Review | Traveling

Bilangnya Sudah OTW Naik GOJEK, Berani Pakai Fitur Bagikan Perjalanan?

By on Mei 3, 2019
Uninstall khawatir gojek

Sering enggak sih, janjian sama teman, eh dianya enggak dateng-dateng. Bilangnya sih sudah OTW naik GOJEK, ditunggu sampai ganti purnama enggak muncul di lokasi saya. OTW memang penuh arti, bisa saja yang si teman maksud adalah “Oke Tunggu Wae” (iya tunggu saja).

Tapi tenang, saya mau kasih tahu sekarang, GOJEK ada fitur baru namanya Bagikan Perjalanan, yang mungkin bisa menjadi salah satu jawaban atas masalah di atas. 🙂

Bagikan Perjalanan

Biasanya kalau sudah nunggu lama seperti kondisi di atas, saya minta teman saya screen capture bukti orderan GOJEK. Setelahnya, saya minta dia share location secara real time pakai Whatsapp. Demi ketenangan bersama, ya kan? Kalau dia enggak berani, mungkin beneran OTW-nya bukan On The Way, tapi Oke Tunggu Wae. Kesel, kan, kalau sudah dandan atau mempersiapkan segalanya, eh, ternyata dianya PHP.

travel-blogger-hijaber

 

Nah, setelah update aplikasi GOJEK, ternyata ada fitur baru yang seperti menjawab kerisauanku tadi. Fitur itu bernama Bagikan Perjalanan, yang memungkinkan kita membagikan tautan kepada teman, keluarga atau kerabat melalui Whatsapp, LINE, SMS, atau aplikasi bertukar pesan lainnya.

Enggak hanya informasi mengenai nomor polisi kendaraan driver, jenis kendaraan, tapi juga sedetail titik pick up dan drop off. Bisa memantau juga si temen yang OTW mampir-mampir dulu apa langsung menuju ke lokasi saya sekarang karena terdapat fasilitas live location. Iya, ada live location, jadi kita tahu rute yang diambil si driver. Kadang kejauhan, kadang dekat, tapi terkadang harus melewati macet. Nah, kita bisa memberi tahu teman kita rute-rute terbaik.

Memang sih, sebenarnya GOJEK bikin fitur Bagikan Perjalanan ini buat keamanan, ya. Misal kita menyasar, salah menentukan titik drop off. Mau ke jalan Pangkal Pinang, eh, malah ke gang Tanjung pinang. Kalau lagi buru-buru sih bisa saja terjadi. Ya saya pernah soalnya, salah jalan waktu janjian. Untungnya sempat share lokasi saya ke teman, eh ternyata keliru. Fitur ini sudah berlaku di seluruh Indonesia baik untuk GO-CAR dan GO-RIDE.

Ada fitur keren lainnya

Jadi, coba deh, update aplikasi GOJEK kalian ke yang terbaru. Ketika kita sudah order GO-RIDE atau GO-CAR, ada menu Pertolongan Pertama pada Trip. Nah, di menu ini ada sub-menu: Trip ini diasuransikan, Buku Keamanan, Bagikan Perjalanan, dan Tombol darurat.

Uninstall khawatir gojek

Loh, ternyata banyak ya fitur dan layanan GOJEK! Iya, memang lengkap banget. Fitur Tombol Darurat, misalnya, yang memungkinkan pengguna mendapatkan rasa aman karena fitur tersebut akan langsung terhubung pada Unit Darurat GOJEK yang siap melayani 24 jam non-stop jika terjadi keadaan darurat bagi penumpangnya. Keadaan darurat ini misalnya kalau ada tindakan kriminal di jalan, yang tentunya bisa saja terjadi kapan saja.

Tombol Darurat sudah bisa diakses costumer GO-CAR se-Indonesia. Semoga bisa diakses di GO-RIDE juga ya. Eh tapi semoga kita gak pernah pakai fitur ini ya dan selalu aman di jalan. Bermanfaat banget buat aku yang suka traveling mblusuk-mblusuk.

Baca: 5 hal menarik di Belitung (selain pantai)

Program edukasi dan Driver Jempolan

Selain fitur keren di atas, kalian suka heran enggak sih, kok driver GOJEK itu ramah-ramah. Nah, ternyata GOJEK memang melakukan proses rekrutmen yang ketat untuk menyeleksi driver-driver pilihan serta GOJEK juga menyediakan modul pelatihan pada setiap driver, yang berisikan informasi mengenai cara menggunakan aplikasi pengarah jalan, cara merawat kondisi kendaraan, patuh pada peraturan lalu lintas, dan cara memberikan pelayanan yang baik.

GOJEK juga bekerjasama dengan Rifat Drive Labs (RDL GOJEK) dalam penyelenggaraan pelatihan bagi para driver, yang programnya juga merupakan hasil inisiasi Duta Keselamatan Berkendara, Rifat Sungkar, lho.

Dalam waktu 4 tahun terakhir, lebih dari 300 ribu mitra pengendara GOJEK di 20 kota Indonesia sudah bergabung dalam program ini. Program ini masih berjalan dan setiap bulannya diikuti sekitar 10 ribu driver. Program ini memberikan edukasi mengenai. Pengetahuan tentang tanggung jawab, kesabaran, dan empati, defensive riding, keselamatan berkendara, pre-trip inspection, dan sesi praktek.

Selain itu, GOJEK juga memberikan edukasi kepada mitra driver melalui #TrikNgetrip, sebuah program edukasi yang menyampaikan pesan dengan cara yang menyenangkan untuk para mitra driver dalam memberikan pelayanan terbaik dan tips dalam berkendara serta perjalanan.

GOJEK pun menyelenggarakan serangkaian workshop dalam upaya meningkatkan keterampilan mitra driver melalui Bengkel Belajar Mitra. Program ini rutin diselenggarakan di berbagai kota Indonesia dengan menggandeng para profesional di bidangnya masing-masing untuk memberi pembekalan kepada driver GOJEK dalam meningkatkan layanan dan mengasah pengetahuan di bidang lainnya.

Untuk para mitra driver yang telah memberikan pelayanan super dan memiliki kontribusi positif di masyarakat, GOJEK turut mengapresiasi dengan memberikan penghargaan, bernama Driver Jempolan. Penghargaan ini diberikan GOJEK untuk memotivasi para mitra driver untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Penghargaan ini disematkan pada driver berupa pin pada jaket GOJEK mereka.

Asuransi GO-RIDE

Enggak cuma itu, lho. GOJEK juga memberikan perlindungan asuransi kepada customer GO-RIDE. Perlindungan asuransi ini merupakan bentuk nyata GOJEK dalam memberikan rasa keamanan, kenyamanan, hingga memastikan, penumpang telah terlindungi dalam perjalanannya. Asuransi ini otomatis aktif, berlaku di seluruh Indonesia, dari waktu penjemputan hingga tiba di tujuan. Jika terjadi kecelakaan atau pencurian selama perjalanan, kita memanfaatkan perlindungan asuransi ini.

Bagaimana keren-keren enggak fitur-fitur GOJEK di atas? Bagi saya, fitur-fitur tersebut akan membuat saya makin “kerasan” menggunakan GOJEK. Saya juga dapat #UninstallKhawatir karena perjalanan tentunya bisa semakin nyaman dan aman.

Kalau kamu bagaimana? Buat yang mau mencoba fitur-fitur di atas, jangan lupa untuk update aplikasi GOJEK ke versi terbaru ya! Udah waktunya pakai GOJEK!

Continue Reading

Book | Review

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik

By on Maret 4, 2019

Aku pencemas, aku terlalu peduli dengan orang lain, aku terlalu banyak meikirkan hal yang harusnya dibikin bodo amat. Buku yang relatable dengan yang kurasakan akhir-akhir ini. Ingin seperti orang kebanyakan yang bisa cuek, atau setidaknya tak terlalu memikirkan sesuatu. Heu…itu alasan terbesarku membaca buku berjudul The Subtle Art of not giving a f*ck.

Identitas buku

Judul Asli : The Subtle Art Of Not Giving F*ck
Judul : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit: Grasindo
Beberapa kali buku bersampul orange ini lewat di IG story aku. Teman-teman sepertinya lagi suka membaca buku yang judulnya konyol, pikirku. Suatu pagi di Bandara Ahmad Yani Semarang, aku melihat buku ini secara fisik. Ehmm,,tapi mahal banget. Singkat cerita, malam harinya aku bersua lagi dengan buku ini di etalase best seller book Gramedia Balikpapan. Langsung deh aku cari ke rak.

“mas, buku bodo amat di sebelah mana ya?”
“heh..apa?”
“iya,,buku bodo amat”

Percakapan nggak jelas antara aku dan pramuniaga gramedia.

Review

Jaman sekarang ini mau nggak mau kita dipaksa mikir tentang banyak hal. Misalnya, pag-pagi buka Instagram. Ada si A update galau, jadi kepikiran deh. Lalu scroll…ada si B update lagi liburan.
Kepikiran lagi. Belum lagi jika ada si C, update quote yang kayaknya kok nyindir kita. Hadeu…lelah.
Gimana sih caranya biar bisa bodo amat? Nggak semua hal yang ada di ahdapan kita perlu disikapi dengan serius. Tapi gimana?

Ada 9 bab dalam buku ini yang diharapkan bisa kita jadikan renungan. Lewat candaan-candaan satire dan kisah-kisah yang fresh, aku sih merasa santai membacanya.

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik

Bab 1, jangan berusaha. Sebagai mukadimah, Mark Manson menjelaskan apa inti buku cara bersikap bodo amat.

Bab 2, kebahagiaan itu masalah. Bahagia, nyatanya berasal dari pemecahan masalah. So, kalau nggak ada masalah maka hidup flat…gitu.

Bab 3, Anda tidak istimewa. Seringkali kita measa istimewa lalu berpikiran sebagai korban. Dalam semua hal. Korban yang ingin diistimewakan, diperhatikan.

Itu preview saja ya, sisanya baca sendiri ehehe. Bab yang paling aku suka adalah “PENTINGNYA BERKATA TIDAK”. Karena ini sungguh sangat teramat related sekali denganku. Huh!

Pasti kalian yang membaca ini ada juga ya yang tipe nggak enakan dengan orang lain. Asli deh sifat ini tuh bikin kita sering cemas. Overwhelming. Lalu nggak bisa nikmatin momen hidup.

Tetapi kita perlu menolak sesuatu. Jika tidak, kita kehilangan alasan untuk bertahan. Jika tidak ada sesuatu yang lebih baik atau lebih diinginkan daripada yang lain, kita akan merasa hampa dan hidup kita menjadi tanpa makna. Kita hidup tanpa nilai dan akibatnya kita menghidupi kehidupan tanpa tujuan.

Menghindari penolakan (baik memberi atau menerima penolakan) sering ditawarkan kepada kita sebagai jalan untuk membuat diri kita merasa lebih baik. Tetapi menghindari penolakan memberi kita kenikmatan sesaat yang membuat kita tanpa kemudi dan tanpa arah dalam jangka panjang.

Kurang lebih seperti itulah The Subtle Art Of Not Giving F*ck. Hingga jadi new York time best seller. 4 dari 5 bintang deh.

Mungkin momennya pas, saat manusia terlalu banyak pikiran. Isi kepala rasanya penuh. Ada tuntutan untuk selalu positif, untuk mencoba segala macam hal, untuk berlomba dalam menggapai kebahagiaan dengan memiliki sebanyak-banyaknya sumberdaya.

Continue Reading

Photography | Review

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

By on Februari 28, 2019

Satu tahun setelah pembelian kamera sony A6000, baru nulis reviewnya. Ahahha biar nggak bodong dan kredibel juga sih isinya. Kamera super mungil dan ringan ini aku beli buat ngegantiin Fujifilm XA2. Aktivitasku dengan kamera adalah seputar pembuatan konten untuk blog dan Instagram dalam bentuk foto dan video. Kalau preferensimu sama kayak aku, bolehlah pilih A6000 ini.

Alasan pindah dari Fujifilm Ke Sony

Kamera mirrorless pertamaku adalah Fujifilm XA2. Mungkin karena kamera pertama ya, jadi rasanya tuh belahan jiwa banget. Waktu beli aku belum tahu segala macam pencetan kamera. Maklum ya, selama ini cuma kenal kamera hape dan kamera pocket. Waktu aku beli Fujifilm XA2, kamera mirrorless masih asing. Kebanyakan orang punyanya DSLR

Baca: Alasanku memilih Fujifilm XA2 Mirrorless

Setelah menjalani panas dan hujan bersama hingga melintasi benua, Fujifilm XA2 kulepaskan. Alasannya sih mau cari kamera yang ringkes dan buat video stabil. Ehemm,,waktu itu mulai jadi hamba warp stabilizer. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, aku beli sony A6000 body only secara online.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Kelebihan Sony A6000

Ringkas dan Enteng

Sesuai dengan ekspektasi, sony A6000 memang enteng dang lebih ringkes dari Fujifilm XA2. Bahkan kamera ini dengan lensa fix 35mm dapat mausk ke tas kondangan ahaha. Rasanya nggak perlu beli tas kamera kalau gini.

Video stabil

Ini sudah kubuktikan, meski Cuma pakai tangan…hasilnya tak seburuk Fujifilm XA2. Ya untuk hasil terbaik pakai gimbal saja lah ya. Tapi sekiranya terpaksa banget mau bikin video handheld pakai sony A6000 sudah lumayan.

Banyaknya pilihan Lensa

Aku beli kamera sony A6000 body only ya, jadi belum sama lensa. Ya amu gimana motretnya? Tenang, sony itu pilihan lensanya buanyak dna murah-murah. Ada loh yang ratusan ribu doang. Selama setahun ini aku sudah mencoba beberapa lensa. Diantaranya lensa tele sony 55-210 mm, lensa fix Fujian 35mm f 1.8, Lensa fix sony 35mm f 1.8, Lensa sigma 35mm F 1.4 . semoga nggak bingung ya. oke aku bagikan hasil gambarnya ya biar bisa bedain satu dengan lainnya.

Lensa Tele Sony 55-210mm

Salah satu motivasi aku beli lensa tele adalah buat motert bulan. Ehehe, tapi ternyata lensa tele bagus juga buat photo portrait. Aku beli merek sony, bekas seharga 2jutaan.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Lensa Fix Fujian 35mm F 1.8

Ini lensa termurah yang pernah kubeli, 700ribu saja loh. Pengennya sih dapetin foto bokeh-bokeh gitu. Kalian tahu lensa fix kan? Itu loh yang nggak bisa zoom in zoom out. Ternyata Fujian ini memang superbokeh ya, tapi ku tak terlalu suka bokenya yang lebay. Kayak membentuk lingkaran gitu. Dan sepertinya kurang tajam.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma
portrait (no male up lagi panas2an di pasar baru)
Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma
contoh low light

Lensa fix sony 35mm f 1.8

Yay, kelemahan Fujian bisa aku hilangkan dengan ganti lensa sony fix f 1.8. urusna bokehnya alami bangte. Tajam dan warnanya memuaskan. Buat foto maupun video mumpuni deh. Waktu itu dapat lensa bekas yang masih buagus ini seharga 2 jutaan juga.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Lensa fix Sigma 35mm f1.4

Aku lupa alasan membeli lensa sigma yang merupakan lensa termahal yang pernah kubeli. 3 jutaan bekasnya, fiuhhh. Tentunya aku menjual semua lensaku untuk membeli lensa ini.

Review Sony A6000 dipasangi lensa fix Fujian, Sony, Sigma

Kekurangan Sony A6000

Tidak ada Charger Eksternal

Kesan pertama ketika unboxing adalah kaget karena ternyata dalam paket pembelian nggak ada charger externalnya. Maksudnya bukan kabel ya, tapi adapter gitu. So, ketika mau ngecas kamera harus nancepin kabel langsung ke body.

Selain jadinya panas, kayak gini juga kurang efisien. Misal nih, aku lagi traveling lalu baterai habis. Yaudah, mau nggak mau ngecas dulu baru bisa motret lagi. Kalaupun ada baterai pengganti, kan ngecasnya musti di body.

Tapi tenang, adapter sejenis merek Kingma gitu yang bisa ngecas sampai 2 baterai di luar body nggak mahal kok. 70-100 lah kalau beli online. Di toko mungkin 200an. Waktu itu pas di Pasar baru malah aku ditawari seharga 500. Oh noooo.

Layar LCD belum bisa diputar

Buat yang suka vlog dengan gaya selfie, harap kecewa ya. sebab LCD A6000 belum bisa diputar loh. Aneh padahal seri sebelum-sebelumnya dengan kepala 5 sudah bisa diputar.

Tidak bisa dipasangi Mic

Aku sudah beli mic eksternal merek Boya seharga 800ribu. Nganggur banget nih silakan kalau mau dibeli. Soalnya sony A6000 nggak ada colokan buat mic eksternal. solusinya pakai recorder wireless, yang harganya lebih mahal ehehe.

Belum touchscreen

Kita sudah terbiasa mencet-mencet LCD nih, mungkin terasa rempong kalau harus mencetin tombol pas milih menu. Apa cuma aku yang mikir gitu?

Sony A6000 worth it to buy?

Bat pemula kayak aku atau yang preferensinya buat sehari-hari, silakan sih ini worth it. Dengan 6 jutaan untuk body saja ya. tapi kalau mau professional, ya kamu musti siapin budget buat beli lensa maupun wireless eksternal sepertinya. Juga charger dan baterai cadangan. Oiya cage atau pelindung buat body sebab kamera ini nampak imut sekali dan ngeri jatuh.

Setelah setahun bersama sony A6000, aku belum merasa memiliki kamera ini. Meski sudah eksplore banyak dan sering jalan bareng. Mungkin aku akan pindah ke lain hati, murtad, hmmm ganti ke Lumix gimana?

Continue Reading

Review

Mengambil Paket Di Warehouse JNE

By on Juni 12, 2018
Mengambil Paket Di Warehouse JNE
Sudah menjadi rahasia umum kalau menjelang lebaran, ekspedisi pasti overload. Apalagi di bulan ramadan ada flash sale berbagai ecommerce yang makin menambah aktivitas kirim mengirim makin banyak. Sudah tahu begitu, aku harus nungguin paketan dari sebuah toko online karena dia ngirimnya telat mepet lebaran. Karena aku juga dikejar deadline mudik, jadilah paketan tersebut kuambil sendiri ke warehouse JNE.

Overload fenomena

Jasa ekspedisi semakin banyak, yang sudah establish juga semakin kuat…tapi kok masih saja ada overload jelang lebaran ya? Bukannya menjadi sebuah hal yang dimaklumi, seharusnya malah ada perbaikan di tahun-tahun berikutnya. Pasti dong ada caranya biar nggak merugikan konsumen.

Jangan Pakai paket REG

Hasil pantauan jelang lebaran, pihak JNE memang memprioritaskan paket YES. Ya, YES saja masih bisa meleset kok gmana REG kan? kalau kamu nggak buru-buru mau mudik, atau barang yang dikirmkan nggak terlalu penting sih ngga masalah.

Paketan Penting

Jadi ceritanya aku lagi nunggu paketan yang penting dan mendesak. Masalahnya si toko dimana aku beli barang baru ngirim h-1 mudikku. Udah gitu, ngirimnya pakai Reg pula. Meskipun jaraknya dekat dari Jakarta ke Bekasi, tetap saja dimasa overload siapa bisa jamin 1 hari nyampe?
Demi paketan tesebut aku batalin tiket mudikku. Kebetulan memag sudah dapat cuti sih. Jadi, aku gunain 1 hari cuti tahunanku buat ngurusin paketan JNE yang terlalu mepet lebaran.

Prosedur pengambilan paket di warehouse

Tak terhitung berapa puluh ribu aku habisin buat nelpon ke customer service JNE. Kayaknya memang lagi sibuk banget, waktu tunggu nyambungnya bisa 5 menitan. Aku nelpon buat mastiin tuh paket udah sampai warehouse Bekasi apa belum.
Dari jam 2 malam, aku pikir jam 8 pagi data resi sudah berubah dong sampai warehouse. Eh belum nyampe. Akhirnya aku ke kantor JNE yang di jalan jenderal sudirman Bekasi. Ternyata itu bukan warehouse, tapi cuma kantor pengiriman saja.
Oleh mba CS disana aku diberi alamat yang sangat jelas pakai peta ke warehouse JNE cikarang Cibitung di daerah Kalimalang Tambun. Naik gojek dari situ sekitar 11 km an, melewati kota Bekasi yang puanas dan berdebu.
Sampai di gudang, aku terkejut. Ternyata beneran gudang lho. Gede gitu. Pagarnya semi permanen, atapnya seng, dan kantornya nyempil di belakang. Aktivitas bongkar muat lagi rame banget. Sampai di kantor, aku nulisin nomor resi dan nggak berapa lama dipanggil. Ternyata paketanku statusnya masih ON THE WAY dari Jakarta.
Aku diminta pulang lagi dan mencoba cek terus di website JNE hingga sore. Sebelum pulang aku nanya dulu jam berapa tutupnya. Untuk warehouse JNE buka 24 jam, tapi pengambilan barang dari jam 8 pagi hingga 9 malam. Okelah aku pulang lgi, ojek sekitar 14km.
Dalam penantian paketan, aku tertidur di bawah AC. Dalam tidur siang itu, aku mimpi mengecek resi JNE di websitenya dan melihat status paketanku sudah sampai warehouse Bekasi. Sungguh mimpi yang sangat random bukan? Harusnya mimpi minum es teh aja sih ahhaha.
Tapi, ternyata mimpiku menjadi nyata di sore harinya. Tepatnya pukul 17.27 wib. Status paketanku fix sudah di warehouse. Posisiku saat itu on the way stasiun Gambir, baru sampai Jatinegara. Okelah aku putuskan balik arah ke Bekasi lagi dan melintasi wilayah kalimalang yang sudah penuh pemudik.
Mengambil Paket Di Warehouse JNE
 
Dengan modal tenaga dari sebatang coklat coco crunch, aku sampai di warehouse Cikatung Tambun pada pukul 19.30 wib. Langsung deh nulisin nomor resi dan 5 menit kemudian paketanku sudah di depan mata. Dan 1 jam kemudian aku sudah di KRL menuju stasiun senen. Mudik.

Jadi, kalau kamu mau mengambil sendiri paketan di warehouse JNE bisa kok. Syaratnya adalah membawa KTP dan nomor resi. akan mudah kalau kamu adalah penerima paket ya. kalau kamu bukan penerima, perlu surat kuasa.

Continue Reading