Pariwisata 4.0 milik siapa?

ruwatan-sukerta

Obrolan kalau sudah mencatut 4.0 tuh kayaknya sekarang keren banget ya. Ahahaha. Sebagai orang yang berada di dunia industri manufaktur, istilah industry 4.0 sudah aku dengar dari beberapa waktu lalu. Sempat ada yang share di grup whatsap berita pariwisata 4.0 yang lagi digalakkan. Hemm sebenarnya Pariwisata 4.0 punya siapa sih? Punya Kemenpar atau milik segelintir orang yang mengambil istilah hits saja?

Industry 4.0

Udah pada tahu kan industry 4.0? Intinya sih, pada step ini tuh proses-proses udah nggak hanya online saja tapi terintegrasi dengan cloud atau sejenisnya termasuk kecerdasan buatan.

Gampangnya gini deh. Belanja. Dulu kita belanja manual, lalu muncul Kaskus dimana kita bisa jual beli pakai Rekber ahaha. Sistemnya kayak belanja manual aja kan cuma kita ga ngadepin langsung lawan kita. Tahap ini masih masuk industry 3.0.

Teknologi dan kebutuhan kejar-kejaran, munculah e-commerce. You mau sebut Gojek, Tokped, Bukalapak, atau Traveloka dan Pegipegi silakan. Aplikasi-aplikasi ini pakai data kita baik itu demografi maupun habit buat ngelayanin kita. Ngasih penawaran. “Oh kamu suka liat-liat kamera ya, sini aku iklanin kamera terbaru deh”. Itu sudah masuk industry 4.0.

Pariwisata 4.0

Lalu bagaimana dengan pariwisata 4.0? Aku sih ketika browsing dan nyari-nyari beritanya hasilnya kecewa. Masih kayak wacana aja. Ngambil istilah yang lagi hits. “Milenial suka nih yang onlen-onlen…yaudah kita bikin program saja 4.0”.

artifisialorsubstansial

Sekedar online dan viral belum bisa dikatakan sebagai 4.0 lah pak buk. Lagian ya mana bisa disebut patiwisata 4.0 kalau beli tiket masuk lokasi wisata saja masih pakai kertas. Jangankan 4.0, lha 3.0 aja belum kok.

Memang kita bisa beli tiket atau transportasi lewat ecommerce, tapi yang real dari kemenpar apa?

Bali Baru Yang Semu

Selain objek wisata digital, milenial, kemenpar juga jago deh bikin nama-nama. Tapi ya gitu, zonk. Bali Baru misalnya. Bulan lalu aku ke Belitung, dimana salah satu objek wisata andalannya yaitu pantai Tanjung Kalayang masuk ke list Bali baru.

Nggak ada beda kok dengan adanya label itu maupun engga. Aku juga yakin, para pelaku wisata di sana belum tentu tahu apa itu Bali baru. Bahkan sepanjang perjalanan dari Bandara Tanjung Pandan hingga Pantai, taka da tuh baliho atau penanda akan hal tersebut. Jadi sampai tulisan ini dibuat, Bali Baru hanya ada di medsos dalam bentuk hashtag.

Aku bukan orang Bali, tapi penyebutan istilah “Bali baru” kok rasanya kayak bikin cemburu. Sejenis “istri muda” wkwkkw. Apakah akan sama seperti Bali dengan segala keterbukaanya untuk dunia, atau sekedar keindahannya saja yang ngga kalah? Semu.

Sebagai turis yang datang ke salah satu spot Bali baru, aku merasa kecewa. Tak sesuai ekspektasi. Malu-maluin Bali sebab sudah dicatut namanya eh kok ndak memuaskan.

Pembenahan SDM Itu Perlu

Beberapa hari lalu aku membaca artikel blog dari mas Insanwisata. Aku sepakat dengan yang beliau tulis, tentang salah kaprah desa wisata.

Yang aku temui di daerahku sendiri, Pekalongan memang seperti itu. Desa wisata sama dengan objek wisata. Sejak istilah itu didengungkan (minjem diksi Kemenpar ah “diviralkan”), mindset sebagian besar kapala ya kayak gitu. Bikin wahana, bikin spot selfi, bikin papan gede bertuliskan nama tempat. Oiya nama tempatnya dibikin selera milenial “katanya”. Misal, Bukit cinta…atau apalah Taman seribu janji. Hadeuuh.

Pemda mendukung? Ouuw tentu. Jalan-jalan diaspal, ditambahi lampu kiri-kanan, nice banget. Tapi bagaimana dengan SDM nya? Sudahkah dibekali dengan konsep wisata sustainable?

Ngikutin Selera Netizen

Suatu hari aku ungkapkan unek-unek kayak gini di instagram. Lalu ada yang komentar kalau “ya spot wisata dibikin ada lope-lope dan warna-warni itu biar narik pengunjung. Intinya kan pemasukan. Dan kalau orang suka selfi di sana jadi media promosi”. Hemm iya, oke aku menangkap mindset tersebut.

curug_lawe

Selera netizen saat ini memang seperti itu mungkin. Kalau netizen sudah nggak selera gimana? Dibongkar? Mangkrak? Banyak kok spot wisata yang sempat viral kini nganggur. Kan sayang banget. Padahal daya tarik utamanya masih ada. Misalnya saja sebuah curug dekat tempat tinggalku di kampung. Curugnya ada, alamnya ada, suasana pegununganya masih terjaga. Tapi populatitasnya hilang. Sebab dari awal memang yang diikutin selera netizen.

Baca: Jengah dengan wisata artifisial

Harapan aku, pariwisata 4.0 bukan sekedar milik staf kemenpar, tapi milik Indonesia. Anggaran ratusan juta buat lomba itu bisa kali ya dikurangin buat yang lebih berimpact. Atau lombanya jangan hanya buat netizen lah, adain lomba antar pengelola lokasi wisata. Mana yang udah 4.0 mana yang perlu dibenahi. Gitu lho? Maaf kalau terkesan ngajarin, mungkin udah dilakuin yang begitu tapi akunya aja yang nggak tahu.

Ada apa engga istilah milenial, wisata digital, atau wisata 4.0…piknik itu penting. Itulah inti dari inti tulisan ini.

23 Replies to “Pariwisata 4.0 milik siapa?”

  1. sekarang mah tempat wisata = tempat foto. yang penting dikasih tempat foto aja biar pada dateng. harusnya kasih nilai plus-plus dong biar wisatawan pengen bolak-balik lagi.

    1. yoiii misalnya landscape yang masih asri atau story telling seperti legenda di telogo mangunan itu.

  2. Suka sama endingnya kak..

    Piknik itu penting ….

    1. ayok pikinik, beosk kemana? ahhaha

  3. Sayangnya saat ini tiket pesawat domestik lagi naik, yah kalau mau wisata saya paling ke gunung belakang rumah haha

    1. asik dong ngga perlu jauh buat relaksasi…kak

  4. Ahh sedih tempat wisata sekarang banyaknya selpie selpie padahal kita menikmati keindahan alam yang asli..memang hanya gembar-gembor viral aja di Twitter tapi peningkatan pariwisata kita kurang terlhat

    1. yang penting viral mba, habis itu gimana ya engga tahu…

  5. Sekarang apa-apa konteksnya viral atau jadi TT ya. Tempat wisata itu udah kayak apa gitu dihias warna warni pake kain ini itu.

    1. katanya mengikuti selere netizen yang milenial ehhee

  6. Intinya inti permasalahan ini menurutku karena latah sih. Generasi milenial memang “pasar” yang gak boleh diabaikan, tapi bukan berarti semua-semuanya dilakukan cuma buat menggaet mereka agar jadi konsumen. Justru bisa saja mereka yang dididik untuk jadi pelancong yang, misalnya, nggak sekedar pepotoan tapi lebih ke menikmati suasana dan pemandangan di lokasi wisata, syukur-syukur mau mencari tahu apa kisah di balik suatu destinasi dan kearifan lokal yang melingkunginya.

    Sejak aku masih magang jadi tour guide di Prambanan belasan tahun lalu sih udah terkenal banget kalau wisatawan lokal itu cuma suka foto-foto. Di Prambanan, yang aku tahu banget waktu itu, mereka cuma cari patung Roro Jonggrang yang padahal nggak ada, foto-foto, hahaha-hihihi, udah. Mereka gak mau tahu kisah Prambanan seperti apa, siapa yang bangun, tahun berapa, representasi apa, patung-patung di dalamnya, kenapa ada tiga candi utama dan tiga candi di seberangnya berhadapan, kenapa di dekat pintu masuk/keluar ada candi-candi kecil, apatah lagi cerita dalam relief di badan candi. Makanya jarang ada wisatawan lokal sewa guide.

    Beda banget dengan wisman yang detil banget mau tahu ini-itu. Semua ruangan candi dilongok, bawa senter mereka supaya bisa lihat rupa patung lebih jelas. Aku bahkan pernah ditanya hal yang sering diabaikan kebanyakan wisawatan lokal: kenapa ada batu candi yang diberi tanda semacam paku?

    Butuh proses panjang memang untuk sampai ke tahapan itu. Tapi kita bisa kok. Tinggal mau “mendidik” masyarakatnya atau nggak. Karena kalau cuma nurutin tren itu musiman sifatnya, sementara kita butuh wisata yang berkelanjutan.

    1. wow komentar terpanjang. ini langsung ya dari pelaku wisata. bikin postingan juga mas soal ini ehehe

      1. Setuju sama mas Eko. Kami termasuk yg selalu menggunakan jasa guide jika ke tempat wisata. Dari yg jauh & benar2 blank spt di pulau Samosir smp yg dekat rumah & agak ngerti dikit seperti Kraton Jogja atau Tamansari. Sejauh ini kami sangat puas berwisata menggunakan guide setempat. Yang didapat jauh lebih banyak dari cuma jalan2 & pepotoan.

        1. nah, pokdarwis2 itu haruse dibekali kemampuan jd guide. juga diatur gimana bisa berpenghasilan dari situ. jangan hanya jadi penjaga wahana.

  7. Nah rame banget mbak sekarang tempat wisata. Jangan wisata alam ya.. Pekarangan rumah pun bisa loh dijadiin spot wisata, tinggal nambahin lope2 yg gede gitu

    1. ahhaha sama bunga bunga

  8. Wkwkwkwk kenapa aku ngakak ya lihat judul pariwisata 4.0? Karena yg aku dapatkan itu cuma obyek wisata jadi-jadian. Contoh Tebing Breksi yg pertama aku datang dulu begitu eksotis, terakhir aku datang kemarin pas dibawah tebing tsb ada booth bunga sakura plastik buat selfie 10rb-an. Wkwkwkwk norak banget. Padahal itu terkenal bgt, nggak mungkin kemenpar nggak tau? Kok ya nggak ada pembinaan? Masih jauh banget kalau dihubungkan dengan pemanfaatan habit digital untuk menjaring wisatawan. Untung pelaku wisatanya bisa mandiri spt e-commerce yg menjual tiket & voucher hotel. Tapi itu ya semestinya masih bisa lebih maju lagi kalau pemerintah punya konsep wisata yg menyeluruh.

    1. iyaa…malahan yang memprakarsai adanya spot2 selfi itu ya yg katanya dari pemerintah. entah Pemda atau komunitas ‘anu’.

  9. Surat Terbuka untuk Staf Kemenpar ini jadinya 🙂

    1. hahah engga lah ini uneg2 saja, yang di KOmpasiana lebih lengkap tuh ka

  10. Aku sukanya tempat wisata alami, males ada spot-spot cantik gitu

    1. hahah engga lah ini uneg2 saja, yang di KOmpasiana lebih lengkap tuh ka

    2. iya kak…bukan artifisial ya

Tinggalkan Balasan