[Review Buku] Di Antara Dua Sujud

di antara dua sujud, review, resensi novel diantara dua sujud, novel islami, muhammad irata
Di Antara Dua Sujud


Bacaan ringan yang ngga sampai
bikin baper. Aman lah buat para single seperti saya, heheh. Diantara Dua Sujud
menyadarkan tentang bagaimana lelaki memandang wanita. Apa yang dipikirkan
mereka yang sebelumnya tak saya bayangkan. Astaghfirullah, selama ini masih
sangat jauh dari menjaga diri. Kalau kamu mau bacaan ringan tentang
relationship yang aman, bisa belajar dari mas Furqon. 

Identitas buku
Judul: Di Antara Dua Sujud
Penulis: Muhammad Irata
Penerbit: Mutiara Media
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 400
Sinopsis (back cover)
Tak ada yang diciptakan di atas
dunia ini yang sia-sia. Dedaunan kering, sampah di pinggir jalan, bau selokan
yang membuat muntah pun tak lepas dari pandangan Tuhan. Bahkan seorang pelacur
pun, yang dianggap hina oleh manusia juga bisa tercatat memasuki pintu surga
hanya karena memberi kebaikan pada seekor anjing yang kehausan. Tak ada yang sia-sia
kalau kita menyadari siapa diri kita.
Berbekal rasa tulus ikhlas,
dengan teratur Aslam selalu mengirimkan uang untuk seorang perempuan yang
menjual dirinya demi kebaikan keluarganya. Tak sekalipun ia menampakkan diri di
hadapan perempuan bernama Savana. Meski ada secercah kekaguman yang tumbuh
dalam dirinya, Aslam berusaha meyakinkandirinya sendiri bahwa ia masih memiliki
kesmepatan untuk mendapatkan perempuan yang cantik karena dibalut iman dan
takwa.
Berbekal semangat dan tekad untuk
mencari rida-Nya, Furqon melangkahkan kaki ke Manado. Misi awalnya cuma satu,
menyelesaikan penelitiannya tentang reklamasi tanah di sana. Siapa sangka, ia
akan bertemu dengan seorang ilmuwan asal Jepang, Hichiro Nakayama. Ia juga
menaruh perhatian pada keponakan Nakayama, Nayumi Sakura seorang bintang film
dewasa.
Review
Di cover depan ada kalimat dari
penulis ternama Habibburahman Elshirazi. Saya adalah yang termakan pendapat
beliau bahwa novel ini mengeksplore Gorontalo. What? Bukannya Manado ya Kang? Dikit
banget lho ngomongin Gorontalonya. Agak paradoks sih, sampul diantara dua sujud
berilustrasi sakura dan kota di Jepang, tapi ada kalimat tentang Gorontalo. Desain
covernya terlalu girly, mungkin cowo-cowo kalau mau baca di tempat umum akan
risih.
Baru bisa menemukan alurnya yang
enak di setengah bagian buku. Gaya bahasanya Kang Abik banget deh, pun dengan
nama tokoh ‘Furqon’ serta ‘Aslam’ yang seperti ‘Azam’ di Ketika Cinta
Bertasbih. Mungkin penulis adalah fans berat Habiburrahman El Shirazi, sehingga
pengaruhnya begitu kuat. 
Ada bagian yang terasa berlebihan
menurutku. Kenapa harus diceritakan bahwa orang Jepang itu sekuler? Dan..adegan
paling janggal adalah saat di forum diskusi atau seminar gitu membahas
reklamasi. Si Nakayama kalah debat dengan Furqon dengan begitu mudahnya. Kurang
kuat saja sih cara penyampaian argumentasinya. 
Overall sih lumayan, kalau kamu
cari bacaan yang ngga bikin baper tapi berbau relijius…baca Di Antara Dua
Sujud aja deh. Ko ngga bikin baper? Rahasia dong ya…hihiii. aman lah buat
para geng jomblo dimanapun berada. 
Rate
3 dari 5
Quote
Setan menggoda siapa saja untuk
menghalangi manusia menuju kebaikan. Jika sebelumnya setan gagal menggoda
dengan kesibukan, maka selanjutnya setan jadikan orang lain sebagai alat
penghalang kebaikan. Setan tidak akan berhenti sampai menaburkan lagi rasa
waswas selama orang tadi mengerjakan kebaikan. 
Baca Juga: 
stay tune di Friday Hobbies 

29 Replies to “[Review Buku] Di Antara Dua Sujud”

  1. Pengobatan diabetes melitus says: Balas

    pengen baca bukunya

  2. jadi penasaran ama isi bukunya…nanti masukkan ke list untuk dibeli deh…

    1. beli sebelum difilm in mas..

  3. lumayan tebal juga yah bukunya 🙂

    1. tapi ringan kok mba buat dibaca 🙂

  4. asiiik.. amanlah ya buat kita.. >.<
    jadi, kenapa judulnya di antara 2 sujud mba?

    1. nahh itu dia..salah satu tokohnya ceritanya pernah mau tobat gitu. ehh spoilerr

  5. kok bisa beda …Gorontalo sama Manado….
    tapi karena dibilang lumayan aja… jadinya ragu mau baca

    1. hiihi lumayan kan menurut saya,,mungkin sangat keren bagi orang lain 🙂

  6. Hmmm. Makasih banyak reviewnya Bu Innayah. Hihihi. Bakalan jadi urutan kesekian kalopun mau cari. *eh?! ��

    1. makasih juga sudah mampir kesini Pak Daniii…

  7. Saya jadi ngebayangin baca buku ini saat perjalanan jauh di bis, bodo amat lah sama covernya yang girly itu hihi. Selama ini bacaan saya banyak yang berbau Jepang, karena saya lumayan tertarik pada kebidayaan jepang. Hmm kayaknya buku ini dapat memberi pandangan yang sedikit berbeda tentang Jepang. Pinjem dong bukunyah?! *nyengir*

  8. Saya jadi ngebayangin baca buku ini saat perjalanan jauh di bis, bodo amat lah sama covernya yang girly itu hihi. Selama ini bacaan saya banyak yang berbau Jepang, karena saya lumayan tertarik pada kebidayaan jepang. Hmm kayaknya buku ini dapat memberi pandangan yang sedikit berbeda tentang Jepang. Pinjem dong bukunyah?! *nyengir*

    1. apa aku ngadain GA aja ya mas..buku banyak banget ni..rata-rata baru dibaca sekali dan amsih mulus..haha tapi pada mau ngga ya?

  9. Yasinta Astuti says: Balas

    Mba jadi ini bukan buku cinta-cinta an ? kalau bukan saya juga mau beli ahh biar bisa baca lengkap ga penasaran terus hihi

    1. Bukan cinta cintaan ko,,ada sih dikit

  10. HAduh. Kalau liat buku 2 bulan terakhir ini bawaannya sedih. Lagi enggak maksimal baca buku, pada nganggur di samping kasur. 🙁 *wes, malah curhat*

    1. Sibuk ngeblog ya hahhah. Akupun jadi lambat nih

  11. Waah mupeeng pengen bscaaa

  12. Lidya Fitrian says: Balas

    setan akan selalu menggoda manusia dan tidak akan putus asa ya

    1. Betul mbaa.,sampai nyawa di tenggorokan

  13. Menarik juga nih bukunya mbak…. hmmmm… beli gak yak

    1. Minjeem aja hahaha

  14. Awaldi Rahman says: Balas

    Memang ya, terkadang gaya penulisan seseorang itu bisa dilihat dari siapa penulis favoritnya. Jadi bukan hal yang aneh apabila menemukan karya yang terpengaruh karena kehebatan seorang penulis ini.

    Setan, jelas betul tujuannya menjerumuskan kepada yang bathil. Duh.

    1. Penulis favoritmu siapa? Soalnya cerpennya filosofis banget

  15. Review bukunya keren Inayah, seperti nya buku ini bahasanya ringat tapi sangat bermutu yach?

    1. Iya kak Adel ringan banget

Tinggalkan Balasan