Book

[Review Book] I’m Malala

Agustus 29, 2014
Reading book I’m Malala made
me realize, that I should be grateful born and raised in Indonesia. Although
i’m a Muslim woman, I am free to go anywhere, can go to school since
Kindergarten to college and be a woman engineer. After graduation I can work
and independently. I became free of wearing clothes that I like, listen to
music and watch TV and movies that I want.
 

Saya membaca yang
versi terjemahan Bahasa Indonesia terbitan Mizan. Terjemahannya sangat bagus,
bahkan saya merasa tidak sedang membaca buku terjemahan. Memang berat sih baca
buku ini, tapi selalu menarik untuk diikuti.
 

Judul: I Am Malala, Menantang Maut di Perbatasan Pakistan-Afghanistan

Penulis: Malala Yousafzai dan Christina Lamb.
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno.
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 383

Tidak ada satupun anak yang bisa memilih orang tua yang melahirkannya, serta dimana dia ingin dilahirkan. Malala lahir dalam keluarga sangat sederhana di Pakistan saat kondisi negara itu berada dalam politik yang penuh suap. Keamanan tidak bisa dijamin oleh tentara negara, pun dengan kebebasan bergerak bagi kaum perempuan. Alasannya, penegakan syariat Islam. Militan dimana-mana, propaganda, Kalashnikov, bom bunuh diri..menempa Malala. Dia sejak lahir diajarkan ayahnya agar menajdi perempuan yang berani, mandiri, dan berpendidikan. 
Dalam sinopsis di belakang buku ini, tertulis “Namaku Malala. Saat aku lahir, para tetangga bersimpati pada ibuku, karena melahirkan anak yang tak bisa meneruskan nama keluarga. Tapi bagi ayah, perempuan ataupun lelaki sama. Sama-sama berhak tumbuh dan dididik setara. Namun, perang dan kekerasan antara militan Taliban dan militer Pakistan memusnahkan kesempatan itu. Kami, anak-anak, perempuan dan penduduk sipil berada di antara dua kekuatan yang berebut kekuasaan. Aku dan ayah berusaha melawan, melalui satu-satunya cara yang kami bisa, pena dan suara. Hingga tiga tembakan di siang yang panas berusaha membungkam suara kami. Mereka bilang, aku beruntung karena bertahan hidup. Mereka bilang, aku adalah simbol perjuangan untuk pendidikan anak-anak perempuan. Aku hanya tahu satu hal, Allah menyelamatkanku agar aku terus bersuara demi juaan anak-anak yang terancam haknya akibat perang dan kekerasan.
Sebuah biografi dan buku sejarah menurutku. menyelami setiap halamannya yang penuh kengerian adalah penyadaran bagiku. Banyak cara kita untuk berkontribusi sebagai warga negara dan sebagai hamba Tuhan. Tidak hanya dengan perang dan melakukan pemaksaan. Menyuarakan pendapat lewat tulisan salah satunya. 
Tidak berlebihan jika saya beri 4 bintang untuk I’m Malala.

Aku selalu tahu kalau ibu adalah perempuan kuat, tapi kini aku memandangnya dengan rasa hormat yang baru. (hlm. 213)

image source:  http://breakfastandlilies.blogspot.com/




Tinggalkan Balasan