Indonesia | Traveling

5 hal menarik dari Belitung Selain Pantainya

By on Maret 26, 2019
RUMAH BELITUNG

Apa yang kamu pikirkan jika mendengar Belitung? Pasti pantai pasir putih dengan laut berwarna biru muda plus batu-batu besar. Laskar Pelangi memang menguatkan branding Belitung menjadi seperti itu. Pantai Tanjung Kalayang adalah tujuanku ke Belitung, sebab lokasi ini masuk ke daftar 10 Bali Baru versi Kemenpar. Tapi, selama di Belitung aku justru menemukan hal-hal yang tak biasa dan sayang untuk disimpan sendiri. Bukan island hoping atau mercusuar pulau lengkuas, kalau itu sih kalian sudah bisa browsing sendiri. Inilah 5 hal menarik dari Belitung Selain Pantainya.

Continue Reading

Traveling

Berburu Tiket Kereta Lebaran

By on Maret 22, 2019
tiket kereta api lebaran pegipegi

Tahun ini aku sangat selow buat nyari tiket kereta api lebaran. Mungkin karena sudah merantau cukup lama dan sering pulang juga, jadi ketika tiba H-90 hari musim mudik masih leyeh-leyeh. Hal ini nggak terjadi dengan diriku yang dulu. Tanggalan sudah dibuletin, malemnya siap-siap deh begadang nunggu jam 00.00. Apakah dapat tiket kereta api lebaran? Hem…belum tentu. Dan itu malah menyesakan. Saat ini pilihan merchant tempat beli tiket kereta sudah banyak. Itu juga mungkin yang bikin aku lebih tenang. Jaman awal merantau saat beli tiket harus ke loket, aku sih mending ikut mudik bersama pakai bus. Aku sekarang lagi menanti kereta khusus lebaran open purchase dan bersiap Berburu tiket kereta api secara online.

Perjuangan demi tiket kereta

Ketika moda kereta api semakin nyaman dan jelas sistemnya, ogah aku ngebis kecuali kepepet. Makanya, tiket kereta menjadi sangat penting. Jaman aku masih SD, tiap musim mudik tuh ngga tega ngeliat orang bertumpuk-tumpuk di stasiun nunggu loket buka. Lebih ngga tega lagi ngeliat orang-orang masuk ke kereta dengan segala cara termasuk lewat jendela. Oiya jaman dulu kereta api nggak pakai AC ya yang ekonomi, sehingga jendelanya bisa dibuka kapan saja.

Ketika aku mulai merantau, masih merasakan sebentar ketidak’online’an moda transportasi ini. Ribet banget asli. Bikin emosi. Dan menjadi hal yang sangat wajar disamperin calo tiket kereta api di stasiun. Udah kayak di terminal bis ajalah kayak gitu.

Baca: Gregetnya mudik 2016

Era tiket kereta api online

Beberapa tahun belakangan ini para perantau macam aku bisa bernafas lega. Sambil tiduran pun bisa pesen tiket kereta. Sistem online memang memudahkan segalanya. Makin kesini, merchant KAI seperti Pegipegi juga semakin ikut berkembang. Pilihan pembayaran semakin mudah dan banyak pilihan.

Sistem online memang memudahkan, tapi pada awalnya nggak ada tuh aplikasi mobile. Kalau mau beli tiket online mesti dari komputer. Hadeuuh kasian yang ngga punya laptop atau PC masa harus ke warnet dulu. Sistem percaloanpun masih ada.

Tapi dengan semakin berkembangnya teknologi, termasuk menjamurnya smartphone maka merchant berlomba membuat versi aplikasinya untuk urusan pembelian tiket. Langsung download lah pas pegipegi ngeluarin aplikasi.

Aku lebih suka beli tiket online tuh dari aplikasi. Termasuk untuk mendapatkan tiket kereta api lebaran. Demi mobilitas dan efektifitas ehehe. Selain itu ketika kita membeli tiket kereta api lewat aplikasi biasanya dikasih diskon lho. Selama pakai aplikasi ini aku ngga mengalami crash atau force exit sih. Nggak asik banget kan kalau pas lagi buri-buru eh tinggal milih tempat duduk tiba-tiba close sendiri aplikasinya.

Harga tiket kereta api lebaran

Aku sering ditanya teman-teman (kebanyakan yang ngga biasa naik kereta api).

“tiket lebaran naiknya berapa kali lipat?”s

Beda dengan bus, aku sih ngga merasakan kenaikan drastis tiket kereta api lebaran. Masih dalam batas wajar. Mungkin ada, 10 atau 20 ribu, tapi ya sepadan dengan layanan yang diberikan. Spesial kalau musim mudik lebaran, pengamanan stasiun dan kereta lebih ketat. Selain itu kalau jadwal kita ngepasin jam buka puasa atau sahur, dikasih makanan lho. Mudik tahun lalu aku sahur di kereta gratisan berupa nasi, ayam geprek, sayur, dan air mineral. Keren kan? Padahal kereta ekonomi.

Anyway aku biasa naik kereta ekonomi baik untuk lebaran atau hari biasa. Karena ya aku cuma bawa diri, nggak repot. Kalau bawa bayi atau balita nyamannya sih yang eksekutif atau ekonomi premium.

mudik dengan kereta api
Stasiun Cikampek

Harga, jadwal, dan ketersediaan kursi bisa kita cek lewat aplikasi. Tenang saja, silakan disesuaikan dengan preferensi masing-masing. Selamat mempersiapkan mudik lebaran (yang kurang 2 bulan lagi).

Continue Reading

Traveling

Pariwisata 4.0 milik siapa?

By on Maret 21, 2019
ruwatan-sukerta

Obrolan kalau sudah mencatut 4.0 tuh kayaknya sekarang keren banget ya. Ahahaha. Sebagai orang yang berada di dunia industri manufaktur, istilah industry 4.0 sudah aku dengar dari beberapa waktu lalu. Sempat ada yang share di grup whatsap berita pariwisata 4.0 yang lagi digalakkan. Hemm sebenarnya Pariwisata 4.0 punya siapa sih? Punya Kemenpar atau milik segelintir orang yang mengambil istilah hits saja?

Industry 4.0

Udah pada tahu kan industry 4.0? Intinya sih, pada step ini tuh proses-proses udah nggak hanya online saja tapi terintegrasi dengan cloud atau sejenisnya termasuk kecerdasan buatan.

Gampangnya gini deh. Belanja. Dulu kita belanja manual, lalu muncul Kaskus dimana kita bisa jual beli pakai Rekber ahaha. Sistemnya kayak belanja manual aja kan cuma kita ga ngadepin langsung lawan kita. Tahap ini masih masuk industry 3.0.

Teknologi dan kebutuhan kejar-kejaran, munculah e-commerce. You mau sebut Gojek, Tokped, Bukalapak, atau Traveloka dan Pegipegi silakan. Aplikasi-aplikasi ini pakai data kita baik itu demografi maupun habit buat ngelayanin kita. Ngasih penawaran. “Oh kamu suka liat-liat kamera ya, sini aku iklanin kamera terbaru deh”. Itu sudah masuk industry 4.0.

Pariwisata 4.0

Lalu bagaimana dengan pariwisata 4.0? Aku sih ketika browsing dan nyari-nyari beritanya hasilnya kecewa. Masih kayak wacana aja. Ngambil istilah yang lagi hits. “Milenial suka nih yang onlen-onlen…yaudah kita bikin program saja 4.0”.

artifisialorsubstansial

Sekedar online dan viral belum bisa dikatakan sebagai 4.0 lah pak buk. Lagian ya mana bisa disebut patiwisata 4.0 kalau beli tiket masuk lokasi wisata saja masih pakai kertas. Jangankan 4.0, lha 3.0 aja belum kok.

Memang kita bisa beli tiket atau transportasi lewat ecommerce, tapi yang real dari kemenpar apa?

Bali Baru Yang Semu

Selain objek wisata digital, milenial, kemenpar juga jago deh bikin nama-nama. Tapi ya gitu, zonk. Bali Baru misalnya. Bulan lalu aku ke Belitung, dimana salah satu objek wisata andalannya yaitu pantai Tanjung Kalayang masuk ke list Bali baru.

Nggak ada beda kok dengan adanya label itu maupun engga. Aku juga yakin, para pelaku wisata di sana belum tentu tahu apa itu Bali baru. Bahkan sepanjang perjalanan dari Bandara Tanjung Pandan hingga Pantai, taka da tuh baliho atau penanda akan hal tersebut. Jadi sampai tulisan ini dibuat, Bali Baru hanya ada di medsos dalam bentuk hashtag.

Aku bukan orang Bali, tapi penyebutan istilah “Bali baru” kok rasanya kayak bikin cemburu. Sejenis “istri muda” wkwkkw. Apakah akan sama seperti Bali dengan segala keterbukaanya untuk dunia, atau sekedar keindahannya saja yang ngga kalah? Semu.

Sebagai turis yang datang ke salah satu spot Bali baru, aku merasa kecewa. Tak sesuai ekspektasi. Malu-maluin Bali sebab sudah dicatut namanya eh kok ndak memuaskan.

Pembenahan SDM Itu Perlu

Beberapa hari lalu aku membaca artikel blog dari mas Insanwisata. Aku sepakat dengan yang beliau tulis, tentang salah kaprah desa wisata.

Yang aku temui di daerahku sendiri, Pekalongan memang seperti itu. Desa wisata sama dengan objek wisata. Sejak istilah itu didengungkan (minjem diksi Kemenpar ah “diviralkan”), mindset sebagian besar kapala ya kayak gitu. Bikin wahana, bikin spot selfi, bikin papan gede bertuliskan nama tempat. Oiya nama tempatnya dibikin selera milenial “katanya”. Misal, Bukit cinta…atau apalah Taman seribu janji. Hadeuuh.

Pemda mendukung? Ouuw tentu. Jalan-jalan diaspal, ditambahi lampu kiri-kanan, nice banget. Tapi bagaimana dengan SDM nya? Sudahkah dibekali dengan konsep wisata sustainable?

Ngikutin Selera Netizen

Suatu hari aku ungkapkan unek-unek kayak gini di instagram. Lalu ada yang komentar kalau “ya spot wisata dibikin ada lope-lope dan warna-warni itu biar narik pengunjung. Intinya kan pemasukan. Dan kalau orang suka selfi di sana jadi media promosi”. Hemm iya, oke aku menangkap mindset tersebut.

curug_lawe

Selera netizen saat ini memang seperti itu mungkin. Kalau netizen sudah nggak selera gimana? Dibongkar? Mangkrak? Banyak kok spot wisata yang sempat viral kini nganggur. Kan sayang banget. Padahal daya tarik utamanya masih ada. Misalnya saja sebuah curug dekat tempat tinggalku di kampung. Curugnya ada, alamnya ada, suasana pegununganya masih terjaga. Tapi populatitasnya hilang. Sebab dari awal memang yang diikutin selera netizen.

Baca: Jengah dengan wisata artifisial

Harapan aku, pariwisata 4.0 bukan sekedar milik staf kemenpar, tapi milik Indonesia. Anggaran ratusan juta buat lomba itu bisa kali ya dikurangin buat yang lebih berimpact. Atau lombanya jangan hanya buat netizen lah, adain lomba antar pengelola lokasi wisata. Mana yang udah 4.0 mana yang perlu dibenahi. Gitu lho? Maaf kalau terkesan ngajarin, mungkin udah dilakuin yang begitu tapi akunya aja yang nggak tahu.

Ada apa engga istilah milenial, wisata digital, atau wisata 4.0…piknik itu penting. Itulah inti dari inti tulisan ini.

Continue Reading