Romantisme Perjalanan Jogja Solo Kala Itu

hik-solo

Romantisme perjalanan Jogja Solo kala itu teringat kembali hari ini. Sesekali kutengok jam tangan dengan wajah panik. Minggu sore, badan sudah capek wajah terasa lepek. Aku memang di Jogja untuk keperluan workshop videografi, tapi tak ada kesempatan berjalan santai di malioboro sekalipun. Kubuka smartphoneku yang sudah hampir habis baterai, berusaha cek jadwal ka jogja solo di Traveloka. Mungkin karena akhir pekan, semua kursi sudah terisi. Partner perjalananku, Mahendrayana berinisiatif menaiki bus dari Jogja ke Solo untuk selanjutnya naik kereta jarak jauh dari Solo menuju Jakarta.

Romantisme Angkringan Jogja

Dimanapun kami berdua berada, angkringan adalah andalan pengisi perut kala lapar. Lapak sederhana di pinggir jalan menyambut kami. Jangan bayangkan kursi nyaman ala kafe, yang ada hanya bangku sempit di trotoar. Tapi, itulah salah satu romantisme ala kami. Makan diselingi suara klakson jalanan Jogja.

Jogja memang identik dengan angkringan, tapi angkringan yang kudatangi ini tak sehangat biasanya. Sangat sederhana sekali pokoknya mah. Jelajah angkringan, bisa disebut seperti itu sih. dari mulai angkringan Solo, Jogja, hingga angkringan di Belitung pernah aku dan Mahendra coba. Beberapa waktu lalu malahan mencoba angkringan yang wujudnya justru restoran. Namanya saja angkringan, menu dan harga jauh dari muarh meriah.

Terlelap Di Bus Reyot

Tak lama setelah kami membayar makan di angkringan, sebuah bus yang nampak reyot berhenti. Hmm, kosong, fix sih bakal ngetem lama. Karena badan sudah snagat loyo, yasudah naik saja. Kursi bus nampak kumal, sempit, dan bau.

Pelan-pelan bus berjalan, tapi tak lama berhenti. Begitu terus, hingga hujan tahu-tahu mulai tampias lewat kaca-kaca jendela yang pecah. Aku tak bergeming dari kursiku, rasanya sudah sangat nyaman. Ya, nyaman tak harus mewah, kursi bus reyot bertemu badan lelah bisa jadi masuk kategori tersebut.

Tak lama setelah hujan turun, aku terlelap. Tak tahu apa saja yang terlewati sepanjang Jogja ke Solo. Beberapa kali mataku terbuka saat bus tiba-tiba mengerem atau diklakson bus lain. Tapi, hampir semua durasi perjalanan kuhabiskan dalam mimpi.

Suatu malam di Solo

Ini bukan kali pertama aku ke Solo, tapi kesannya beda ya. Malam ini badanku amat letih, rasanya ingin duduk menyantap sesuatu yang hangat sambil menunggu kereta. Hujan masih mendera saat aku memutuskan turun dari bus di sekitaran mall Paragon.

Mahendra masih punya banyak energi sepertinya, sehingga akhirnya kami keliling mall. Tak ada yang spesial di mall itu. Atau mungkin juga karena sebenarnya yang kami perlukan adalah istirahat di rumah masing-masing.

Baca: Top List Weekend Getaway di Solo. 

Sate ayam depan stasiun Jebres jadi saksi jika aku pernah luntang-lantung di Solo. Hari sudah malam, kereta ke Semarang untukku sudah di tangan. Karena tiket yang tersedia hanya untuk 1 orang, Mahendra menaiki bus dari Solo ke Semarang. Ya, meskipun pada akhirnya justru Mahendra duluan yang sampai Semarang. Aneh ya, busnya lebih cepat dari kereta api hahaha.

Sebenarnya jika aku lebih pasti memeriksa jadwal kereta Jogja Solo, nggak usah repot-repot naik bus reyot. Dan bisa saja aku dan Mahendra naik kereta bareng-bareng ke Semarang, bukan mencar-mencar. Tapi tak apalah, jika tak ada cerita yang luar biasa maka sebuah perjalanan akan mudah terlupa. hal yang enggak enak bisa jadi malah menjadi bumbu romantisme perjalanan yang ngengenin untuk diceritakan dan dilakukan lagi.

One Reply to “Romantisme Perjalanan Jogja Solo Kala Itu”

  1. Kota mahasiswa nan romantis nih !

Tinggalkan Balasan