[Review Buku] Supernova: akar by @deelestari

Carilah,
dan kamu akan mendapatinya.
Ketuklah, maka
pintu akan dibukakan bagimu. Mintalah, maka kau akan diberi.

Supernova Akar edisi traveling
Judul: Supernova ; Akar
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 300

Sinopsis
Dewi Lestari mewakilkan
sebuah upaya pencarian kesejatian hidup
pada seorang tokoh bernama Bodhi. Seorang bayi yang di
suatu pagi tergeletak
di pintu
Vihara. Dipungut, diasuh, dan dididik oleh seorang Pandita, Guru
Liong. Merasa bahwa karma pada hidup masa lalunya
sangat berat. 18 tahun
dididik
dengan ketat, termasuk penguasaan terhadap sebuah ilmu bela diri,

Bodhi mengalami penyempurnaan bathin. Pemurnian
spirit. Termasuk sejumlah
pengalaman
uniknya yang “merasa” menjadi ulat, tikus got, kucing, dan sapi.

18 tahun adalah waktu yang cukup, dan Bodhi
mohon pamit. Bersama serombongan
pendeta
Buddha, Bodhi menyeberang ke Sumatera dan memutuskan menetap di
daerah Belawan. Tanpa KTP, tak juga faham mengenai
asal usul dan tanggal
kelahirannya.
Bekerja tiga bulan, mendapat upah, dan dibantu oleh Ompu
Berlin untuk mendapatkan sejumlah dokumen identitas
termasuk paspor, Bodhi
menyeberang
ke Penang. Disana dia bertemu dengan sejumlah backpackers yang
kemudian “memberi” arah perjalanan
berikutnya: Bangkok.

Bangkok surga bagi
para backpackers. Ratusan pengelana dari mancanegara 
tumpah di sana.
Bodhi tinggal di semua rumah penginapan Srinthip bersama 
sejumlah backpakers
multi etnis. Penghuninya datang dan pergi. Masuklah 
Kell, seorang
lelaki tampan, peranakan Irlandia dan Mesir. Lelaki tertampan 
yang mungkin pernah
ada di bumi ini yang mempunyai tugas kehidupan untuk
membubuhkan 617 tatto pada 617 orang untuk membuat
dirinya menyongsong
kemerdekaan paripurna setelah orang ke-617 membubuhkan tato yang ke-618 ke tubuhnya. Lelaki yang kerap menyenandungkan Eye in The
Sky-nya Alan Parson
Project. Kell
kemudian mengajarinya tattoo. Lalu, jadilah Bodhi seorang
tattooist dan menjadikan itu sebagai cara untuk
mendapatkan uang bagi biaya
hidup
sehari-hari.

Seorang backpacker
perempuan bernama Star, berasal dari Hollywood, peranakan
Eropa Timur dan Timur Tengah masuk dan menginap di
Srinthip. Perempuan
cantik dan
tercantik yang pernah dilihat Bodhi. Perawakan tubuhnya sempurna.

Waktu berlalu dan mereka berpisah.
Entah kenapa.

Bodhi meneruskan
pencarian kesejatiannya. Star seolah menggenap kesempurnaan
tattoonya dan pergi menyongsong kelana berikut. Keterserakan yang
tak menyenangkan. Tapi hidup adalah keping-keping misteri
yang baru terbuka setelah rebah sepenuhnya. Bodhi
membiarkan semesta
menuntun
perjalanan selanjutnya. Bertemu dengan lelaki tua pengasuh Bob
Marley, yang mengumandangkan reggae seolah cuma itu
yang ada di bumi dan
kahyangan.
Bertemu kembali dengan Tristan, backpacker yang ditemuinya
pertama kali di Penang. Mereka berdua bekerja di
ladang ganja di Golden
Triangle
dengan upah USD 700 per minggu. Sekian bulan di sana Bodhi memiliki

cukup uang untuk melanjutkan kembara berikutnya.
Pulang ke Srinthip
didapatinya
Kell sudah tak ada. Ah, lelaki yang telah memberinya keceriaan
dan sebuah warna baru.

Rasa kangennya
memuncak. Diputuskannya untuk pergi mencari Kell. Tak ada
petunjuk. Tak ada berita. Dan dia pergi. Suara semesta
dan kerinduannya 
adalah dua buah
kompas sejati yang dia percaya akan mengantarkannya tepat 
waktu – tepat arah
kepada Kell. Bodhi terdampar di sebuah pertarungan antar 
manusia ala Golden
Triangle ditonton oleh ribuan petaruh. Diadu secara 
barbar di atas ring
melawan gladiator raksasa. Pertarungan dahsyat dengan 
menggunakan
sejumlah jurus wushu yang mendebarkan pun digelar.

Perjalanan itu
begitu panjang dan melelahkan. Menembus belukar di antara 
desingan peluru.
Menyusuri daratan ranjau. Disana dia betemu Epona, gadis 
penakluk ranjau. Disana
pula ia bertemu kembali dengan Kell. Lalu, pada 
sebuah kunjungan ke
lokasi ranjau, tattoo ke 618, angka kebebasan paripurna 
Kell, dirajahkan.
Dalam dialog cerdas, konyol, menggelikan, dan bertabur air

mata. Adegan
mengejutkan, dan merupakan bagian terindah. Kebebasan itu

 atang dan menyapa
dalam damai. Nikmati adegan ini sambil mendengarkan ‘You
Take My Breath Away’-nya QUEEN. Berani sumpah, kau akan hening berjam-jam
sesudahnya…


Review
Seperti tidak
percaya saja kalau novel ini yang nulis Dewi Lestari, seorang wanita yang
biasanya menuliskan kalimat-kalimat puitis. Supernova Akar itu seperti novel
action. Pada bagian awal terasa penulis ingin membawa pembaca pada alur sebuah
buku traveling (semacam Titik Nol atau The Geography of Bliss), apa Dewi
lestari melakukan itu semua? Karena mustahil jika yang tertulis di sini berasal
dari imajinasi belaka.
Tidak ada
istilah science seperti di Supernova 1 Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sebagai
gantinya, banyak sekali kosakata asing bagi saya yang berasal dari ajaran
budhisme. Pun dengan footnote, di supernova akar sama sekali tidak ada. Jadilah
saya Cuma bisa menebak-nebak beberapa maksud dari istilah asing.

Rate
3 dari 5

Quote

Dengan
segala kesenjangan di antara kami berdua. Aku yang tak mungkin jadi ia dan is
yang tak mungkin seperti aku. Namun, ketika lingkarang kami beririsan, ada satu
keakraban yang berumur panjang, hangat seperti api pendiangan. Basa-basi adalah
lawakan, dan kami saling menghargai di balik caci maki.

Synopsis Source:
Goodreads

Tinggalkan Balasan