[Review Buku] Kambing dan hujan

Review kambing dan hujan, kambing dan hujan, novel, resensi kambing dan hujan
Pernahkah kamu dan pasanganmu berlebaran di hari yang berbeda? Atau, cara beribadah kalian tak bisa dikatakan sama persis? Urusan keyakinan memang rumit jika mau ditelusuri. Bagi kita yang telah dewasa, memaksakan pendapat meski kepada orang yang sangat dekat sekalipun rasanya kok kurang bijak. Ketika cinta sepasang anak manusia harus terhalang sebab mereka berbeda cara solat subuh, haruskah kita tertawakan? Realita seperti itu banyak terjadi di Indonesia yang notabene cukup heterogen. 

Novel ringan ini akan membuat kita tersenyum bahkan tertawa. Hal-hal yang barangkali sangat lucu bagi yang belum pernah merasakannya. Bagi saya pribadi yang tinggal di keluarga ‘NU kental’ bercampur ‘Muhammadiyah kental’ adalah biasa. Bagaimana denganmu?
Identitas Buku
Judul: Kambing & Hujan: Sebuah Roman
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 380
Sinopsis (Goodreads)
Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.
Hubungan Mif dan Fauzia menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.
Review
Terima kasih “G” yang sudah merekomendasikan buku ini dan memaksa saya untuk segera selesai membacanya. Topik sensitif ya kalau berbicara Nu-Muhammadiyah, eh tapi kok penulis bisa membawanya jadi seperti guyonan. Guyonan yang memang real sering terjadi dan sarat makna. Bahasa ringan, alur enak diikuti, dan tentunya penokohan yang kuat bikin saya sangat menikmatinya. 
Tinggal di Pekalongan yang cukup relijius baik NU nya maupun Muhammadiyah nya membuat saya sudah sangat terbiasa dengan apa yang terjadi di buku ini. 
“saya cinta dia…”
“tapi dia..Muhammadiyah..solat subuhnya ngga pakai qunut..kamu masih mau?”
Atau…
“dia itu Nu…sering melakukan amalan-amalan yang dekat dengan syirik..apa tuh tahlilan..? “
Ya…hal-hal seperti itu akrab banget di telinga. Tapi, karena kami dari kakek-nenek sudah heterogen dan kuat dalam masing-masing keyakinan ya nggak sampai perang saudara.  
Kisah cinta yang diceritakan di novel kambing dan hujan bukan kisah cinta ala FTV kok. Meski rumit dan mengharu biru. Perbedaan kultur, keyakinan, dan kisah masa lalu para orang tua jadi tembok yang jika tak hati-hati dijebol malah akan mengubur mereka.
Novel kambing dan hujan layak dibaca untuk kamu yang tertarik dengan budaya dan roman. Anyway, ini bukan roman picisan. 

Rate
4 dari 5
Quote
“Anak memang sering tak mau melibatkan ibunya dalam masalahnya. Mungkin karena si anak tak ingin ibunya ikut susah. Mungkin juga karena si anak tak yakin ibunya bisa membantu. Tapi, Mif, Anakku, seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya.”

“seperti kambing dan hujan—sesuatu yang hampir mustahil dipertemukan.”

23 Replies to “[Review Buku] Kambing dan hujan”

  1. Konflik cintanya bermula dari sesuatu yang sederhana ya. Ini nyata, ada di sekitar kita tapi kadang terlupakan.

    1. Betul. Ada lho mereka yang gagal nikah karena beda ormas

  2. wuiahhh konfliknya rame nih, ada latar belakang agamanya pula yak

    1. Rame dan sering kita alami mba

  3. Afrizal Ramadhan says: Balas

    Kalau cinta mengalahkan logika. Saya g nau baca deh.. apalagi yg di usung tema muhammadiyah-NU

  4. Hihihihi ternyata seagama aja ga cukup. Harus se aliran se mahzab

    1. Nah iya . Mba Ratu pasti udah sejalan se iya sekata

  5. Gustyanita Pratiwi says: Balas

    Jadi 2 tokoh ini yang satu nu yang satu muhamadiyah ya nay

  6. Muna Sungkar says: Balas

    aku udah punya bukunya tapi belum tersentuh hahaha….
    harus secepatnya dibaca ini kayanya

    1. Betul mba Muna…lumayan lah buku ringam begini ga perlu mikir dalem dalem

  7. Asli menarik banget premis yang diangkat Jeung Inay, dulu tumbuh besar di lingkungan NU kental dengan sedikit (hampir gak ada) dari aliran Muhammadiyah. Jadi waktu tumbuh besar bukannya diajarkan islam itu mestinya begini begitu, tapi lebih ke islamnya NU mestinya ini itu ini itu, yang itu lalalililelelele selain NU salah. Hihihi. Tapi Alhamdulillahnya semakin besar di lingkungan itu, semakin banyak ulama muda yang lebih terbuka pikirannya. 😀 BUkunya menarik banget. Nanti saya pinjem dari perpus ah. 😀 Makasih banyak rekomendasi bukunya 🙂

    1. Sama sama mas Dani…selamat membaca 🙂

  8. suka quote-nya 🙂
    berbeda itu indah yah Mba Nay, jadi penasaran pengen baca bukunya 🙂

  9. berarti harus sama-sama sering ngaji gitu ya… kalau aku sih nggak ke golongan2 gitu. kalau buat aku semua ada penyesuaiannya. intinya selama ada rujukan dari alqur'an dan hadits shahih ya bener berarti 🙂 soal qunut pun aku nggak baca karena nggak ada backup rujukan bahwa itu wajib. gitu aja sih, simple. NU dan Muhammadiyah pondasinya aku yakin nggak diisi oleh orang2 yang sembarangan. Tapi masyarakat yang condong pada salah satu, kalau jelek2in yang lain kesannya gimana gitu padahal sama-sama ahlusunnah.

    Rulnay, ini verify gambarmu ganggu banget lho, kemaren bukannya udah dihilangin? kok masih ada

    1. Padahal udah dinonaktivin lo Nin heuheu

  10. Pertanyaannya adalah: siapakah "G"? *ehm*

    1. Aaaaww siapa yaaah

  11. Susi Susindra says: Balas

    Terjadi padaku…. hahahahaha….. Tapi gak kental sih, cuma ya awalnya jadi bahan diskusi yg rame

    1. Wah ternyataa ada nih kisah nyatanya

  12. mau cek2 ah, lagi nyari bacaan nih

Tinggalkan Balasan