Traveling

Gregetnya mudik 2016

Juli 22, 2016
Cerita lebaran 2016, mudik 2016, diaryhijaber, hari hijab nasional
Lebaran 2016 menyisakan cerita tak terlupakan sepanjang hayat. Mudik dan balik adalah hal yang biasa bagi perantauan mandiri dan single seperti saya. Mempersiapkan tiket kereta 90 hari sebelum keberangkatan, persiapan oleh-oleh, merapikan tempat yang akan ditinggal mudik, manajemen perjalanan pulang pergi adalah bukan sesuatu yang spesial. Tapi tahun ini, semuanya terasa tidak wajar dan di luar prediksi.

Tentu bukan karena cuti saya tidak diterima atasan, bukan pula karena saya terjebak macet di brexit. Lebih dari itu, ada pelajaran dari Allah yang tidak boleh saya lewatkan. Tanpa ijinNya, kereta pun bisa bablas begitu saja. Bagaimana bisa?

Ente copet ya!

Kereta yang saya naiki adalah kereta Harina relasi Bandung-Surabaya, sedangkan saya tentu turun di Pekalongan. Dari tempat kerja di Cikarang, saya harus naik kereta lokal jakarta-purwakarta dan turun di cikampek sebelum dijemput Harina jelang tenggah malam. Selama di dalam kereta lokal saya asik chat dengan smartphone agar tidak bosan. Satu jam kemudian, kereta berhenti di stasiun Cikampek. Kondisi di dalam gerbong cukup lengang sehingga tidak perlu berdesakan saat hendak turun. Yang aneh adalah, seseorang di belakang saya mendorong-dorong tak sabar. Akhirnya saya minggir dan mempersilahkan bapak itu maju. Bukannya terus berjalan dia malah mepet dan menutupi tangannya dengan tas. 
Eeaaakk…saya paham modus ente. Yes, dia melihat smartphone saya menyembul dari saku baju seragam. ‘woi pak…biasa aja dong…!’ itu yang saya ucapkan sebelum akhirnya bapak itu turun dari kereta. Alhamdulillah smartphone aman dalam genggaman. Main hape boleh aja kok, asal kita fokus dan mastiin barang itu ngga pindah tangan.
Cerita lebaran 2016, mudik 2016, diaryhijaber, hari hijab nasional

Solat Isya dikacaukan balita

Sesampainya di stasiun Cikampek, saya segera merapikan diri dengan mengganti seragam kerja dan bersiap solat isya. Di stasiun ini terdapat musola kecil di sebelah utara yang lumayan bersih. Saat saya sudah memakai mukena dan hendak solat berjamaah, datanglah seorang ibu muda dengan 2 balita serta seorang mas-mas yang sepertinya adalah kepala keluarga itu. Si bapak dan si ibu menyusul untuk berjamaah sementara 2 balita berlarian di musola. Pada rakaat ke-2, satu orang balita mulai keluar area solat. Saya tahu, kiri kanan musola adalah rel aktif yang tiap saat dilewati kereta. 
Si ibu muda membatalkan solatnya dan menarik si balita masuk lagi ke musola. Kejadian itu berulang-ulang hingga solat selesai. Mengejar pahala solat jamaah memang baik, tapi jika malah muncul mudharat ya Allah mahatahu kok. Akan lebih baik, jika tidak ada yang bisa dititipi maka bergantianlah si bapak dan si ibu balita.

Ketemu pemudik bedol desa

Sudah tahu belum, saat naik kereta kita punya batas maksimum bagasi? Iya, pemberlakuan maksimum bagasi adalah 20kilogram. Lalu bagaimana dengan pemudik yang membawa koper segede koper jamaah haji? Itupun masih ditambah ransel dan tas lain. Bukan hanya mempersempit jalan di dalam gerbong, space untuk barang bawaan penumpang lain juga jadi berkurang. 
Dan tahukah kamu siapa pemudik bedol desa itu? Jeng jeng…si bapak dan si ibu muda yang sebelumnya saya temui di musola. Ternyata mereka membawa rombongan. Ada si ustadz anu…dan si antum ini. 
Pengawasan dari pihak stasiun mengenai maksimum bagasi masih lemah, khususnya untuk di stasiun kecil seperti Cikampek ini.

Keretaku bablas ke Semarang

Menurut jadwal, Harina diberangkatkan dari stasiun Cikampek pada pukul 23.45 wib. Malam itu tak seperti biasanya, kereta delay 30menit. Tak masalah bagi saya, sebab Pekalongan cukup dekat dari Cikampek kalau pakai kereta. 
Jam 3 pagi alarm smartphone saya berbunyi membangunkan sahur. Sahur ala kadarmya dengan roti dan susu sudah cukup. Kereta sampai wilayah Tegal saat saya memberitahukan keluarga via sms. Di tiket, Harina akan berhenti di stasiun Pekalongan pukul 03.40 wib. Saya tidak tidur lagi usai sahur sebab mengetahui bahwa kereta akan segera berhenti.
Beberapa saat kemudian, saya menyadari bahwa laju kereta agak melambat tapi tidak berhenti penuh. Lagipula, sewajarnya 5 menit sebelum sampai stasiun akan ada pengumuman via speaker di dalam gerbong. Saya masih santai saja hingga tiba-tiba saat kereta mempercepat lajunya, saya melihat tulisan ‘RSUD Bendan’ yang mana letaknya di sebelah utara stasiun Pekalongan. 
‘lhah…ko nggak ada pengumuman?..lhah ko berhentinya ngga di depan stasiun?…’ sambil merepet saya segera mengemasi barang bawaan sebab ada penumpang baru yang hendak duduk di kursi saya. 
Cerita lebaran 2016, mudik 2016, diaryhijaber, hari hijab nasional
Gerbong restorasi
‘pak…ini gimana ko nggak ada pengumuman? Trus saya turun dimana? Saya duduk dimana?’ repetan saya ke customer service on train kalau dipersingkat jadinya seperti itu. Tidak lupa, saya juga merepet di twitter PT KAI soal kejadian tidak menyenangkan yang saya alami.
Seorang petugas keamanan membantu mengangkat barang bawaan saya ke gerbong restorasi. Duduk diantara para petugas kepolisian hingga sampai di stasiun semarang tawang menjadi pilihan saya. Menurut informasi dari petugas di gerbong restorasi, kereta Harina memang hanya berhenti 3 menit di Pekalongan sebab adanya keterlambatan saat pemberangkatan. 

Mudik ke Semarang dulu

Jadilah pagi itu saya mudik ke Semarang dulu. Keliling kota tua (bareng tukang ojek). Dari stasiun Semarang Tawang saya harus ke stasiun Poncol untuk naik kereta ke Pekalongan. Untung saja, ada kereta Kaligung yang diberangkatkan tak lama setelah saya sampai di stasiun Poncol.
Cerita lebaran 2016, mudik 2016, diaryhijaber, hari hijab nasional
Suatu pagi di stasiun tawang

Kiri Sindoro Kanan Laut Utara

Ternyata perjalanan kereta menuju Pekalongan dari Semarang sangat manis. Pemandangan yang tersaji pagi itu sungguh dramatis. Sebelah kiri adalah deretan pegunungan yang pernah saya jajaki ketika trip ke Dieng. Sindoro sumbing tampak nyata pagi itu dengan kaki-kaki persawahan hijau. Tak kalah menarik, sebelah kanan kereta adalah laut utara dengan kebiruan airnya. 
Cerita lebaran 2016, mudik 2016, diaryhijaber, hari hijab nasional
Di tepi laut

Semua ada hikmahnya

Akhirnya, perjalanan mudik saya berakhir manis dan menjadi awal untuk sederet rangkaian acara silaturahim lebaran yang penuh kesan. Tahun ini sempat bikin ketupat sendiri lho, hehehe bisa cek video tutorialnya yang diperankan simbah saya.
Sebagai muslimah yang terus berusaha memantaskan diri, sudah seharusnya saya bisa mengambil hikmah atas segala petistiwa baik atau buruk. Kadang saya malu dengan identitas yang saya pakai, hijab. Masa pakai hijab merepet di kereta? Begitulah, masih berproses untuk menjadi lebih baik. Bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang sepaham dan positif adalah salah satu hal yang wajib saya lakukan. Misalnya, bergabung di komunitas diaryhijaber serta rajin mengikuti recent updatenya di social media. Kalau kamu hijaber juga, yuk kopdaran di masjid agung sunda kelapa 7-8 Agustus 2016 ini. Hari itu adalah hari hijaber nasional, sudah tahu belum? Perbanyak silaturahim agar usia kita diberkahi. Amiin.

Bagaimana cerita mudikmu?
  1. Huwaaa, emang greget ini mudiknya.
    Kasian deh, copetnya, gatot ya.
    Waduh, cepet banget berhentinya,cuma 3 menit. Tetapi, bener kata mba, semua tetap ada hikmahnya

  2. Wah seru ya perjalanan mudiknya. Aku mah jaga gawang aja alias ga kemana-mana. Stay tune di Bandung hehehe/ Aku pernah mergokin yang mau nyopet gitu juga. Tapi kejadiannya di mall BEC, beberapa tahun yang lalu. Ketika orang-orang panik cari pintu keluar (waktu itu terjadi gempa) eh masih ada yang curi-curi kesempatan buat nyopet. -_- Nyawa lagi terancam gitu, masih mikir ga bener.

  3. Lho jadi jalan-jalan ke Semarang :)) Hikmahnya banyak banget mbak. Alhamdulillah tetap selamat. Btw agak kaget juga masih ketemu orang-orang yang bawaannya besar-besar. Kemarin aja aku bawa satu koper besar masih ditimbang di stasiun.