku perlu ada ruangan khusus laundry seperti ini.

Continue Reading

Australia | Traveling

Separuh Jiwaku Tertinggal Di Sydney

By on Desember 2, 2018
Bondi beach sydney

Troli yang tak berat-berat amat itu kudorong masuk ke lift. Paspor sudah siap di tangan. Segera aku memasuki bandara International Sydney untuk check in. Mataku sembab, aku merasa belum siap kembali ke Indonesia. Aneh memang, harusnya aku bahagia dong bakal ketemu bakso lagi ahaha juga es teh manis. Tapi, aku merasa separuh jiwaku tertinggal di Sydney. 

Yang Kurindukan Dari Sydney

Hidupku terasa positif banget di Sydney. Teratur, dunia akhirat ahhaah. Karena makna hari yang bermakna buatku adalah ketika aku bisa menjalani schedule harian tanpa lupa sholat, tanpa lalai nyuci baju, dan dibonusin masih sempat masak.

Susu Segar Murah Meriah
Aku susah banget naik berat badan. Tapi di Syndey naik signifikan dong. Lha gimana engga, tiap minum pasti susu segar kok. Di Indonesia aku juga mau gitu, tapikan mahal banget. Di Sydney seliter susu segar dihargai 10ribu rupiah saja. 

Sayuran dan buah murah
Nggak hanya susu, sayuran dan buah juga murah dan segar-segar. Ini yang bikin aku semangat masak, selain juga karena biar hemat dan masih menikmati cita rasa Indonesia.

Meriton world tower
Jadi selama di Sydney aku tingga di Meriton world tower. Lantai entah berapa puluh deh, sehingga pemandangan 360 derajat adalah sejembreng Sydney. Ya, 360 ada kacanya kalau mau dibuka ahahha. Saking tingginya, pas lagi mendung awan-awan lewat depan kaca. Oiya aku juga bisa melihat pesawat lalu lalang di seberang gedung layaknya angkot.

Makan Siang Di Taman Kampus
Ritme hidup di sini memang sangat teratur. Saat jam makan siang tiba, segera deh bawa bekal makanan ke taman kampus. Soalnya, kalau beli di kanton mahal banget ya ahahaha. Angin sepoi-sepoi menerpa sekotak nasi goreng, betapa syahdunya!!!

Jalan kaki kemana-mana
Akhirnya ngerasain juga kayak di filem-filem nyeberang jalan dengan suara sirine khas. Anyway sirine kayak di Sydney ini sekarang sudah ada di sekitaran jalan MH Thamrin Jakarta.
Meski transportasi publik murah, aku lebih suka jalan kaki. Biar bisa nikmatin dan nemuin hal-hal baru. 

Selain hal-hal di atas, aku merasa di Sydney perasaan ini tentram banget. Aku sering bepergian jauh, tapi di kota inilah aku merasa seimbang jiwa raga dunia akhirat. Aroma kopi dari coffee shop depan kampus yang setiap pagi kulewati apa kabarnya sekarang? Jika Tuhan mengijinkan, semoga suatu saat bisa tinggal lebih lama di Sydney.

Continue Reading

Australia | Traveling

Menemui Three Sisters di Hutan suku Aborigin Blue Mountain

By on September 21, 2018
blue-mountain-sydney
Adzan subuh berbunyi dari smartphonku, dan kulihat titik air hujan menempel di kaca apartemen. Rencana penting pagi ini membuatku nggak asik berhangat-hangat ria di kasur. Aku menolak pelukan mesra selimut Meriton world tower yang aromanya khas. Sydney sedang musim panas, tapi udaranya sedingin Jakarta kalau sedang musim hujan. Beranjak dari kamar, langsung kubangunkan teman-teman agar segera bersiap. Kami mau ke blue mountain yang ada di kawasan hutan suku aborigin sekitar 100km dari pusat kota Sydney. Hingga cerita ini ditulis, aku masih merasakan batapa bahagianya aku waktu itu. Momen yang barangkali takkan terulang. 

Blue mountain itu gunung biru?

Jujur saja aku cuma ‘manut’ teman-teman dengan rencana ini. Sama sekali belum kebayang blue mountain itu apaan. Kalau selama di Indonesia, yang namanya ke gunung itu kan harus bawa tenda atau jaket gitu. Dan pastinya harus tracking entah berapa kilometer. Tapi jangan mikir ribet dulu deh. Meski jaraknya 100km dari Sydney yang mana itu kalau di Indonesia bisa berjam-jam melewatinya…tapi ke blue mountain mah keciiilll.
central-station-sydney
central station sydney
Kota Sydney masih gelap saat aku dan teman-teman jalan kaki ke central station. Yak, selama maish dalam kota jalan kaki saja karena nyaman banget. Selama melewati pedestrian Sydney aku jadi terbayang blue mountain itu seperti apa dari cerita teman-teman yang sudah research. Ternyata blue mountain memang beneran gunung. Tapi memangnya biru? Nanti kita buktikan ya hahaa.

Kereta tingkat

Maaf norak, aku belum pernah naik kereta tingkat. Keretanya mirip kereta jarak jauh di Indonesia kok tapi tingkat. Lantai dasarnya agak ke bawah tanah gitu, jadi meski 2 lantai nggak setinggi bus tingkat. Kami naik kereta jurusan mount Victoria dan berencana turun di stasiun Katoomba. Dari central station, tarifnya hanya 2,5 dollar dengan opal card. Kalau dikurskan ke rupiah hanya sekitar 30ribu. Kok murah? Jadi, opal card itu semacam kartu untuk segala macam transportasi di Australia. Nah, kalau weekend ada diskon. Untuk semua alat transportasi bayarnya hanya sekali dan itupun 2,5 dollar pukul rata jauh dekat. 

Pedesaan Australia

Kereta beranjak dari pusat kota masuk ke suburban. Awlanya sih masih biasa, hmm kayak masuk daerah Cikampek gitu lah wkkwk. Eh kok makin lama makin syahdu berasa lagi nonton film ya. Ini mimpi aku banget bisa melihat pedesaan dengan tatanan ala Eropa. 

Bahkan nulis ini saja mataku berkaca-kaca.

Katoomba dari Sydney itu 100km dengan durasi perjalanan 2 jam. Selama itu pula mataku tak terpejam. Terlalu sayaang dong ya. Golden sunrise menyentuh ujung pepohonan di hutan, hangat. anyway, pepohonan di sini juga kayak di film-film ahahha. Nggak ada penampakan pohon ala Asia gitulah. Semakin menjauh drai Sydney, jalur kereta mulai menanjak dan kadang berkelok. Bayangkan saja naik kereta jalur selatan pas lewatin daerah Garut.

Baca: Panduan Membuat Visa Australia (termasuk biaya)

Membeku di Katoomba

Yak, akhirnya kereta merapat. Dengan pedenya kami serombongan orang-orang Indonesia ini keluar kereta. Dan…oh nooo…dingin banget. Makin shock ketika mau instastory dan melihat sticker temperature di angka 11 derajat celcius. Wow!! Matahari bersinar cerah tapi suhu sedingin itu. Biar segera dapat keringat, kami langsung bergegas keluar stasiun untuk menuju ke blue mountain. Lho belum sampai tho?
katoomba-station
katoomba station dalam 11 derajat celcius

Masuk ke Inggris masa lampau

Kesan pertama ketika keluar stasiun Katoomba adalah kembali ke masa lampau. Katoomba itu semacam Wonosobo buat para wisatawan ek Dieng, atau Malang buat yang mau ke Bromo. Halah kok contone jauh banget ya? biar gampang gitu bayanginya. Jadi semacam kota persinggahan dengan banyak toko cenderamata. Katoomba itu tatanan kotanya kayak tahun 80an banget. Terus nggak hiruk pikuk ya, senyap dan tenang. 
bus hop on hop off
hop on hop off

Buat ke blue mountain aku perlu naik bus dari sini. Tenang, ndak perlu nyari terminal dan naik ojek. Langsung saja dari stasiun tinggal nyebrang. Ada haltenya di sana. Pilihan busnya ada bus hop on hop off maupun bus biasa sejenis transjakarta. Bus hop on hop off itu yang warna merah, tingkat, nggak bisa pakai opal card. Tentunya demi penghematan, aku pakai bus biasa dong ahhaha. Sepanjang perjalanan di bus, pemandanganya luwaar biasa. Sungguh ini bagaikan filem (sudha berapa kali aku bialng begini sih). Hutan, jalanan berkelok yang lengang, rumah mungil bergaya Eropa, wow. 

Beneran biru

Bus berhenti di beberapa halte, dan karena tujuanku adalah blue mountain maka kami turun di echopoint. Echopoint itu lokasi tempat menikmati blue mountain. Berapa tiket masuknya? Nggak ada!! Serius lho. Tinggal menikmati saja semua fasilitasnya. Termasuk toilet yang ada air hangatnya itu juga gratis. 
blue-mountain
echo point blue mountain
Tidak ada gunung warna biru layaknya gunung Slamet ya sodara-sodara. Blue mountain itu malah semacam dataran tinggi dengan pepohonan yang jika terkena cahaya matahari jadi kebiruan. Itu asal muasalnya. Langitnya kontras karena pas kami datang kondisinya cerah banget meski udaranya super dingin. 
Di blue mountain echopoint ini ada semacam spot foto gitu, tapi elegan. Nggak kayak di Indonesia yang malah dikasih lopelope atau tulisan apalah. Ada track lari juga, track bersepeda, banyak deh. Kayaknya bisa seharian di sini mah asik. 

Legenda Three sisters suku aborigin

Tersebutlah legenda yang ada di blue mountain tentanga sal muasal 3 bukt batu itu. Katanya nih jaman dulu ada 3 gadis aborigin bernama Meenhi, Wimlah, dan Gunnedoo. Mereka ini punya bapak penyihir. Nah suatu hari salah satu dari mereka menjatuhkan batu ke jurang dan membangunkan makhluk jahat yang akhirnya mengubah mereka menjadi batu. 
three sisters
itu lho three sisters
Versi lain kisahnya lebih tragis. Konon ada 3 gadis suku aborigin yang dilarang menikah oleh karena aturan di sana. suatu ketika mereka jatuh cinta. Lalu mereka dikutuk jadi batu. Eh kok malah jadi mirip Malin kundang atau Sangkuriang ya? 
giant stairway
tangga curam
Apapun itu, keberadaan kisah-kisah legenda bikin tempat wisata jadi seru sih. Tapi jujur saja di lembah three sisters aku merasakan lelah yang teramat syaang. Teman-temanku pada selfie aku mah milih duduk di kursi di pojok bukit. Kayak ada yang menyerap energiku ahhaha. Yaiyalah, kan jalan kaki dari echopoint lalu menuruni tangga 90 derajat ke bukit ini ngabisin energi. Foto di bawah ini diperankan oleh model, travelblogger yang sudah keliling Asia, yurop, sendiriaan lho. Dia meja kerjanya cuma 10 langkah dari mejaku tapi kami jarang ketemu. Ini, blog nya nih…>  https://heremyplayground.wordpress.com/ asli dia mah tipikal orang yang piknik tapi hampir nggak pernah instastory.
three sisters blue mountain
ini aja sih tujuan rangorang nurunin bukit terjal tadi

Ada nasi goreng teri di hutan aborigin

Apakah aku orang pertama yang menjatuhkan DNA ikan teri di hutan suku aborigin ini? Demi menghemat uang saku, habis sholat subuh tadi aku masak bekal sekalian buat serombongan. Spesial lho, nasi goreng teri!!! Kurang krupuk saja yang kami subtitusi pakai kripik kentang. Hari menjelang siang, suhu udara masih belasan derajat celcius. Mari sarapan.
nasi goreng australia
otentik Indonesia

Nggak nemu air terjun katoomba

Berbekal peta wisata, serombongan anak-anak Indonesia ini menuju air terjun katoomba yang ngga jauh dari echo point. Halah di Indonesia juga banyak grujugan, ya tapi kami pengen tahu sih gimana air terjunnya bule. So, langkah demi langkah menapaki trek jalan kaki yang disediakan..dan badanku lemas lagi. Hutan ini beneran menyerap energiku nih kayaknya ahahha. Yang lain lanjut turun, aku balik ke naik ke jalan raya. Duduk di semacam tempat nunggu bis gitu tapi bergaya Inggris. Ya apasih yang nggak unik di sini. Kerasa kayak di filem-filem (lagi). 
workout sydney
planking di jalan
Tak lama kemudian, teman-temanku menampakan diri. Kata mereka air terjunnya nggak ada. Loh! Yaudah, demi menghangatkan badan serta bisa sexy kayak orang Australi aku memilih planking saja di tepi jalan. 
Masih tengah hari di Blue mountain, tapi badan sudah capek banget. Mendingan balik deh ke kota. Dan ternyata pas banget pas sampai stasiun Katoomba, kereta ke Sydney station mau berangkat. Lariiiiiiiii!

Momen tak terlupakan

Seperti yang kubilang di awal, perjalanan ke blue mountain ini bisa jadi momen tak terlupakan di 2018. Untungnya aku bawa hape, apa pasal? Kemana-mana aku memang bawa kamera mirrorless, tapi pas ke blue mountain ini baterainya habis. Kemarinnya aku barusna jalan ke Bondi beach, the rock, dan kawasan sekitaran apartemen. Hunting foto kesana kemari. Malemnya nggak ngecas, berangkat subuh. Yaudah deh. Baru sampai kereta baterai merah. 
huawei nova 3i
Smartphone dengan kamera mumpuni itu penting banget buatku yang suka pepotoan dimanapun dan kapanpun. Tapi, kalau kapasitasnya kecil seperti punyaku sekarang juga buat apa? Aku lagi pengen upgrade smartphone nih. Maunya tuh yang kayak Huawei Nova 3i , lihat deh fitur andalanya yang aku banget. 

Continue Reading

Australia | Beauty | Traveling

Hunting Sepatu Wanita di Sydney

By on Juli 21, 2018
Sebelum aku berangkat ke Sydney, salah seorang sahabat bilang kalau dia mau nitip sepatu. Katanya sepatu di Australia bagus-bagus. Aku malahan baru tahu kalau sepatu merupakan salah satu item oleh-oleh wajib dari Ausy. Ternyata benar, kalau melihat di jalan sih…item fashion sepatu orang-orang Sydney termasuk kece-kece. Sepatu wanita model terbaru jenis sport bertebaran di jalan, sepatu bulu-bulu, boot aneka bentuk, wow…dan harganya kurasa lebih murah daripada di Indonesia.

sepatu army

Sepatu army

Jadi ceritanya aku ke Sydney cuma bawa 1 sepatu, yaitu converse andalan yang sudah 5 tahun hidup Bersama. Eh trenyata di sini aku harus jalan kaki tiap hari ke kampus. Rasanya kok kurang nyaman gitu, ingin sepatu yang lebih ringan.
Akhirnya aku ke supermarket yang bernama K-mart yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Di sini aku bisa dapetin aneka barang dari perkakas hingga alat make up dengan harga miring. Keliling k-mart adalah hiburan tersendiri. Aku bergegas ke area sepatu dan menemukan sepatu wanita model terbaru sneakers putih dengan bordiran bunga-bunga di bagian ujungnya.
Sneakers putih itu lucu sih, tapi yang aku perlukan sepatu ringan. Akhirnya di rak sepatu untuk anak-anak aku menemukan sepatu selop bermotif army. Yey, unik dan nyaman banget dan harganya tentu murah. Ketika aku upload ke Instagram, banyak yang nanya beli dimana dan mau nitip hehhe.

Sepatu boot hitam

Masih di k-mart, aku menemukan area khusus berupa rak sepatu boot. Modelnya banyak, warnanya beragam, dan harganya dari range murah sampai mahal ada semua. Aku memilih sepatu boot hitam dengan bahan beludru dan aksen resleting. Kebetulan yang untuk nomorku ada. Anyway sepatu ini sampai sekarang baru aku pakai sekali. Merasa sayang saja nanti debuan atau kena becek di jalan.

Sepatu Made In Indonesia

Di bawah apartemenku ada toko sepatu yang cukup besar. Ada berbagai merek terkenal dan sepatu wanita model terbaru tentunya. Dari sisi harga sih lebih murah daripada di Jakarta. Yang bikin kaget adalah, ada sepatu Adidas made in Indonesia. Wow, sungguh aku baru tahu. Apakah aku beli? Tentunya tidak, hehhe. Jujur saja ku baru tahu ada speatu dengan brand tersebut yang bikinan Indonesia. Malah kalau di Indonesia sendiri yang beredar bikinan luar negeri.

Sepatu Bulu-bulu

Inilah yang dimaksud temanku. Sepatu booth dengan bahan lembut disertai dengan aksen bulu-buku. Kayaknya memang khas Australia deh. Karena pas aku jalan-jalan di Paddys market pusat oleh-oleh Sydney sepatu ini banyak banget. Meskipun ketika itu sedang summer, tapi tetap dipajang dimana-mana. Menurutku sepatu ini cocok dipakai saat winter, tapi summernya di Syney juga adem sih.
sepatu australia

Jarang Lihat Sandal Jepit

Aku sih jarang banget atau malah hampir nggak pernah melihat orang pakai sandal jepit di jalan. Mostly gaya street fashion mereka adalah sporty. Sepatu sneakers yang nyaman untuk jalan kaki tentunya, sebab di Sydney orang hobi jalan dan kecepatannya luar biasa. Kecepatan berjalan ini terbawa olehku sampai di Indonesia. Kalau di sini orang jalan cepat sering dipandang aneh. Tapi di Sydney sebaliknya.

Aku rasa hunting sepatu di Sydney bukan hal yang sulit. Selera fashion mereka bagus dan bisa menjaid rujukan sebelum membeli. Model-model sepatunya beragam dan nggak ketinggalan jaman. Tapi ingat saja dengan berat bagasi ya kalau mau membawa oleh-oleh. Sekedar tips, kardus sepatu nggak perlu dibawa.

Continue Reading