Movie

Review Hotel Mumbai Film India Bagus Tanpa Jogetan

April 16, 2019
review-film-hotel-mumbai

Film India dalam fikiranku selalu tentang drama, nyanyian dan jogetan. Beberapa film India yang bagus seperti three idiot masih terngiang dan layak tonton. Hotel Mumbai menambah daftar film India yang harus kamu tonton. Oke review ini aku tulis segera setalah nonton di Djakarta Theatre XX1. Tempat yang beberapa waktu lalu terkena serangan teroris juga. Jadi, biar berasa lebih greget.

Berdasarkan Cerita Nyata

2008 silam, ada peristiwa terorisme di Mumbai, tepatnya hotel Taj. Aksinya snagat brutal, diawali dari teror di stasiun dan juga café. Seluruh dunia menyaksikan aksi keji tersebut.

Pada 2009 dibuatlah film documenter berjudul Surviving Mumbai. Namanya juga film dokumenter ya, jadi seperti percakapan telepon antara eksekutor dan pemimpin aksi dibuat nyata dari kejadian asli.

Film Hotel Mumbai diambil oleh snag sutradara yaitu Anthony Maras dari kejadian dan film dokumneter tersebut. Ya panteslah kalau dari awal hingga ending tegang terus nontonnya. Mungkin bagi sebagian besar orang malah bikin nggak nyaman.

Sinopsis singkat

Adegan pertama dimulai dari penampakan sekelompok pemuda yang menaiki perahu karet. Mereka tak slaing bercakap, tapi beberapa orang mendengarkan sesuatu dari headset. Color grading kuning kemerahan menggambarkan India di sore hari yang gerah dan lengket.

Di bagian kota Mumbai yang lain, Arjun yang diperankan Dev Patel tengah bersiap ke tempat kerjanya di hotel Taj. Dia adalah pelayan di hotel mewah tersebut. Digambarkan istri Arjun sedang mengandung, sedang anak pertamanya masih balita. Mereka tinggal di slump area.

Arjun adalah pemeluk agama Hindu yang taat, terbukti dengan sorban di kepalanya. Benda suci tersebut dipakai meski sata dia bekerja melayani tamu hotel Taj. Peristiwa tak biasa hari itu, Arjun lupa mengenakan sepatu. Hal yang sepertinya sangat mengubah jalan hidupnya.

Zahra, David, Sally, dan anaknya yang masih bayi adalah tamu VVIP hotel Taj malam itu. Mereka sedang menuju hotel saat peristiwa penembakan membabi buta dimulai di stasiun dan berlanjut di café. Sasaran para teroris adalah orang asing.

Segini saja ya sinopsisnya, kalau kepanjangan nanti malah jadi spoiler. Nggak seru dan ketebak nanti jalan ceritanya.

Review

Kakiku pegel karena nggak gerak sepanjang film. Ahahha aku menikmati banget, melek, dan antusias. Sebelum nonton film ini, aku sempat lihat ig story beberapa teman dan woow kok keren.

Siang itu aku sebenarnya lagi ada event di Taman Ismail Marzuki. Bioskop di sekitar TIM itu banyak, tapi aku malah ke Djakarta Theater XXI. Di saat film sudah mulai aku baru ingat jika Djakarta Theatre (bagian starbucks) pernah jadi sasaran teroris.

Aku suka plotnya, color gradingnya, musiknya, juga pemilihan aktor. Peristiwanya terasa sangat nyata, ini yang mungkin beberapa orang nggak nyaman.

Senjata, darah, ya…tapi bagiku nggak se-dark the Raid ahhaa. Ada adegan-adegan jokes nya juga. Sisi dramatis yang diambil dari tokoh Zahra juga masih masuk. Oke kuakui aku mennagis berderai-derai sata Zahra ditodongkan pistol dan dia mengucapkan Lailahaillallah. Si teroris gentar, aku yang nonton buyar karena membayangkan di sisi Zahra.

Pesan Film

Dasar dari aksi yang mereka lakukan adalah isu agama. Jujur sih ini isu sensitive. Padahal menurutku yang muslim, itu hal yang biasa. Nyatanya memang seperti itu. justru sutradara mau nunjukin kalau agama saat ini sudah dijadikan komoditas.

Pemuda-pemuda yang nggak teredukasi dengan benar dari sisi agama bisa jadi mudah diperdaya. Ditambah lagi kemiskinan, mereka diming-imingi jaminan kesejahteraan ekonomi untuk keluarga yang mereka tinggalkan jika telah selesai jihad. Entah dalang aksi ini siapa, sosok Bull tersebut. Di ending film disebutkan dia masih bebas hingga sekarang.

Kalimat Lailaha illallah bagiku efeknya kuat banget. Dalam situasi setidaknyaman apapun, bahkan saat mimpi buruk, kalimat itu yang kubaca. Makanya ketika Zahra melakukannya, aku ingat diriku sendiri.

Imej polisi India yang suka telat kayaknya nggak hanya ada di drama India ala televisi. Bahkan di Hotel Mumbai sekalipun polisinya kok bisanya telat lho.

Teroris di Djakarta Theatre

Selesai nonton, ketika aku berjalan di lobby Djakarta theatre…imajinasiku melayang seolah di ruang sebelah banyak asap dan atap berantakan. Peristiwa di Sarinah yang diawali dari bom di Starbucks itu masih jelas banget di ingatan.

Aku tahu ada yang nggak percaya dengan terorisme. Maksudnya, ada yang menganggap terorisme hanya buatan media atau pemerintahan. Satu hal yang musti kita pegang, bahwa agama manapun nggak ngajarin saling bunuh. Apalagi dengan cara keji. Bahkan ketika menyembelih binatang, aturan Islam tegas harus dengan pisau tajam agar tak menyakiti.

Ketakukan masyarakat adalah tujuan dari para teroris. Aku tidak takut, dari DJakarta Theatre aku berjalan melewati Sarinah meuju bundaran HI. Naik MRT ke Blok M lalu belajar menembak. Biar bisa jaga diri.

Rate

9 dari 10 untuk Hotel Mumbai.

Tinggalkan Balasan