Kartu Indonesia Pintar dan Kenangan Sekolah di Desa

Kartu Indonesia Pintar dan Kenangan Sekolah di Desa
“Eh kamu kok ga pernah masuk sekolah lagi? Mau mbolos po?” Tanyaku ke seorang anak dengan wajah lusuh.  

Sekolah SD di Bawah Pohon Pinus

Dia tak menjawab. Tapi raut matanya berkaca-kaca. Aku segera berlalu, karena sepertinya telah membuat perasaan dia tidak nyaman. Kejadian ini berlangsung ketika aku masih kelas 3 SD. Sangat dini bagi seorang anak untuk putus sekolah bahkan saat masih memakai seragam merah putih. Anak tersebut adalah tetanggaku, yang kondisi keluarganya sangat memprihatinkan. 

Aku menjalani Sekolah Dasar di desa, sekitar 40km di Selatan Pantura Jawa. Dengan fasilitas seadanya, sehari-hari kami menjalani hari-hari di sekolah yang ada pohon pinusnya itu. 

Pada masa itu, tak ada yang namanya beasiswa untuk anak kurang mampu baik dari pemerintah maupun swadaya sekolah. Teman seangkatan SD banyak yang mandeg di jalan. Selain kondisi ekonomi masyarakat desaku waktu itu yang kurang bagus, kesadaran akan pendidikan juga minim.

Secercah Harap Dari Selembar Kartu

Suatu hari saat aku sedang pulang kampung dan menonton televisi bersama ibuku, ada berita tentang masyarakat yang ramai membeli perlengkapan sekolah dengan KIP (kartu Indonesia Pintar).
KARTU INDONESIA PINTAR
Sumber: www.kemdikbud.go.id/

“Bu, kartu begitu cuma di Jakarta ap sampai sini sih?” 
“Sampe tho…tapi didata dulu, nanti ndaftar, trus dikasi kartu dan bisa dicairkan kayak di berita ini.” 

Program Indonesia Pintar yang menelurkan Kartu Indonesia pintar itu sampai desaku. 

Kemendikbud telah menyalurkan dana Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2018 sebanyak 16,8 juta siswa. Penerima PIP seluruh jenjang (SD,SMP,SMA dan SMK) sudah bisa mengambil dana melalui tabungan masing-masing.

Kartu Indonesia Pintar Buat Beli Apa Sih?

Salah satu penyebab putus sekolah adalah kurangnya biaya buat beli perlengkapan sekolah. Intinya kebutuhan personal lah ya, termasuk uang transport.

Ketika masuk SMP, sekolahku masih di desa juga…dan jaraknya lumayan jauh yaitu 10km. Sudah lintas kecamatan sih itu. Jaman itu ongkos angkot dan uang saku ditotal sehari 5000 rupiah. Kecil banget kan? Tapi bagi keluarga yang penghasilan harianya nggak menentu, angka segini gede. Bayangin tiap pagi harus ngeluarin nominal itu ngga peduli musim panas atau musim hujan.

Makanya, kartu Indonesia Pintar itu ibarat secercah harap banget. Tujuan dari program ini adalah untuk membantu biaya personal pendidikan bagi peserta didik miskin atau rentan miskin yang masih terdaftar sebagai peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Biaya personal pendidikan dimaksud meliputi: 

  • Membeli buku dan alat tulis; 
  • Membeli pakaian seragam sekolah/praktik dan perlengkapan sekolah (sepatu, tas, atau sejenisnya);
  • Membiayai transportasi peserta didik ke sekolah; 
  • Uang saku peserta didik; 
  • Biaya kursus/les tambahan bagi peserta didik pendidikan formal; atau
  • Biaya praktik tambahan dan biaya magang/penempatan kerja.

Kalau ada anak usia 6-21 tahun dalam usia sekolah yang belum punya kartu Indonesia pintar, coba deh kita bantu buat ngurus. Soalnya nggak ribet-ribet banget.
mendaftar kartu indonesia pintar
www.kemdikbud.go.id/


Rintisan Kemajuan Bangsa

Sekolah adalah tempat penyiapan generasi selanjutnya. Buat apa bikin kebijakan ini dan itu kalau pendidikanya tak dibenahi dari dasar, ya ngga? Selain pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, akses mendapatkan pendidikan yang layak ngga boleh dilupakan dari keberhasilan pemerintah. 

Aku si anak desa yang sekolah SD nya di bawah pohon pinus tadi suatu hari akhirnya bisa merasakan aroma kelas universitas di benua lain. Siapa sangka? Aku mau tetanggaku, sodara-sodaraku, juga ngerasain hal tersebut. Nggak ada lagi yang kesusahan buat biaya sekolah. Amin.
Ayooo sekolaaah…!

Tinggalkan Balasan