Review

[Review Film] Filosofi Kopi The movie

April 11, 2015

Dendam tiga orang anak kepada orang tuanya, dan dendam sepasang orang tua kepada anaknya. Dendam yang diwujudkan dengan ambisi, cinta, dan passion.

Ben, kamu mengingatkanku pada seseorang. Dia, anak muda penuh obsesi yang suka pakai jeans, tshirt kumal, rambut acak-acakan, kumis dan jenggot dicukur kasar..,.satu lagi kesamaanya..nggak jauh dari rokok dan korek gas >> “Rul nitip tas ya?” | mau kemana? | “toilet (buat ngerokok). Temanku yang satu itu, cueknya sama banget seperti Ben. 

     
Filosofi kopi adalah film yang diangkat dari buku karya Dewi Lestari. Saya membacanya beberapa tahun yang lalu, saat belum mengenal coffee shop..dan belum bisa membedakan espresso, cappucino, americano. 
    
Ben yang saya ceritakan di atas diperankan oleh Chiko Jeriko, barista yang pemikirannya sporadis. Pasion dia dengan kopi muncul sejak masa kanak-kanak. Ben adalah anak petani kopi yang mengalami masa lalu pahit (nggak mau cerita ntar jadi spoiler). Intinya, saat Ben mengingat masa lalunya itu..dia nangis. Di tengah kebun kopi sore hari dengan backsound tongeret. Saya pun ikut nangis. Ah Ben…

Jodi diperankan oleh Rio Dewanto. Sosok pebisnis yang lebih dominan berpikir menggunakan logika. Ayah Jodi membesarkan Ben. Kedai kopi ‘Filosofi kopi’ Jodi dirikan bersama Ben sepeninggal sang ayah yang ternyata meninggalkan hutang 800juta rupiah. 

El, diperankan Julie Estele food blogger yang menulis buku tentang kopi. El yang mempertemukan Jodi dan Ben dengan Pak Seno dan Bu Seno, pemilik kopi tiwus. Kopi Tiwus ini yang nantinya akan mengubah segalanya. 
Review
Gencar banget ya promonya. Beberapa kali ngadain trip ke beberapa kota. Hampir banget ikut yang di Semarang dan Bandung. Lumayan kan bisa refreshing ke kebun kopi dan pabriknya. Meskipun itu sudah biasa bagi saya. Seperti Ben, saya sangat dekat dengan tanaman kopi sejak kanak-kanak. Film ini menyeret saya masuk dalam kebun kopi dengan aroma bunga nya…lalu menyeret saya pula ke dapur saat kopi dipanggang. 
Film yang nggak bertele-tele. Nggak banyak drama. Fokus sama tujuannya. Yang paling saya suka adalah…settingnya. Kebun teh, kebun kopi, syahduuuuu. Penggambaran lab kopi punya Ben juga kelihatan niat banget. Ketauan riset film ini nggak main-main.
Pemilihan karakter sudah sangat pas. Apalagi, mereka benar-benar diajari menjadi barista. Jadi nggak asal tekan ini tekan itu di mesin espresso. 
Musiknya…pas, iklan nyelip nya juga nggak norak…hahahaha. 
Dialognya bikin ketawa, di beberapa bagian bikin nangis. 
Overall, Filosofi kopi the movie sudah berhasil menarik penontonnya, pembacanya, dalam sebuah cerita yang terasa nyata. Kedai nya dibuat benar ada, baristanya benar ada, dan semoga ambisi Jodi dan Ben terwujud “kita kopikan Indonesiaaaaa…”

Rate
4 dari 5
Quote
‘Gue dan loe ibarat kepala sama hati. Punya isi masing-masing, tapi nggak bisa survive sendirian…harus survive bareng’
Jadi, tadi itu nggak sengaja banget ke XX1. Habis tersesat, bingung nggak tahu arah jalan pulang (karena nggak biasa naik bis) akhirnya ngojek minta anterin ke mall terdekat. Bermaksud nenangin pikiran sambil tidur siang, eh malah ketemu cast nya Filosofi kopi di bioskop. 

    

Tinggalkan Balasan