Book

[Review Buku] Perjanjian Yang Kuat, Harus Dibaca Single 25+

Februari 4, 2016
review novel perjanjian yang kuat, review novel mitsaqan ghaliza, novel islami, leyla hana, menikah, pernikahan,novel pernikahan
mitsaqan ghaliza
Pagi itu seorang wanita berjilbab
peach menyambangi meja kerja saya. Namanya Fatimah, dia datang sambil tersenyum
dan menyodorkan sebuah buku.

“apa ini?”
“buku..buat kamu Inay”
“hah..dalam rangka apa? Lagian kan
kamu ngga suka baca?”
“sudah baca..aja..”
“wahh makasih banget yaaa”
Fatimah itu sahabat karibku, yang
sudah menikah beberapa bulan lalu. Agak aneh sih dikadoin buku, apalagi buku
bukan interest dia. sejenak kubaca sampul belakangnya, dan …uhuk..pantes aja
Fatimah ngado ini. Pas banget ini sih, sekilas dari sinopsisnya buku ini
bercerita tentang seorang wanita 25+ yang belum menikah. 

Identitas Buku
Judul: Perjanjian yang Kuat
(Miitsaqan Ghaliiza)
Penulis: Leyla Hana
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 260
Sinopsis
Setiana risau dengan jodoh yang
belum datang juga di usia menjelang 29 tahun. Keluarga besar mencoba
menjodohkannya dengan beberapa pemuda, tetapi semuanya gagal. Setiana memiliki
cinta terpendam kepada Edo teman dekatnya selama kuliah. Namun, Edo bersikap
biasa saja terhadapnya, bahkan kemudian menikah dengan wanita lain.
Setiana memasrahkan jodohnya
kepada Allah swt., terus memperbaiki diri, sekalipun beberapa rekan kerjanya
tak hentinya bergosip mengenai dirinya yang “perawan tua”.
Review
Tak salah jika Fatimah, sahabat
saya memberikan ini. Subhanallah…walhamdulillah galau. Tokoh utamanya
seakan-akan diriku sendiri. Ah nggak juga,,saya mah single yang ngga pernah
dijodoh-jodohin. Single yang menikmati hari-hari sendiri…dan masih kuat
datang dari satu kondangan ke kondangan lain sendirian. 
Novel ini sangat cocok dibaca
para single usia 25+, ngga kebayang kalau bacanya masih jaman unyu-unyu sih
bakal hambar. Sensasi suka dukanya hidup melajang saat yang lain sudah gendong
anak itu benar-benar tergambarkan dalam alur cerita yang ringan.
Layoutnya cewe banget, terganggu
sedikit dengan ilustrasi di setiap halaman serta pemilihan warna pink yang
menyilaukan mata. Setting cerita novel Perjanjian yang Kuat ini di Semarang,
sayang banget pesona khas lokal nya kurang tereksplore maksimal. Penokohan tidak
ada yang berlebihan, semua masih sangat manusiawi.
Sebagai single, saya merasa
tertampar sih sampai galau. Jodoh itu sudah tertulis, meski ada yang mudah ada
yang sulit. Ada bagian yang bener-bener gue banget sih, kayak pas si tokoh
utama disodorin pertanyaan maukah jika
akhirnya harus menikah dengan duda.
Pertanyaan yang pernah saya dapatkan
ini sempat bikin kaget. Sepakat sama si tokoh utama, kalau sudah cinta sih
yah…status nggak masalah. Apalagi jika dia itu sosok yang sudah mengisi hati
sejak lama, sudah saling kenal juga. 
Ternyata seperti itu ya perasaan seorang ibu yang anak perempuannya
belum juga nikah.
Saya sampi berkaca-kaca bacanya kalau sudah menyangkut
tentang orang tua. 
Yang saya dapatkan setelah membaca
novel Mitsaaqan Ghaliiza adalah aku
tidak mau menikah hanya untuk menghilangkan status jombloku supaya tidak mau
dicap sebagai perawan tua. Aku ingin menikah dalam rangka beribadah kepada
Allah.
semoga harapanku tidak berlebihan. 
Rate
4 dari 5

Quotes
Memang sulit menerima aliza bisa
membuka hatiku untuk lelaki lain dan tidak terpuruk ke jurang yang lebih dalam. 

Al-Qur’an hanya menyebutkan tiga
peristiwa yang termasuk mitsaqan ghaliza (perjanjian yang kuat). Pertama,
perjanjian Allah dengan nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa. Kedua, perjanjian Allah
dengan Bani Israel. Ketiga, perjanjian dua anak manusia dalam ikatan
pernikahan. Saking kuatnya perjanjian dua anak manusia di dalam pernikahan, ‘arsy
(kursi) Allah akan berguncang manakala ada sepasang suami istri bercerai.
*sudah baca friday hobbies lainnya? ngga cuma review buku lho..
  1. Huwaaaa.. Makasih reviewnya, Mba Innaa. Semoga Allah mudahkan bertemu dengan jodohnya. Ini kisa based on true story. Temanku sendiri yg minta dinovelisasikan 😀

  2. Hmm, aku jadi keinget obrolan sama teman-temanku beberapa waktu silam.

    Perkara, "Jodoh itu sudah tertulis, meski ada yang mudah ada yang sulit". Bagaimana dengan orang yang setiap kali ada lawan jenis yang berusaha mendekatinya, orang tersebut berpikir, "lawan jenis ini bukan jodohku, kelak akan datang lawan jenis yang benar-benar bisa aku anggap sebagai jodoh."

    Apakah yang demikian itu malah menghalang-halangi datangnya jodoh?

    Kemudian pernyataan, "Aku ingin menikah dalam rangka beribadah kepada Allah". Apakah memang benar seperti itu? Kalau alasannya untuk beribadah, sejatinya apapun lawan jenisnya kan tidak masalah. Ibarat shalat berjamaah, siapapun imamnya dan makmumnya bukankah tidak pernah pilih-pilih?

    Kalau menurutku ya, dasar utama orang menikah karena saling merasa "cocok". Itu pun pengertian cocok bisa multitafsir untuk tiap pasangan.

    Ah, pagi-pagi kok ya sudah ngasih komen panjang seperti ini… :p

  3. Jodoh itu sama kayak punya anak, sama2 rahasia Allah dan bukan barang perlombaan jadi bersabarlah. Btw, jadi penasaran nih sama bukunya. Kayaknya recommended buat para 20something yg sedang galau soal jodoh.

  4. aku dulu juga galau.. tapi setelah akhirnya menikah di 25+ jadi berpikir ulang, menikah itu bukan cuma kecocokan tapi juga harus berpikir 3 atau 10 langkah ke depannya. Tapi memang lebih baik segera menikah bagi yg sudah ada pasangannya utk menghindari fitnah. Tetap Semangat Nay..

  5. Menikah itu bukan sekedar menikah, karena banyak dari generasi kita yang lagi terkena peter pan syndrome atau cinderella syndrome kalo kata bu Elly risman. Membayangkan kehidupan bak semulus paha cheribel. hihihi
    Just Remember, marriage is a lifetime commitment. So don't gamble your future.

    OOT Nay, masih inget aku gak? Ibu2 ndut pake dress biru waktu di acara KEB yang lagi nungguin Gojek depan sency..HAHAHAHA 😀

  6. walaupun saya sudah menikah dan udah punya anak, novelnya sepertinya tetap menarik utk ibu2 seperti saya hehe
    saya sendiri menikah sudah di ujung usia menginjak kepala tiga saat itu, sempat was2, apalagi ibu saya sepertinya sudah ingin banget punya mantu, juga teman saya yg menakut-nakuti saya kalo nanti punya anak jgn sampai ada di usia 30, riskan katanya. tambah galau saya. Tapi Alhamdulillah, saya punya anak pertama di usia 31, tak ada apa2. Saya setuju bahwa menikah adalah utk ibadah. Semoga bisa cepat dapat pasangan hidup ya…

  7. waduuuhhh.. aku waktu umur 25 kayaknya belom mikirin mau nikah, apalagi nkah sama duda hahahaa.. eh tapi sampe sekarang udah 33 juga masih blm nikah sih kalo ada duda kaya bolehlah jyahahahahaaaa