Review Buku Literasi Visual, Harus Dibaca Photography Enthusiast

Review Buku Literasi Visual
Membaca visual itu 60.000 kali lebih cepat daripada membaca
teks. Percaya? 

Apakah kamu termasuk yang sering bingung ketika ingin
menuliskan caption foto untuk Instagram? Ya memang segitunya, sampai-sampai ada
jasa pembuatan caption atau aplikasi caption generator. Pemirsa memang pelu
sebuah keterangan untuk sebuah foto meskipun itu hanya beredar di jagad Instagram
bukan di surat kabar. Kadang pemahaman akan foto belum kita miliki dengan baik
karena kurangnya literasi visual. Aku baru saja menyelesaikan membaca buku
berjudul “literasi visual”. Buku yang ringan tapi isinya padat dan bisa
langsung kita terapkan.

Identitas Buku

Judul: Literasi Visual
Penulis: Taufan Wijaya
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2018
Genre: Fotografi (semua umur)

Resensi

Ringan dibaca

Buku Literasi visual ini aku beli di e-commerce, bukan di
toko buku nyata. Biar mudah aja gitu kan, dan harganya ternyata lebih murah. Ketika
sampai, aku tak langsung membacanya, ndak sempat. Beberapa hari kemudian aku
harus melakuakn perjalanan ber KRL dari Cikarang ke Cikini. Kebetulan kereta
sepi karena belum jam pulang kerja. Alhamdulillah bisa khusyuk banget membaca
sampai kelar sebuku langsung saat itu juga.
Review Buku Literasi Visual

Menelaah Fotografi

Bab pertama buku Literasi Visual isinya tentang telaah
fotografi. Di sini aku mulai sadar, bahwa buku ini layak djadikan referensi
ilmiah. Tentu saja ini bukan buku trik memotret atau kamu tak akan menemukan
aturan-aturan settingan kamera.
Di balik itu, justru aku menemukan telaah mendalam tentang
apa itu fotografi. Jadi ingat waktu ikut sesi fotografinya Arbain Rambey di
Danone Blogger Academy. Mana foto dokumenter, foto jurnalistik, dan foto
cerita. Apa saja yang membedakan dan bagaimana sensor serta estetika dalam
sebuah foto.

Baca: Berkah Ngeblog, Masuk Danone Blogger Academy

Literasi visual berguna untuk memahami hubungan antara apa
yang kita lihat, apa yang kita pilih agar dilihat oleh orang lain, apa yang
orang lain pilih untuk dilihat, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana
kita melihat diri kita sendiri.

Budaya visual

Salah satu bagian yang menarik bagiku dari buku literasi
visual adalah tentang kemajuan dan budaya dalam fotografi. Foto prewedding
misalnya? Aku jadi berpikir jauh tentang ini. Perlukah itu buatku nanti?
Lalu tentang swafoto atau selfi, yang jadi budaya. Anyway
aku nggak suka foto selfi, silakan cek ke hapeku atau mirrorlessku deh. Hahahha.
Swafoto menampilkan eksistensi, mengukuhkan status, dan kadang menipiskan batas
antara yang privat dan publik.

Suara Perempuan dalam Fotografi

Sering banget sih ini terlintas di fikiranku. Kenapa model-model
foto itu sebagian besar perempuan? Pasti kalian akan menjawab “semua hal
tentang perempuan itu indah”. hmmm…hallo hallo fotografer perempuan, ayo dong
kita jangan ikutan pakai pikiran lelaki.

Etika

Yang tak kalah seru adalah bab tentang etika atau kesopanan
dalam fotografi. Sehari-hari masyarakat sering abai atas pertimbangan etis
ketika dengan begitu mudahnya menerima kiiman gambar kemudian membaginya
kembali. Apalagi di zaman sekarang, saat orang serba terburu-buru dalam
mengambil keputusan dan bertindak.

Rate

4.5 dari 5 bintang untuk Buku Literasi Visual. Cocok untuk
siapapun yang merasa tertarik dengan dunia fotografi. Bukan sekedar cuap-cuap
penulisnya, terbukti Taufan Wijaya menggunakan banyak sekali referensi dalam
penulisan buku ini (hingga perlu 6 halaman untuk menuliskannya).

Quotes

Ada bagian buku Literasi visual yang quotesnya merasuk
banget.
Pemaknaan foto dipengaruhi oleh pengetahuan tentang aspek
kultural dan historis, sehingga foto yang sama akan dimaknai berbeda oleh orang
yang berbeda budayanya, kelasnya, dan seterusnya.

3 Replies to “Review Buku Literasi Visual, Harus Dibaca Photography Enthusiast”

  1. Menarik juga bukunya, nay. setuju dengan tentang kita bisa berkontribusi membri suara pada sejarah, jadi gak dimonopoli penguasa. Media sosial kalo dipakenya bener mah begitu emang. Bukan berarti gak bisa suka-suka 😀 Tapi buat kita yang 'serius' pake medsosnya, nah kontribusi kita gede banget (walo followers cuma ribuan khekhekhe).

    Dan etika fotografi itu kadang2 hati nurani yang bicara. Jangan mau dikontrol gawai. Kadang2 harus mikir dulu, bener ga kalo saya moto ini, perlu gak, apakah harus, dsb, dst.

  2. bukunya menarik ya nay kayaknya. Itu seberapa tebel sih kok bisa selesai sekali duduk?

  3. Aku bukan fotografer tapi suka sama fotografi, suka sama visual yang indah indah. Kayaknya bagus juga nih bukunya.

Tinggalkan Balasan