Belajar Mengemudikan Dana Desa dari Desa Kemudo

bumdes kemudo makmur
Pertanian Terpadu Desa Kemudo
Penghujung musim Kemarau di Klaten bukanlah hawa yang enak. Udara berdebu, badan terasa lengket, tapi hatiku bahagia. Tersirat keinginan “aku pengen jadi kepala desa ah” seusai kenyang menyantap hidangan makan siang berupa lele bakar dan urap yang dimasak bu lurah desa Kemudo. Blusukan ke desa sudah biasa buatku, tapi di desa Kemudo aku menemukan inspirasi yang terasa “gue banget nih”. 

Setiap kali mendengar dana desa, bayanganku langsung ke pengaspalan jalan atau pembuatan jembatan. Imagenya memang kayak gitu, bahkan ada image negatif jika dana desa itu buat seneng-seneng perangkat desa. 
bumdes kemudo makmur
Balai Desa Kemudo
Salah satu hal yang bikin aku greget sama desa Kemudo adalah keberanian mereka membentuk BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Saking niatnya sampai membuka lowongan pekerjaan buat para sarjana asal desa ini. Pantas saja, twitter desa kemudo di @BUMDesKemudoMakmur selalu aktif dan interaktif. Yang ngelola ternyata ya anak muda. 
UU Nomor 6 Tahun 2014 memberikan mandat kepada Pemerintah untuk mengalokasikan Dana Desa. Dana Desa tersebut dianggarkan setiap tahun dalam APBN yang diberikan kepada setiap desa sebagai salah satu sumber pendapatan desa. Kebijakan ini sekaligus mengintegrasikan dan mengoptimalkan seluruh skema pengalokasian anggaran dari Pemerintah kepada desa yang selama ini sudah ada.

Omset Milyaran dari BUMDes

“ckckkck” standing applause buat Bumdes Kemudo Makmur. 
Direktur Bumdes, pak  Purwanto Nur Wahono menyebutkan 3,7M lho omset tahun 2017. Dan target tahun ini 5M. Padahal Bumdes baru didirikan tahun 2016, tapi sudah keren begini. Untuk modal BUMDes masih berasal dari program CSR dengan PT Sari Husada yang tak jauh dari desa ini. Dana desa sebesar Rp. 720.442.000 digunakan untuk perbaikan infrastruktur, dan tahun 2018 akan dianggarkan juga untuk kemajuan BUMDes.
bumdes kemudo makmur
Sumber penghasilan utama BUMDes
Limbah kering berupa kayu palet diolah sedemikian rupa menjadi aneka furniture yang bikin ngiler ibu-ibu. Kalau mau lihat ‘show unit’ nya bisa dicek sendiri di Balai Desa. Sebagian besar perabot di sini dibuat langsung oleh BUMDes.

Menurut data Kementerian Desa & PDT (2016), perkembangan BUMDes di Indonesia meningkat secara signifikan. Di tahun 2016, target yang ditetapkan 5000 unit tetapi justru membludak menjadi 12.115 unit BUMDes yang terbentuk. Meski demikian, jumlah BUMDes harus diiringi dengan kualitas dan pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi desa . 

Inovasi dari BUMDes

Omah Tani Srikandi
Kemajuan sebuah desa tak hanya dilihat dari fasilitasnya yang ‘kekota-kota an’. Jangan lupa ya, aspek pangan dan gizi. Pak Kades Hermawan mengajak aku ke Omah Tani Srikandi yang satu kawasan dengan Balai desa. Ibu-ibu di desa Kemudo diberdayakan membuat pupuk organik dari bahan-bahan limbah domestik. 
bumdes kemudo makmur
Pembuatan pupuk organik
Meski Kecamatan Prambanan saat kemarau panjang ini gersang, tapi sayur-mayur organik di samping omah tani subur-subur banget. Aku bisa memetik terong, cabai, dan bayam di kebun yang dikelilingi kandang sapi. Dengan sistem pertanian terpadu kayak gini hasilnya bisa lebih baik. “Ini merupakan kebuh contoh untuk diterapkan di tiap RT dan RW” kata bu lurah desa Kemudo.
bumdes kemudo makmur
Sedang membahas kandang Sapi bersama pak Kades
Benar saja, ketika aku blusukan masuk desa seperti itulah keadaanya. Tiap halaman rumah tampak aneh kalau kosong. Hampir semuanya ditanami aneka sayuran dan tanaman buah. Hijau banget deh, bahkan di jalan-jalan kampung juga banyak tertempel vertikultur sayur. 
Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 1.508 KK yang tersebar di 13 Rukun Warga (RW) itu kini sebagian besar warga telah senang memanfaatkan lahan pekarangannya untuk menanam sayuran, buah-buahan dan tanaman obat.
Angkringan Joglo Karangasem
Hasil dari kebun organik tadi diolah dan disajikan di angkringan desa Kemudo. Lokasinya di tengah kampung, berdesain ala pedesaan yang bikin tambah nafsu makan. Aku menyantap langsung lele organik bakar, urap bayam, sambal dan aneka rebusan. Sungguh nikmat, apalagi piringnya ala jadul gitu. Tempat ini salah satu potensi unggulan desa kemudo yang baru dibuka. Bisa menambah pemasukan BUMDes selain sebagai sarana pemasaran hasil kebun warga.
bumdes kemudo makmur
Sajian ala ndeso
Pembayaran Pajak PBB-P2 Online
Yang menarik, BUMDes Kemudo Makmur juga memfasilitasi warganya untuk membayar PBB-P2. Di bulan September 2018 dilakukan pembayaran pajak PBB-P2 secara online dengan peserta 217 wajib pajak. Pelayanan ini bisa dijadikan contoh buat BUMDes lain agar dapat meningkatkan PAD (pendapatana asli daerah). 
Upaya yang mereka lakukan adalah dengan menyampaikan selebaran pengumuman melalui ketua RT dan pengumuman lewat masjid. Membayar pajak lebih dekat, dan pastinya lebih cepat. 

Peran pemuda

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Bung Karno).

Direktur BUMDes, pak Purwanto bilang begini “Pak Kades membuat wacana baru, pengelola BUMDES Kemudo yang biasanya dilakukan dengan pemilihan tokoh masyarakat dirubah dengan merekrut para pemuda asal Desa Kemudo yang berpendidikan perguruan tinggi” .
Setelah dilakukan seleksi, akhirnya terpilihkan 3 sarjana desa Kemudo yang ‘pulang kampung’ untuk berkiprah mengembangkan desanya. Aku jadi terharu dan menerawang karena belum berbuat apa-apa buat desaku. 

Mengemudikan Dana Desa

bumdes kemudo makmur
Segurih lele bakar
Kemudo adalah salah satu contoh yang desa yang mampu mengemudikan dana desanya dengan baik. Bagaimana dengan desaku? Desamu? Semoga setelah membaca cerita segurih lele bakar dari Kemudo ini, kamu jadi tahu apa dan bagaimana seharusnya dana desa dikelola. 

2 Replies to “Belajar Mengemudikan Dana Desa dari Desa Kemudo”

  1. Desaku belum baik dalam hal mengelola dana desa. wah kayaknya perlu studi banding kesana nih segera

    1. aaha sekalian piknik ya. Tapi haruse di Pekalongan juga ada desa yang bisa kita jadikan contoh

Tinggalkan Balasan