[Review Book] Paper Towns

Hari senin jam empat pagi, sebuah pesan singkat dari sahabaku: 

Akan lebih menyenangkan melihat wajahnya di pagi hari diatas tempat tidur kita#suami

Saya hanya membalas dengan sebuah emoticon cengiran. 
Sekitar 7 jam sebelumnya, pesan singkat ajaib juga meluncur dari nomor whatsap teman saya:
Kalo liat kayak gini jadi pengen punya istri. Hahahaha
Itu adalah caption untuk foto yang dia kirim. Foto setumpuk baju yang belum disetrika di atas kasur.
Usia 20+ memang begitu adanya, topik apapun larinya kesana. Beda dengan Quentin dan Margo. Konflik mereka masih seputar ‘gue nggak betah di rumah, gue pangen kabur, cowo gue selingkuh, temen gue kurang ajar’.
Judul: Paper Towns
Penulis: John Green
Penerbit: gramedia
Tahun Terbit: 2014, original 2008
Jumlah halaman: 360
Sinopsis
Saat Margo Roth Spiegelman mengajak Quentin Jacobsen pergi tengah malam––berpakaian seperti ninja dan punya daftar panjang rencana pembalasan––cowok itu mengikutinya. Margo memang suka menyusun rencana rumit, dan sampai sekarang selalu beraksi sendirian. Sedangkan Q, Q senang akhirnya bisa berdekatan dengan gadis yang selama ini hanya bisa dicintainya dari jauh tersebut. Hingga pagi datang dan Margo menghilang lagi.
Gadis yang sejak dulu merupakan teka-teki itu sekarang jadi misteri. Namun, ada beberapa petunjuk. Semuanya untuk Q. Dan cowok itu pun sadar bahwa semakin ia dekat dengan Margo, semakin ia tidak mengenal gadis tersebut.

Review
Kisah kehidupan anak remaja dengan konfliknya yang khas. Nggak nyangka kalau roman ini kuat banget aroma detektifnya. Bisa dipastikan,,,,seru diikutin dong. Alurnya maju dengan setting di Orlando USA. Para tokoh adalah murid SMA semester akhir. Paper Towns yang saya baca ini edisi terjemahan, hemmm…akan lebih baik baca versi aslinya yang berbahasa Inggris karena di beberapa tempat ada terjemahan yang terkesan ganjil. Desain sampul terlalu misterius, nggak menarik. 

Fyi, Paper Towns akan difilmkan di musim panas ini ya…cuplikannya sudah ada di bioskop.

Sebenarnya penulis ingin menyampaikan tentang sebuah proses mengenali teman-teman kita. Dalam berteman, kau tak bisa melihat salah satunya tanpa melihat yang satu lagi. Seringnya kita selalu mengharapkan orang lain tidak menjadi diri mereka sendiri. Misalnya, saya begitu terganggu dengan penampilannya yang berantakan…tapi keramahan dan sifat manly nya nggak bisa diceraikan dari sejiwa raga dia. 
Seperti nasihat Mom ‘kalau kau sudah lebih tua, kau akan mulai bisa melihat mereka–anak nakal dan anak baik dan anak baik dan semua anak–sebagai orang. Mereka hanya manusia, yang pantas dipedulikan. Dengan berbagai derajat sakit, berbagai derajat neurosis, berbagai derajat aktualisasi diri’.
Membayangkan memang tak sempurna. Kita tidak mungkin bisa memahami orang lain sepenuhnya. Namun membayangkan menjadi orang lain, atau dunia menjadi sesuatu orang lain, adalah satu-satunya cara untuk memahami. 
Rate
3 dari 5 bintang
Quote
“Aku hampir bisa membayangkan kebahagiaan tanpa dia, kemampuan untuk merelakan dia, merasakan akar kami bertaut walaupun seandainya aku tak pernah melihat bilah rumput itu lagi” (315).

“Ketika mengatakan hal-hal buruk tentang seseorang, kita sebaiknya tak pernah mengatakan yang sebenarnya, karena kita takkan bisa dengan sungguh-sungguh dan jujur menarik ucapan itubkembali” (56).

Tinggalkan Balasan