Book

[Review Buku] Ayat-ayat cinta 2

Desember 17, 2015
ayat-ayat cinta, ayat-ayat cinta 2, habiburrahman, novel, kang abik, islami, novel islam, fahri, review, resensi
Pesona novel
ayat-ayat cinta 1 yang telah difilmkan seakan belum padam. Ketika kang Abik
panggilan akrab untuk Habiburrahma Elshirazi emmasukan ayat-ayat cinta 2 secara
beseri di harian Republika, publik masih setia menantinya. Serial bersambung itu
akhirnya dibukukan dengan judul Ayat-ayat cinta 2. Topik Islamophobia yang saat
ini dialami di Eropa menjadi fokus novel ini. Jika dulu Fahri sibuk mencari
cintanya, kali ini dia sibuk membersihkan pandangan orang tentang Islam. Yang menjadi
titik penasaran saya membaca novel ini adalah ‘dimana Aisha’?
Identitas
buku
Judul:
ayat-ayat cinta 2
Penulis:
Habiburrahman Elshirazi
Penerbit:
Republika
Tahun terbit:
2015
Jumlah
halaman: 700
ISBN:  9786020822150
ayat-ayat cinta, ayat-ayat cinta 2, habiburrahman, novel, kang abik, islami, novel islam, fahri, review, resensi

Sinopsis (by
goodreads)

Fahri, yang kini tinggal di Edinburgh dan bahkan menjadi
dosen di University of Edinburgh, terpaksa menjalani kehidupan sehari-harinya
sendirian. Bersama dengan Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarah
Turki, ia meneruskan kehidupannya tanpa Aisha.

Terkadang Fahri masih saja menangis saat mengingat
kenangan-kenangannya bersama Aisha. Kenyataan bahwa istri yang sangat
dicintainya itu kini menghilang entah kemana, membuatnya nelangsa dan hampir
putus asa. Maka ia menghabiskan hari-harinya dengan menenggelamkan diri dalam
kesibukan pekerjaan, penelitian, mengajar, dan bisnis yang dulu dikelola berdua
bersama Aisha.

Aisha menghilang dalam sebuah perjalanan ke
Palestina bersama teman wanitanya saat ingin membuat cerita dan reportase
tentang kehidupan di sana. Teman Aisha ditemukan dalam keadaan sudah kehilangan
nyawa dan kondisi tubuh yang mengenaskan dan sangat mungkin kondisi Aisha juga
sama meski tubuhnya belum ditemukan saat ini.

Sudah lebih dari dua tahun Fahri berduka dan
tenggelam dalam usaha pencarian istri yang sanagat dicintainya itu. Ia pun
pindah ke Edinburgh karena itulah kota yang sangat disukai Aisha di dataran
Inggris. Dengan menyibukkan dirinya, ia berusaha menyingkirkan rasa sedihnya
sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri dunia pertama itu. Ia
berbuat baik pada tetangganya, menyebarkan ilmu agama pada berbagai pihak, dan
membantu orang-orang yang butuh bantuannya tanpa memandang bulu.

Berbagai kegiatan menyibukkan dirinya, hingga
sebuah pertanyaan mengusik datang dari berbagai pihak. Akankah ia membujang
seumur hidup setelah ditinggal Aisha? Akankah ia bertemu dengan istrinya itu
sekali lagi?

Review
Saat ayat-ayat cinta 2 sampai di tangan saya lengkap dengan
tanda tangan penulis, saya tercengang.
“tebel banget sih…700 halaman”. Jauh lebih tebal dari ayat-ayat cinta 1 yang saya kenal saat
pertama kali menginjakan kaki di IPB. Apa yang akan dijual penulis di ayat-ayat
cinta 2? 

Ayat-ayat cinta 1

Sebelum cerita panjang lebar tentang ayat-ayat cinta 2, saya ingatkan kembali ayat-ayat cinta 1 ya..barangkali ada yang lupa meski sudah nonton filmnya. Ayat-ayat cinta bercerita tentang kehidupan santri Indonesia bernama Fahri yang kuliah di Al-azhar. Fahri yang menghafal al-qur’an sekaligus kuliah akhirnya bertemu dengan Aisha gadis bercadar blasteran Turki dan Jerman. Setelah menikah, ternyata ada teman Fahri yang tergila-gila dengannya. Maria penganut Kristen Koptik yang menghafal surah Maryam mencintai Fahri hingga sakit. Di akhir hidupnya, atas desakan Aisha menikahlah mereka. Maria mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum ajal.

 Salah cetak 
Novel yang saat ini saya review adalah cetakan pertama. Di sana sini
banyak kesalahan cetak. Yang cukup fatal adalah kesalahan penyebutan nama Fahri
dengan Fahmi. Padahal, antara huruf “R” dan “m” di papan keyboard letaknya
berjauhan. 

Fahri manusia?
Islamophobia, ketakutan berlebihan dari dunia barat
terhadap Islam. Aksi terorisme yang dilakukan oleh oknum tertentu mendasari
novel ini. Fahri begitu gigih memperjuangkan citra Islam. Entahlah saya rasa
penokohan Fahri di ayat-ayat cinta 2 ini terlalu berlebihan. Seakan-akan Fahri
bukan manusia, dia malaikat. Semua terasa indah dan datar. Kegalauan Fahri tak
begitu menonjol, sehingga emosi saya datar-datar saja pas membacanya. Nggak sampai baper nangis-nangis gitu. Dan karena sudah difilmkan di novel pertamanya, sepanjang cerita yang terbayang adalah rupa Fedi Nuril. Mas Pras…#eh salah, itu sih surga yang tak dirindukan.

Debat Yang Berat
Setelah pembaca menyelami setengah buku, akan tersaji sebuah
debat yang berat. Debat perbandingan agama Islam, Yahudi, dan Kristen. Asli ini
berat banget dan saya semakin lama semakin hilang fokus. Terpaksa baca ulang
beberapa paragraf biar paham. Jika saya non muslim, kayaknya sih agak kurang
nyaman membaca di bagian ini. Semoga ayat-ayat cinta 2 nggak bikin kontroversi,
sebab tujuannya adalah memperjelas kekaburan islamophobia. 

Di 200 halaman terakhir, pembaca juga kembali akna menemukan perdebatan yang diceritakan dilakukan di Oxford. Debat antara Islam, Atheis, dan ajaran yang menyatakan semua agama itu benar. Jujur saya banyak skip bagian ini, gagal fokus. 

Isu Israel Vs Palestina
Di sinilah terjadi konflik antara Yahudi dan Islam (yang
penulis coba gambarkan bukan sekedar konflik politik namun lebih ke konflik
ideologi). Aisha diceritakan hilang di Israel, salah satu tokoh novel ini
adalah tentara zionis Israel, dan masih banyak lagi penggambaran tentang
konflik tersebut. Di bagian akhir akan diceritakan pula tentang kondisi kekejaman penjara di Palestina. Penulis ingin mengobar semangat terhadap perjuangan rakyat Palestina dengan penggambaran-penggambaran yang dia sampaikan. 



Setting
Saya suka dengan setting di Edinburgh, Skotlandia. Penggambaran
rute jalan oleh penulis terlampau detail sehingga terasa bertele-tele.
Alur
Jika kamu belum membaca ayat-ayat cinta 1, tidak masalah. Sebab
di ayat-ayat cinta 2, bagian yang sekiranya berkaitan kuat dengan ayat-ayat
cinta 1 dipaparkan oleh penulis. 

Pesan Ayat-Ayat Cinta 2

wahai para suami, temanilah istrimu jika hendak bepergian jauh. Atau jika kamu berhalangan, pastikan dia aman. Semua problem pelik di novel ini diakibatkan Fahri melepas istri-istinya beraktivitas tanpa keamanan yang memadai. 
semangat membela agama harus didasari pengetahuan yang kuat tentang agama itu. Pemahaman yang sepotong-sepotong akan melahirkan para ekstremis yang jutsru merusak citra agama.

Rate
3 dari 5 bintang

Quote
“Apakah kalian pernah
merasakan sebuah kerinduan yang sangat mendalam kepada seseorang bahkan
sebelum kalian berpisah dengannya?” Fahri

 “Itu pasti kerinduan yang
dahsyat yang lahir dari kecintaan yang dahsyat. Sudah rindu sebelum
berpisa” Heba

 Itu pasti kerinduan yang dahsyat yang lahir dari kecintaan yang dahsyat. Sudah rindu sebelum berpisah
iya mas Fahri…

Friday Hoby minggu lalu diisi dengan cerita traveling, untuk kali ini berbagi review buku. Stay tune ya….setiap jumat akan ada share cerita dari hobi-hobi saya (traveling, nonton, baca, kadang masak dan berkebun..heheh).

  1. Udah terbit ya novel kedua? Hahai.. kuper bgt ya. Yg menarik itu di AADC ya soal Fahri dan aisha. Jadi penasaran bagaimana endingnya. Eh tapi mba in ini novelnya ga BERAT bgt kan trutama soal perdebatannya? Lagi mau baca yang ga BERAT.. 🙂

    Btway pinjam novelnya boleh?

  2. Terus terang saya belum pernah membaca novel ini. Hmm, baru tau kalo dalam novel ini mengnagkat tentang isu keagamaan. Isu yang sangat sensitif. Bagusnya buku ini berusaha memberi kejelasan akan kekaburan Islamophobia. Orang-orang yang nganggap bahwa Islam itu adalah agama yang penuh kekerasan memang harus diberi kejelasan tentang Islam yang sebenarnya. Tapi gimanapun juga Kang Abik pasti udah mempertimbangkannya dan pasti beliau udah melakukan riset yang mendalam.

  3. sedikit koreksi mbak

    "3 sari 5 bintang"

    mungkin "sari" harusnya "dari", karena jarak huruf "S" dan "D" tidak berjauhan, atau berdekatan 😀

  4. Ini harganya brp?
    BTW, fahri itu kok memperbolehkan istrinya bepergian jauh? Trus menghilang, trus gimana pertanggungjawaban nya ke keluarga istrinya?
    *gemes sendiri*