Book

Bisa Atheis Baca Buku Sapiens?

By on April 20, 2019

Awas jadi atheis kalau baca buku ini. Ngga berlebihan ya kurasa, apalagi kalau yang terbiasa baca novel ringan. Sapiens, buku tulisan  Yuval Noah Harari ini bergenre sains sejarah. Dua hal yang aku suka. Mind blowing sih, bukan lagi melihat sejarah dari helikopter namun pandangan pesawat luar angkasa. Pembaca diajak berpikir secara global, objektif, masif.

Continue Reading

Book | Review

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik

By on Maret 4, 2019

Aku pencemas, aku terlalu peduli dengan orang lain, aku terlalu banyak meikirkan hal yang harusnya dibikin bodo amat. Buku yang relatable dengan yang kurasakan akhir-akhir ini. Ingin seperti orang kebanyakan yang bisa cuek, atau setidaknya tak terlalu memikirkan sesuatu. Heu…itu alasan terbesarku membaca buku berjudul The Subtle Art of not giving a f*ck.

Identitas buku

Judul Asli : The Subtle Art Of Not Giving F*ck
Judul : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit: Grasindo
Beberapa kali buku bersampul orange ini lewat di IG story aku. Teman-teman sepertinya lagi suka membaca buku yang judulnya konyol, pikirku. Suatu pagi di Bandara Ahmad Yani Semarang, aku melihat buku ini secara fisik. Ehmm,,tapi mahal banget. Singkat cerita, malam harinya aku bersua lagi dengan buku ini di etalase best seller book Gramedia Balikpapan. Langsung deh aku cari ke rak.

“mas, buku bodo amat di sebelah mana ya?”
“heh..apa?”
“iya,,buku bodo amat”

Percakapan nggak jelas antara aku dan pramuniaga gramedia.

Review

Jaman sekarang ini mau nggak mau kita dipaksa mikir tentang banyak hal. Misalnya, pag-pagi buka Instagram. Ada si A update galau, jadi kepikiran deh. Lalu scroll…ada si B update lagi liburan.
Kepikiran lagi. Belum lagi jika ada si C, update quote yang kayaknya kok nyindir kita. Hadeu…lelah.
Gimana sih caranya biar bisa bodo amat? Nggak semua hal yang ada di ahdapan kita perlu disikapi dengan serius. Tapi gimana?

Ada 9 bab dalam buku ini yang diharapkan bisa kita jadikan renungan. Lewat candaan-candaan satire dan kisah-kisah yang fresh, aku sih merasa santai membacanya.

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik

Bab 1, jangan berusaha. Sebagai mukadimah, Mark Manson menjelaskan apa inti buku cara bersikap bodo amat.

Bab 2, kebahagiaan itu masalah. Bahagia, nyatanya berasal dari pemecahan masalah. So, kalau nggak ada masalah maka hidup flat…gitu.

Bab 3, Anda tidak istimewa. Seringkali kita measa istimewa lalu berpikiran sebagai korban. Dalam semua hal. Korban yang ingin diistimewakan, diperhatikan.

Itu preview saja ya, sisanya baca sendiri ehehe. Bab yang paling aku suka adalah “PENTINGNYA BERKATA TIDAK”. Karena ini sungguh sangat teramat related sekali denganku. Huh!

Pasti kalian yang membaca ini ada juga ya yang tipe nggak enakan dengan orang lain. Asli deh sifat ini tuh bikin kita sering cemas. Overwhelming. Lalu nggak bisa nikmatin momen hidup.

Tetapi kita perlu menolak sesuatu. Jika tidak, kita kehilangan alasan untuk bertahan. Jika tidak ada sesuatu yang lebih baik atau lebih diinginkan daripada yang lain, kita akan merasa hampa dan hidup kita menjadi tanpa makna. Kita hidup tanpa nilai dan akibatnya kita menghidupi kehidupan tanpa tujuan.

Menghindari penolakan (baik memberi atau menerima penolakan) sering ditawarkan kepada kita sebagai jalan untuk membuat diri kita merasa lebih baik. Tetapi menghindari penolakan memberi kita kenikmatan sesaat yang membuat kita tanpa kemudi dan tanpa arah dalam jangka panjang.

Kurang lebih seperti itulah The Subtle Art Of Not Giving F*ck. Hingga jadi new York time best seller. 4 dari 5 bintang deh.

Mungkin momennya pas, saat manusia terlalu banyak pikiran. Isi kepala rasanya penuh. Ada tuntutan untuk selalu positif, untuk mencoba segala macam hal, untuk berlomba dalam menggapai kebahagiaan dengan memiliki sebanyak-banyaknya sumberdaya.

Continue Reading

Book

Review Buku Literasi Visual, Harus Dibaca Photography Enthusiast

By on Januari 21, 2019

Review Buku Literasi Visual
Membaca visual itu 60.000 kali lebih cepat daripada membaca
teks. Percaya? 

Apakah kamu termasuk yang sering bingung ketika ingin
menuliskan caption foto untuk Instagram? Ya memang segitunya, sampai-sampai ada
jasa pembuatan caption atau aplikasi caption generator. Pemirsa memang pelu
sebuah keterangan untuk sebuah foto meskipun itu hanya beredar di jagad Instagram
bukan di surat kabar. Kadang pemahaman akan foto belum kita miliki dengan baik
karena kurangnya literasi visual. Aku baru saja menyelesaikan membaca buku
berjudul “literasi visual”. Buku yang ringan tapi isinya padat dan bisa
langsung kita terapkan.

Identitas Buku

Judul: Literasi Visual
Penulis: Taufan Wijaya
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2018
Genre: Fotografi (semua umur)

Resensi

Ringan dibaca

Buku Literasi visual ini aku beli di e-commerce, bukan di
toko buku nyata. Biar mudah aja gitu kan, dan harganya ternyata lebih murah. Ketika
sampai, aku tak langsung membacanya, ndak sempat. Beberapa hari kemudian aku
harus melakuakn perjalanan ber KRL dari Cikarang ke Cikini. Kebetulan kereta
sepi karena belum jam pulang kerja. Alhamdulillah bisa khusyuk banget membaca
sampai kelar sebuku langsung saat itu juga.
Review Buku Literasi Visual

Menelaah Fotografi

Bab pertama buku Literasi Visual isinya tentang telaah
fotografi. Di sini aku mulai sadar, bahwa buku ini layak djadikan referensi
ilmiah. Tentu saja ini bukan buku trik memotret atau kamu tak akan menemukan
aturan-aturan settingan kamera.
Di balik itu, justru aku menemukan telaah mendalam tentang
apa itu fotografi. Jadi ingat waktu ikut sesi fotografinya Arbain Rambey di
Danone Blogger Academy. Mana foto dokumenter, foto jurnalistik, dan foto
cerita. Apa saja yang membedakan dan bagaimana sensor serta estetika dalam
sebuah foto.

Baca: Berkah Ngeblog, Masuk Danone Blogger Academy

Literasi visual berguna untuk memahami hubungan antara apa
yang kita lihat, apa yang kita pilih agar dilihat oleh orang lain, apa yang
orang lain pilih untuk dilihat, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana
kita melihat diri kita sendiri.

Budaya visual

Salah satu bagian yang menarik bagiku dari buku literasi
visual adalah tentang kemajuan dan budaya dalam fotografi. Foto prewedding
misalnya? Aku jadi berpikir jauh tentang ini. Perlukah itu buatku nanti?
Lalu tentang swafoto atau selfi, yang jadi budaya. Anyway
aku nggak suka foto selfi, silakan cek ke hapeku atau mirrorlessku deh. Hahahha.
Swafoto menampilkan eksistensi, mengukuhkan status, dan kadang menipiskan batas
antara yang privat dan publik.

Suara Perempuan dalam Fotografi

Sering banget sih ini terlintas di fikiranku. Kenapa model-model
foto itu sebagian besar perempuan? Pasti kalian akan menjawab “semua hal
tentang perempuan itu indah”. hmmm…hallo hallo fotografer perempuan, ayo dong
kita jangan ikutan pakai pikiran lelaki.

Etika

Yang tak kalah seru adalah bab tentang etika atau kesopanan
dalam fotografi. Sehari-hari masyarakat sering abai atas pertimbangan etis
ketika dengan begitu mudahnya menerima kiiman gambar kemudian membaginya
kembali. Apalagi di zaman sekarang, saat orang serba terburu-buru dalam
mengambil keputusan dan bertindak.

Rate

4.5 dari 5 bintang untuk Buku Literasi Visual. Cocok untuk
siapapun yang merasa tertarik dengan dunia fotografi. Bukan sekedar cuap-cuap
penulisnya, terbukti Taufan Wijaya menggunakan banyak sekali referensi dalam
penulisan buku ini (hingga perlu 6 halaman untuk menuliskannya).

Quotes

Ada bagian buku Literasi visual yang quotesnya merasuk
banget.
Pemaknaan foto dipengaruhi oleh pengetahuan tentang aspek
kultural dan historis, sehingga foto yang sama akan dimaknai berbeda oleh orang
yang berbeda budayanya, kelasnya, dan seterusnya.

Continue Reading

Book

Koleksi Buku Harry Potter

By on November 29, 2018
Koleksi Buku Harry Potter
Aku tumbuh besar bersama
imajinasi-imajinasi Harry Potter. Cukup susah menghilangkan memori dari
bayanganku saat membaca buku ini maupun saat menonton filmnya. Ketika buku
pertama Harry Potter muncul, aku masih kanak-kanak ahahha. Mana sanggup beli
buku sendiri yang semahal itu? meminjam adalah jalanku mengikuti tiap
ceritanya. Kini ketika sudah mampu beli buku pakai duit sendiri, aku hunting
buku bekas Harry Potter buat koleksi di rumah.

Meminjam Buku Harry Potter Di
Perpus

Jaman sekolah, uang sakuku 5 ribu
rupiah. Itu sudah termasuk buat biaya angkot dan kadang ngerjain tugas di
warnet. Jangankan beli buku Harry Potter di toko buku besar, beli komik ndak
mutu di pinggir jalan aja sayang kok. Perpustakaan sekolah bagiku waktu jaman
SMA adalah ruangan favorit. Dari sana aku kenal buku-buku sastra lama seperti
Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Tenggelamnya kapal Vander Wijk (yang sudah
difilmkan dan viral dengan tokoh ‘Hayati’).
Harry Potter tersedia di
perpustakaan, jadi mendingan pinjam deh. Walaupun pasti ketinggalan ya. orang
sudah baca buku ke berapa aku masih di jilid berapa, heu. Yang penting tahu lah
ehhehe. Lagian jaman aku SMA belum nusim ebook atau peminjaman buku secara
digital seperti sekarang.

Membeli Buku Bekas Harry Potter

Beberapa tahun kemudian, sata aku
sedang tergila-gila dengan buku…hasrat untuk memiliki buku Harry Potter versi
cetak itu muncul kembali. Jaman itu agak susah nyarinya di Gramedia, belum
cetak ulang. Aku nyari di marketplace online, orang-orang yang jual buku Harry
Potter bekas. Dan yeyy…satu persatu ngumpul juga tu buku lengkap. Termasuk buku
Quiditch dan Fantastic Beast and where to find them.

Buku Harry Potter Berbagai Cover

Setahun ke belakang, Gramedia
mencetak ulang buku Harry Potter dengan sampul-sampul yang menarik. Begitupun ketika
aku main ke books and beyond, wooww aku terpana. Buku Harpot berbagai versi
cover menyihirku. Tapi aku masih kuat. Cukup koleksi 1 seri saja, lengkap buku
1-7.

Desember dan Harry Potter

Setiap bulan Desember tiba, feel
of Harry Potter itu kerasa banget. Mungkin Karena kebiasaan tiap libur natal televisi
muter Harry Potter. Membaca ulang buku Harpot atau menonton ulang sambil
mendengarkan rintik hujan oh syahdunyaaaa.

Continue Reading