Mitos dan Fakta Seputar R&D

hay para mahasiswa baru di kampus, sudahkah kalian memiliki cita-cita? 11 tahun lalu, aku masih mengenakan jas almamater dan caping di kampus IPB. Saat itu mana terpikir jika suatu saat akan menjalani profesi seperti sekarang. Serius lho, aku sama sekali nggak kebayang bakal berkecimpung di dunia R&D. Imajinasiku waktu maba, mungkin kelak aku akan menjadi PNS di sebuah instansi. Ternyata bahtera nasib membawaku ke sebuah perusahaan manufaktur otomotif. Bulan depan, aku bakal 6 tahun menjadi bagian dari R&D nya. Berikut ini aku kupas mitos dan fakta yang beredar seputar bagian R&D.
Mitos dan Fakta Seputar R&D



Apa sih tugas bagian R&D?

Pertanyaan paling basic ya, tugas atau jobdesc. Jadi R&D merupakan kependekan dari Research and development. Sesuai dengan arti secara harfiahnya, bagian ini tugasnya adalah melakukan riset atau penelitian serta melakukan pengembangan khususnya terhadap produk yang dihasilkan.
Yang namanya riset, nggak melulu soal laboratorium. Mungkin ada yang bekerja di R&D media, risetnya bias di perpustakaan atau di bank data. Kalau aku sih, memang sebagian di laboratorium dan sebagian di factory.

Nggak seru di R&D

Kalian kebayang nggak sih, aku hampir 6 tahun di bagian yang sama. Kalau nggak seru rasanya aku sudah minta pindah bagian deh. Tapi ini relative ya,mungkin bos serta tim dimana aku kerja mendukung banget.
Sebagian besar orang-orang yang ada di bagian ini adalah orang-orang expert. Pengalaman kerja bertahun-tahun di berbagai perusahaan tapi bidangnya sama. Jadi ini juga penyumbang keseruan mungkin ya.

 Di R&D santai

Banyak yang salah kaprah. Kesannya karena R&D itu riset, maka bias santai tanpa tenggat deadline dan tekanan. Kami punya alur kerja yang berhubungan erat dengan semua divisi. Jadi, konsumen kami bias saja bagian produksi atau sales. Project-project juga punya deadline yang ketat. Jadi kami nggak kerja asal, ada dasar dan target yang jelas.

R&D harus pintar

Semua bagian harus pintar. Tapi di R&D memang kami dituntut untuk menjadi pemikir. Kadang harus memecahkan suatu hal yang ilmunya nggak ada di kuliah. Browsing aneka jurnal juga belum tentu dapat. Maka daya analisa dan teamwork sangat diperlukan.

Ilmu kuliah terpakai semua

Fisika, matematika, kimia,terpakai semua kok. Tapi dasarnya saja. Selebihnya, yang aku sering pakai justru sistem manajemen. Yak, menemukan titik optimum sebuah kasus misalnya. Hal-hal yang ketika kulaih teramat sangat abstrak.

Jenjang karir susah di R&D

Aheum, ini agak benar. Jadi,kalau yang dimaksud jenjang karir adalah level supervisor-manager-dst…maka agak lambat kalau di R&D. Orang R&D itu spesialis, jadi jenjang seperti itu agak tidak terlihat perannya. Kalau Level grade, yang ngaruh ke gaji itu ada kok. Yang penting bukannya itu ya? Ehehhe.

R&D sering business travel

Mitos ini. Ehhee, nggak mesti lho. Apalagi kalau tim R&D nya ada ratusan orang dan aku adalah butiran debu. Setauku yang sering business travel itu semacam marketing, atau malah quality.

Tulisan ini sengaja aku buat selain dalam rangka mau ultah ke sekian tahun bergabung dengan bagian R&D, juga karena aku lagi mampet ide. Yang kepikiran project terus, bahkan liburan saja bawa catatan siapa tahu ada yang nanyain (dan emang beneran kejadian). Blog sampai terbengkalai berbulan-bulan ini. Tiap hari buka blog cuma sekedar cek statitistik dank omen ehehe. Bahkan tulisan ini dibuat di kereta argo muria, disempet-sempetin lho karena sebulan nggak update.

2 Replies to “Mitos dan Fakta Seputar R&D”

  1. Salam kenal dari anak QA ��
    Kalo di tempatku namanya udah diganti jadi Product Developer.

    1. ohiya disini product developer ada beda lagi

Tinggalkan Balasan