Kampung Kapitan, Menelusuri Jejak Tionghoa Pertama Palembang

“Kenapa orang Palembang asli
kulitnya putih-putih ya?” 

Itu pertanyaan saya saat berada di tingkat satu
bangku kuliah. Saat mulai mengenal berbagai kultur, agama, suku, dalam atap
yang sama asrama Tingkat Persiapan Bersama IPB. Ternyata, sejak runtuhnya
kerajaan Sriwijaya…bangsa Tiongkok sudah masuk ke Palembang dengan niat
berdagang. Jejak-jejaknya masih tersimpan di kampung kapitan kota Palembang. Setelah kemarin saya cerita soal rumah Letnan Tionghoa Pekalongan yang sekarang menjadi hotel the Sidji, kali ini adalah mengenai atasannya letnan…kapten alias kapiten tapi di Palembang.
rumah kapitan


Menyeberang Dari Benteng Kuto
Besak

Mba Ira dan mba Nana memandu
saya, mba Lutfi, dan Ghana…yang baru pertama kalinya ke kampung kapitan. Dari
benteng kuto besak, kami menyewa perahu ke sana…biar lebih berasa pikniknya. Sebenarnya
bisa saja sih pakai mobil, hehehe.Kampung kapitan sudah terlihat dari benteng
kuto besak dan jembatan ampera, tapi sungai musi yang mirip laut itu harus
diarungi terlebih dahulu.

benteng kuto besak

Perahu kami merapat di depan
restoran yang bertuliskan ‘kampung kapitan’. Saya pikir, tulisan itu adalah
gerbang ke kampung pecinannya Palembang, hehehe ternyata logo restoran. Gerbang
kampung ada di belakang resto tersebut kok, ngga perlu berjalan terlalu jauh.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang
dermaga kapitan

Getaran Dari Masa Lampau

Beberapa langkah kemudian, nampak
nyata di depan saya jejak masa lampau yang membawa getaran aneh. Seakan-akan,
masih ada lalu lalang orang berpakaian abad ke-15. Lalu muncul orang yang
berbadan tinggi, mungkin bangsa Belanda. Heheh..itu khayalan kok, tapi itulah
yang kurasakan setiap melakukan heritage walk seperti ini.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang


Rumah Kapitan

Kapitan itu sama dengan kapiten,
atau kapten. Jadi, para pedagang Tionghoa sejak dahulu menetap di kampung 7 ulu
ini. Setelah Belanda datang, ada pembagian wilayah berdasarkan etnis dengan
dikepalai seorang kapten. Makanya, kita sudah akrab sama kampung arab…kampung
cina…dan sebagainya. 
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang
Konon di sini dulunya ada 15
rumah, tapi pas minggu lalu saya datang…tinggal 2 saja. Rumah tersebut berupa
rumah panggung besar bergaya campuran  tionghoa, palembang, dan eropa. Rumah pertama
yang saya masuki terbuat dari kayu, khas Palembang banget lah. Itulah rumah
Kapitan atau rumah yang dari dahulu hingga sekarang dipakai sebagai tempat
tinggal kapitan dan keturunannya.
Dari bagian teras, saya bisa
memandang ke seluruh area kampung. Andai tidak ada bangunan di depan, mungkin
jembatan ampera akan nampak dengan jelas. Pintu tinggi, jendela tinggi, inilah
aksen eropa di rumah sang kapitan.
Masuk ke dalam rumah, saya malah
merasa seperti masuk ke rumah nenek saya dulu. Ruangan persegi panjang dengan 2
meja kayu di kiri dan kanan. Banyak lukisan dan foto di ruang ini, termasuk
foto planet-planet yang saya tidak tahu maksudnya apa.
Ruang tengah diisi dengan altar
doa dengan kamar di sisi kanan dan kiri. Nuansa merah, emas, dan gelap,
memenuhi ruangan.
Dari ruang altar, saya bisa melihat
ada halaman terbuka khas rumah orang Tionghoa. Dari teras tengah ini, saya
melihat tanda-tanda bahwa rumah kapitan benar-benar masih dihuni.


Kantor Kapitan

Tepat di samping rumah kapitan
yang didominasi kayu, ada bangunan yang eropa banget. Ternyata itu adalah
kantor kapitan yang dulu digunakan untuk aktivitas menerima tamu maupun pesta. Dari
tangga, tiang, arsitektur…semuanya Eropa.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang
Berbeda dengan rumah kapitan,
ruang utama kantor kapitan ini snagat luas. Mungkin, dulu sering ada pesta
dansa di ruang ini ya hhehhe. Sekarang, ruang tersebut diisi altar doa yang
setiap perayaan hari besar tionghoa selalu ramai.
Istilahnya, ini rumah abu. Para keturunan
dari orang tionghoa kan masih suka ziarah ya, draipada susah mencara
makam…berdoanya dari sini saja. Kurang lebih seperti itu peruntukan kantor
kapitan saat ini.


Pagoda Di Taman

Bagian depan dari rumah dan
knator kapitan adalah area terbuka. Di bagian itu terdapat sebuah pagoda yang
tingginya kurang lebih 2,5 meter. saat saya datang kesana, tidak ada aktivitas apa-apa
kecuali anak-anank yang bermain.
Heritage walk di kampung kapitan palembang, cara ke kampung kapitan palembang, kampung kapitan palembang, sejarah kampung kapitan, pecinan kapitan palembang

Heritage Walk Selalu Menarik

Bagiku, heritage walk selalu
menarik. Berkesempatan untuk masuk ke rumah bersejarah yang usianya sudah 400
tahun seperti ini sungguh menakjubkan. Biar lebih jelas soal kampung kapitan
termasuk isi rumah serta kantornya, bisa tonton di video berikut:
                                   

24 Replies to “Kampung Kapitan, Menelusuri Jejak Tionghoa Pertama Palembang”

  1. wahh wisata ke tempat bersejarah memang menarik ya, kita jadi tahu bagaimana cerita di masa lampau..

    1. betul, itu sisi menariknya

  2. pagodanya unik ya. fotonya kurang banyak mbak…

    1. hhaha yang lengkap di video

  3. Ruang terbuka memang khas Tionghoa banget ya, tadinya aku pikir kayak hotel gitu lho yang ada ruang terbukanya ternyata itu rumah Kapiten ya.

    1. iya, mewah banget di jamannya pasti

  4. Nay klo kamu mikirnya pas ipb orang palembang yang putih2, aku malah mikirnya temen selorong orang kalimantan yang putih2 ahahhaha
    Pempeknya manaaa

    1. hahah gada orang Kalimantan di lorongku

  5. Aku senang baca postingan tempat-tempat klasik kayak gini. Agak-agak creepy gak kalok tempat yang ini, Inayah?

    1. hiihi datangnya ramean jadi biasa aja

  6. betul sekali, heritage walk seperti ini seakan membawa kita menyusuri lorong waktu. sekalian bisa belajar sejarah 😀

  7. Pagodanya menarik

    1. ga mistis kan ya mba

  8. kalo ke palembang kudu di kunjungin ini…

    1. harus dong, ikon wisata ini

  9. Rach Alida Bahaweres says: Balas

    Mba Innayah, aku juga suka heritage walk. Menurutku, ini cara belajar sejarah yang menyenangkan 🙂

    1. iya ya daripada ke mall terus hehhe

  10. Temanku yang palembang memang putih2 sih. Trus manggilnya nggak "kak" seperti perempuan Sumatra pada umumnya, tapi "cik" spt bhs tionghoa.

    1. iyaa…sepakat, aku juga dulu gitu

  11. Hmmm… Menarik ya. bisa gak ya main kesana *mikir 😀
    sekalian napak tilas kebesaran Kerajaan Sriwijaya hehe

  12. sebenernya nggak semuanya putih, cuma karena temen kita yang orang sana kebetulan pd putih jd mikirnya gitu

    sama kayak waktu kuliah pas ada temen yg tanya aku apa orang dr kota asalku kulitnya putih2? padahal ya nggak biasa aja, warna kulit merata kok 😀

  13. Hadhara Tripepa says: Balas

    Sekalinya menjejaki kaki di palembang hanya sebatas dilintasi saja. Ulansan mbak iya jadi brasa pingin datang kesana.

  14. […] Aku kira, inilah awal terobosan dan pintu gerbang menuju Inayah yang baru. Berawal dari nulis soal Perayaan Imlek di Pekalongan, aku bisa berangkat ke Palembang. Nggak nyangka dan nggak nargetin sih sebenarnya, tapi biasanya yang begini malah dapet yak an? Di Palembang aku ketemu banyak orang baru, termasuk para blogger juga. Palembang adalah daerah pertama yang aku kunjungi selain pulau jawa seumur hidup. Aku yang bulan sebelumnya mengalami carut-marut hidup dan kesehatan, eh langsung sehat dan segar. Rupanya aku beneran stress dan kurang piknik. Baca : masuk ke rumah 400 tahunkapitan Palembang  […]

Tinggalkan Balasan