Tought

Suka Duka Female Engineer, Break The Stereotype

Januari 25, 2016
suka duka menjadi engineer wanita, berkarya dalam perbedaan, emak-emak blogger, keb, 4tahunkeb, wanita, engineer, industrial engineering

‘ajak istrinya..atau anak-anaknya yang cewek dong’ pinta saya.
‘yah..males mba..pengennya kita-kita aja..nanti repot bawa-bawa istri’
kata salah satu teman kerja.
‘jadi saya ngga bisa ikut nih?’
‘ikut aja..nanti satu kamar sendirian, biar luas..hahaa..kita mah
dimana aja bisa’
‘tapi pak..’
Pertengahan 2015 adalah pertama
kalinya saya traveling pake nginep dengan teman-teman kantor yang kesemuanya
pria. Untung ada yang bersedia mengajak adiknya, jadi nggak keki banget
lah.  
Baca juga: weekend getaway ke Garut

Setiap kali ditanya background
pendidikan, saya akan jawab ‘saya teknik
mesin’
dengan mantap. Hampir semua orang yang mendengar jawaban itu akan
terbelalak dan bilang ‘ngga salah?’. Saya akui, tak pernah terlintas sekalipun
dalam fikiran untuk mengambil kuliah di jurusan ini dan kemudian terjun di
industri manufaktur. Anggap saja saya pernah tersesat, tapi tersesat di jalan
yang benar. Menjadi engineer wanita diantara para pria adalah tantangan
tersendiri. Bias gender sering mengakibatkan pandangan miring, terutama dengan
kredibilitas.

Cewek Kuliah Teknik
Mesin
Ketika saya ingat bahwa cita-cita
dulu adalah dokter, rasanya kok seperti menelan paracetamol tanpa air. Seret
dan pahit, hahaha. Tidak ada ilmu yang sia-sia, apalagi jika kita komit
terhadap pilihan.
Karena satu dan lain hal, saya
yang tidak suka matematika ini terdampar di teknik mesin. Diantara cowok-cowok
dan segala macam ‘printilan’ mesin yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan.
Lalu saya tidak semangat? Tetap semangat dong..ini adalah kesempatan yang sudah
dipilihkan Tuhan. Toh banyak banget orang yang pingin masuk jurusan ini tapi
gagal. Ternyata kuliah di teknik mesin nggak sengeri yang saya bayangkan.
Justru saya menemukan dunia baru yang asik, kece, dan tentunya menantang. 
suka duka menjadi engineer wanita, berkarya dalam perbedaan, emak-emak blogger, keb, 4tahunkeb, wanita, engineer, industrial engineering
ngelas dulu
Sebagai kaum minoritas di teknik
mesin, tidak ada tuh perasaan terjajah. Ya..walaupun pas praktikum motor bakar
hanya bisa ngambil-ngambilin baut hehehe. Semester awal memang kacau, tapi
karena tidak ada alasan kuat untuk pindah jurusan..ya jalani saja.
Alhamdulillah, saya lulusan tercepat di angkatan (meski bukan lulusan terbaik
sih). Ini pembuktian, bahwa kuliah di
teknik mesin yang mitosnya butuh waktu lama itu terpatahkan. Dan saya ingin
mengubah mind set dari sebagian besar
orang (sok banget ya,,hehe) bahwa cewek pun bisa kuliah di teknik mesin
.
teknik mesin biosistem ipb, ipb, fateta, suka duka menjadi engineer wanita, berkarya dalam perbedaan, emak-emak blogger, keb, 4tahunkeb, wanita, engineer, industrial engineering
gaes..aku wisuda dulu yah..
Engineer Kerja di Bank?
Setelah sidang dan dinyatakan
lulus, saya mulai percaya diri untuk apply
pekerjaan. Lowongan yang paling banyak ditemukan adalah jadi banker. Pengalaman interview kerja saya yang pertama ternyata datang dari sebuah bank
inisial M. Bank memang umumnya membuka lowongan untuk semua jurusan, tidak
harus yang bertitel SE dan saudara-saudaranya. Setelah bank M, muncul juga
bank-bank BUMN lain. 
Tidak ada yang salah dengan kerja
di bank menurut saya, meski selama kuliah sudah susah-susah belajar gambar
teknik lah..rancangan teknik lah..pemrograman..dan lain-lainnya. Tapi, sesering
apapun saya mengikuti psikotes, interview, ada saja halangan. Kalaupun saya
lolos seleksi, ya..’ndilalah’ kurang sreg. Sampai suatu ketika, di pagi yang
cukup ganjil saya benar-benar ragu untuk datang ke panggilan psikotes sebuah
perusahaan manufaktur otomotif. Ternyata, disitulah ‘rasa sreg’ itu datang.
I Am Female Engineer
‘Disuit-suit’in orang itu rasanya
malu. Itulah ketika pertama kalinya saya masuk pabrik. Apalagi waktu itu belum
pakai seragam. Dunia industri yang didominasi kaum adam memang mengharuskan
saya beradaptasi lebih kuat. Pola pikir hingga habit sehari-hari perlu disett
sedemikian rupa. Bukan maksudnya saya jadi tomboy ya..hellauw..hehehe.
suka duka menjadi engineer wanita, berkarya dalam perbedaan, emak-emak blogger, keb, 4tahunkeb, wanita, engineer, industrial engineering
Female engineer itu banyak, tapi
kebanyakan mereka menjadi konsultan atau engineer di bidang software. Kalau
saya? Benar-benar terjun di lapang, ketemu oli..mesin..dan segala carut-marut
dunia industri. Enam bulan pertama adalah masa-masa adaptasi sekaligus
menjalani proses management trainee.
Cukup terseok-seok, analisa project dari teman-teman sesama angkatan MT yang
berjenis kelamin cowok memang beda ya. Hahaah..jadi nyalahin gender? Engga juga
sih, tapi ini beneran kok. Mereka terlihat lebih ‘mampu’ dan dipercaya.
Sisi mengasyikan dari menjadi
female engineer adalah sering jadi pusat perhatian. Idihh..maksudnya bukan yang
mentang-mentang dikelilingi pria lantas kita bisa bersikap ‘menye-menye’ gitu
ya. saya gampang kelihatan entah itu di meeting ataupun ketika sekedar jalan di
pabrik. Bukannya sok terkenal diantara ribuan karyawan, tapi banyak
orang-oarang yang saya kira ngga kenal sama saya..eh ternyata kenal. 
Ketika Kredibilitas
Dipertanyakan
Di departemen yang saya tempati
sekarang, saya adalah satu-satunya wanita. Nggak mudah untuk bisa membaur dalam
tim. Saya muda dan saya wanita, kredibilitaslah yang sering diragukan. Wanita
dianggap kurang kredibel untuk menangangi hal-hal teknis di lapang. ‘Kamu mau lembur..?
jangan..wanita jangan pulang malam-malam’. Hal-hal seperti ini yang sering
menyadarkan bahwa ‘saya berbeda’. Atau yang seringkali saya dengar
‘umm..sebenarnya saya ingin kamu yang berangkat ke sana, tapi biar si Pak X
saja’. Kesempatan-kesempatan pergi jauh lebih sering menyambangi mereka yang
cowok-cowok. Padahal sebenarnya sih ngga masalah sama sekali saya pergi
sendirian ke luar kota bahkan ke luar negeri. 
suka duka menjadi engineer wanita, berkarya dalam perbedaan, emak-emak blogger, keb, 4tahunkeb, wanita, engineer, industrial engineering
berkarya untuk perubahan dalam perbedaan
Itu contoh duka dari female
engineer. Hal lain sebenarnya terasa lucu sih, seperti saat saya pakai lipstik
atau parfum terus dikomentarin ‘woi..itu bibir gitu amat yaak…parfum nyenat
amat yaak’. Malah saya sering dinasehatin sama rekan-rekan kerja agar ngga usah
dandan saja. Padahal sebagai wanita ya ingin rapi dan ngga terlihat kucel, ya
kann? hihihii
Break The Stereotype
Menjadi satu-satunya yang
tercantik ngga bikin saya minder. Menjalankan tugas sesuai jobdesk adalah pembuktian lewat karya. Yang selalu menyemangati
saya tiap pagi adalah, yang saya lakukan ini tidka boleh sia-sia. Sedikit hal
ini semoga bisa mengubah dunia jadi lebih baik.
Dalam sebuah lingkungan yang
berbeda ini, yang tidak kalah penting adalah menjadi kawan bagi teman-teman
kerja saya di luar kantor. Hubungan interpersonal yang seperti ini tak boleh
dianggap sepele sebab sinergi adalah kunci suksesnya sebuah tim.
Break the stereotype
bahwa wanita tidak kredibel di dunia engineering dengan menjadi role model
untuk terus semangat berkarya.
  1. pertama kalinya saya masuk pabrik. Apalagi waktu itu belum pakai seragam
    .
    itu pake apa kok ga pake seragam, jangan-jangan jangan-jangan? hadeh2

  2. Nah benar. Stereotip kadang menyekat kita. Untungnya ada banyak perempuan yg meyakinkan dunia bahwa itu cuma stereotip. Semangat mba nay. Eh tapi saya yakin, orang yg ga tau background mba Nay pasti ga nyangka you are an enginer! 🙂

    Dulu saya juga suka dalam tatapan stereotip itu. "Eh hati-hati, perempuan jangan manjat.. perempuan jgn naik tank. Atau kasih yang perempuan nembak (dalam artian sebenarnya) duluan.

    🙂
    Tapi memang pada akhirnya kita perempuan punya keistimewaan yg tak dipunya laki-laki.. menjadi ibu. 🙂