Health | Tought

Menyesal Karena Keseringan Cemas

Desember 12, 2018
Menyesal Karena Keseringan Cemas

Kurang lebih satu tahun lalu, dalam sebuah kereta eksekutif menuju arah matahari terbit. Mataku terpejam, earphone menyembul dari balik hijab. Aku sedang mendengarkan terapi kecemasan dari youtube. 


Jika aku ditanya “hal apakah yang membuatmu menyesal hingga saat ini?”. Aku akan jawab “aku telah melewati banyak momen berharga dengan tak bahagia karena didominasi kecemasan”. Cemas apa? Banyak hal. Dari yang ngga penting hingga yang mungkin tak terpikirkan orang lain. 

Baca literatur, ngikutin youtube beberapa psikiater, memang gangguan cemas itu hal yang normal. Ada banyak orang yang bahkan lebih parah dari aku. Kasus seorang teman malah sampai mengganggu fungsi lambungnya. Ngeri kan?

Yaudah sih selow aja hidup! Gampang bilang gitu. Aku percaya, gangguan cemas itu erat kaitan dengan pola asuh atau hal tertentu di masa lampau. Yang mana artinya aku bisa ubah persepsi dalam diri. Mengganti nilai-nilai yang aku pegang dengan nilai-nilai hidup yang “selow way” atau hidup yang “bodo amat”. 

kecemasan hanyalah suatu reaksi tubuh terhadap stres, kondisi yang berbahaya, atau hal yang asing. Ia adalah rasa gelisah, tertekan, atau takut yang menimpa seseorang sebelum suatu peristiwa penting seperti wawancara pekerjaan, pernikahan, atau sesederhana presentasi di depan kelas. Kecemasan adalah hal yang normal terjadi pada manusia. Namun, bagi penderita anxiety disorder kecemasan terasa jauh dari normal. Kecemasan yang mereka alami benar-benar membuat mereka merasa lemah. Mereka akan kesulitan tidur, berkonsentrasi, berbicara pada orang lain, atau bahkan keluar rumah.  – by anxiety.org

Support sistem dari orang-orang sekelilingku sangat membantu. Dosen pembimbing skripsiku punya andil besar. Jaman nyekripsi aku nggak ada masalah dengan topiknya atau cara nulisku. Intinya, urusan akademik mah aman. Tapi urusan eksternal itu yang kata dosenku “udahlah, kamu kejar masa depanmu…jangan pedulikan orang lain yang menghambat.”

Hidup itu dinamis, masalah akan selalu ada. Nggak perlu cemas, karena sebagian besar masalah itu kita pernah selesaikan. Kita sudah tahu solusinya. Tekanan juga bakal selalu ada. Sebab kita nggak hidup sendiri. 

Cemas itu nggak enak. Beneran deh, aku melewati banyak momen indah dengan perasaan yang tak seharusnya ada. Astaghfirullah…

Aku nggak mau gangguan kecemasan itu balik lagi. Salam sehat jiwa!!!

Tinggalkan Balasan