Traveling

Sunrise terindah itu ada di Dieng

April 21, 2016
golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
golden sunrise at prau mountain

Hari ke 101 tahun 2016 saya buka
di padang bunga daisy gunung prau Dieng. Konon, sunrise di gunung prau adalah
salah satu yang terindah di Indonesia. Tak heran jika saat weekend tiba,
tenda-tenda pendaki menyemut demi sensasi melihat 4 gunung sekaligus dalam satu
tatapan mata. Gunung sindoro, sumbing, merapi, dan merbabu akan kamu saksikan
secara nyata bersamaan dengan munculnya mentari pagi. 

Perjalanan Naik Ke Gunung Prau
Saya naik ke gunung prau pada
hari sebelumnya. Jadi, sempat menginap semalam biar terasa petualangannya.
Perjalanan mendaki saya tempuh bersama 10 rekan lain dari pos pendakian Patak
Banteng. Tak mudah melewati medan yang normalnya cuma perlu waktu 2 jam saja
ini. Tantangannya adalah kabut tebal, hujan, dan petir gunung yang luar biasa. 

Saturday Night At Prau Mountain
Malam mingguku tak sendiri lagi
saat itu. Hati hangat penuh antusiasme meski badan kedinginan efek angin
gunung. Semenjak lepas maghrib, jaket tebal sudah saya kenakan. Sarung tangan,
kaos kaki, dan sleeping bag sekalian. Saya benar-benar takut hipotermia seperti
yang sering didengar dari teman-teman pendaki. 
“but..minggir ke kanan dikit
dong” kata saya dari depan tenda
“ngapain” jawab teman
“saya mau ngeliatin kompor…biar
ada sugesti rasa anget”
Iya, ternyata melihat kompor yang
menyala bisa membuat saya terasa hangat..hahaa. 
“woi..bangun bangun..ayo lihat
milky way” seru mas kaka
Saya, mba Widi, dan mba Wulan
sudah khusyuk di sleeping bag masing-masing. Jadi, malam itu dihabiskan dengan
bercengkerama. Saya tidak bisa tidur nyenyak, sebab kondisi puncak sangat ramai
malam itu. Lebih ramai dari perkemahan jambore sekabupaten. Apalagi menjelang
pagi, makin banyak pendaki yang sampai di puncak untuk menyaksikan sunrise tanpa
menginap.

Jahe Bakar Rasa Rumah
Pukul 05.30 sebagian besar
pendaki sudah mencari spot paling keren untuk mengabadikan penampakan gunung 4
sekawan (sindoro, sumbing, merapi, merbabu) serta mentari. Pun dengan teman-teman
serombongan saya tak ketinggalan. 

“minum ini nih..anget” kata mba
Wulan menyodorkan mug berisi wedang jahe
“eh..iya..enak..” jawab saya
“jahe asli itu mba” kata si
pembuatnya, mas Fai
“dibakar dulu kan mas jahenya?”
“iya”
Huwaa…ini berasa di rumah.
Beneran deh, wedang jahe seperti racikan mas Fai itu cuma saya rasakan pas
sedang di kampung halaman. 
“kita ke bukit teletubbies yuk”
ajak mas Fai
“jauh ngga? Naik turun bukit
ngga?” tanya saya
“tuh…di sana” mas Fai
menunjukkan deretan bukit kehijauan yang sepi. 
Area di sekitar tenda-tenda sudah
penuh dengan manusia yang berfoto atau menerbangkan drone. Jadi, mencari lokasi yang masih sepi untuk menikmati sunrise adalah pilihan terbaik. Saya
ikuti langkah mas Fai yang cepet banget (padahal dia tidak memakai alas kaki).
Golden Sunrise Gunung Prau
Setelah naik turun beberapa bukit
dan melewati padang bunga daisy, berhentilah langkah mas Fai. Pantas saja orang
rela jauh-jauh ke sini, yang terlihat benar-benar seperti foto di kalender.
Siapkan kamera, drone, dan pasang mata baik-baik ya.

Yang saya lihat ini golden
sunrise bulan April yang kata orang masih kalah indah dengan golden sunrise
gunung prau pada bulan Juli atau agustus. Kamu tetap bisa melihat 4 gunung dalan satu tatapan mata kok. Menakjubkan !

Sarapan ala gunung
Di puncak gunung prau tidak ada
yang berjualan makanan. Yang kami lakukan adalah memasak dan makan bersama.
Nasi putih, sosis, tempe, otak-otak, terasa sangat nikmat jika disantap beramai-ramai di alam terbuka seperti ini.

Usai sarapan, kami ber 11 siap-siap
untuk kembali ke kehidupan asal alias turun gunung. Packing ternyata bukan
perkara mudah. Bawaan terasa lebih berat dari saat mendaki.

A photo posted by Widiastuti Dwi Mulyani (@widiastutidm) on Apr 12, 2016 at 5:58am PDT


Tepat jam 10 pagi, doa diucapkan
bersama-sama sebelum kami memulai langkah menuruni gunung prau via jalur dieng.

Puncak 2565 mdpl?
Jalur Dieng kami pilih sebab
medannya yang landai meski jarak tempuhnya lebih lama. Lagipula, bosen ah..masa
lewat jalan yang itu-itu saja. Tak jauh dari bukit yang beberapa jam sebelumnya
saya tapaki untuk menatap matahari terbit, ternyata terdapat jalur yang bisa
membawa kami menuruni gunung prau.

golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
peta jalur dieng
Setengah jam perjalanan
pemandangan yang kami saksikan hanya bukit dan bukit layaknya di teletubbies. Panas
menyengat saat di depan saya terbentang tanjakan cukup tinggi. Ternyata saya
tak perlu mendakinya, hanya memutari bukit.

golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
eh ini tanjakan cinta?

Di balik bukit, udara terasa lebih
dingin. Kabut mulai turun mendorong saya berjalan lebih cepat. Tapi, sayang
sekali jika momen ini lewat begitu saja bukan?

golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
berasa di film-film
Saat saya berniat istirahat
setelah melewati sebuah tanjakan, mata tertuju pada tugu kecil. Puncak ?
lho..yang tadi di tempat perkemahan bukan puncak dong? Ternyata, puncak gunung
prau 2565 mdpl itu letaknya di jalur Dieng. Syukurlah kami lewat sini, meski
tidak ada pemandangan di puncak selain kabut tebal.

golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
puncak 2565 mdpl beneran

golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
tugu puncak gunung prau
Jalur babi
Selepas puncak, jalur yang kami
lewati bukan lagi padang rumput melainkan jalur babi. Eh..maksudnya jalur
setapak yang sangat sempit. Semak belukar, kadang jurang, dan harus sangat
hati-hati. Di antara puncak dan jalur babi ada persimpangan, ya..kamu bisa
memilih lewat bawah tower pemancar sinyal telekomunikasi atau lewat jalur babi. Yang
saya pilih adalah jalur babi karena bebas dari tanjakan. Menurun saja terus, jadi
persiapkan lutut ya dan awas terpeleset.

Tugu Perbatasan Batang-Wonosobo
Menemukan tempat landai, kamipun
berhenti sejenak.

“lho..perbatasan batang-wonosobo?”
teriakku seakan sudah sampai di seberang kampung halaman.

Gunung prau adalah patok
perbatasan untuk kabupaten Batang, Kendal, dan Wonosobo. Jadi, pantas saja jika
di tengah hutan cemara seperti ini ada tugu perbatasan.


“ini Batang daerah Gerlang, yang
ada telaga Sidringo” jelas mas Fai

Jalur Dieng ternyata memang bukan
pilihan yang salah untuk kepulangan kami. Dengan riang gembira meski ancaman
terpeleset selalu ada, sampailah kami di batas ladang dan jalur pendakian.

Selepas ladang, pos pendakian
Dieng sudah terlihat di depan mata. Kamu bisa membuang sampah sisa pendakianmu
di sini.


Welcome To Dieng
Berjalanlah melewati perumahan
penduduk usai pos pendakian Dieng. Kamu akan menemukan kembali ATM, minimarket,
toilet umu, dan aneka penjaja oleh-oleh khas Dieng. Hal pertama yang saya
lakukan adalah membalas bermacam jenis chat dan sms. Setelah itu mencari ATM
dan membeli celana untuk ganti.

Tips Survive di Gunung Prau
1| Pastikan fisikmu sehat dan
mantap (punya motivasi) untuk bisa sampai puncak
2| Siapkan perbekalan yang cukup (di atas tidak ada air)
3| di puncak prau tidak ada
sinyal. Kabari keluarga, boss, dan orang yang kira-kira akan mencarimu.
4| pemula? Jangan naik gunung
sendirian
5| jika merasa kurang enak badan,
informasikan ke rombongan
6| kepala berat? Badan pegal? Dingin
tak terkira? Itu gejala hipotermia, hangatkan badan segera dan (baca no.4)
7| Tidak ada toilet, percaya
dirilah untuk menggunakan semak-semak, jangan ditahan
8| Ibadah jangan terlewat
9| Turun gunung jam 9-10 pagi agar
tidak terkena hujan di jalan
10| Hujan? Matikan handphone,
awas banyak petir
Setiap perjalanan pasti memberikan pelajaran yang berbeda-beda. Kesan mendalam terhadap berbagai
peristiwa mampu menyadarkan bahwa “banyak cara indah menghadapi problematika kehidupan”
-inayah                                                                                                                                                                                                                           
  1. belum pernah ke Prau, pernahnya ke Sikunir. Sayang, suasana diatasnya saat itu rame parah, susah mau selfie dengan latar sunrise. Seandainya buka lapak bisa laris manis.

  2. Wah ini bisa jadi destinasi nih untuk didaki selanjutnya wah harus dikasih tau dulu nih ke teman komunitas saya kayanya muantappp juga.

  3. Aaakkk jadi inget dieng lah aku
    Uda hampir nyampe tengah2 jalan yang nanjak ealahnkejebak muacet hihihi
    Kudu peka sama jalur vabi ni lain kali

  4. Aaah jadi pengen naik gunung. Beneran bagus banget ya mbaak.. itu gambar gunungnya bisa berjejer gitu. masyaallah..

    Tapi saya mah belum pernah naik gunung sebelumnya, apa itu tidak apa apa kalau misal nanti mau kesini gitu ?
    Ohya.. mbak innayah ini sama rombongan apa?
    rekan kerja kah?
    Atau komunitas?

  5. Jadi tambah pengen ke Prau nih Mba Inn.. tapi keknya musti nunggu sikecil gedean dikit. kalaupun dia betah dinginnya ya rempong gendongnya 😛

    Btw bukit teletubbies jg ada di daerah waduk cemethi, masuk wilayah Banjarnegara dari Dieng masih naik lagi 🙂