Review Film Marmut Merah Jambu

Bang Dika sukses directing film Marmut Merah jambu sebagai alternatif komedi yang ramah usia. Lucu sih, tapi aku ketawa lebih banyak pas baca bukunya (baca buku Marmut Merah Jambu itu di sela-sela kepenatan kantor). Di Film Marmut Merah Jambu, Raditya Dika mengisahkan pengalamanya saat “jatuh cinta diam-diam jaman SMA”. Kehidupan anak SMA yang normal banget, realistis, tapi jadi menarik kalau dibuat film. 

Nggak berat nontonnya, ringaaan banget kayak makan kerupuk. Kalau yang nggak baca bukunya atau yang nggak suka romantic comedy Indonesia, sebaiknya nonton spiderman aja. Dibandingkan film-film sebelumnya, aku rasa yang ini nggak lebih baik Bang. 
Pesan yang kutangkap sih, “kita harus jadi diri sendiri, dan nggak harus jadi populer biar kita bahagia.” Selain itu Dika juga ingin bilang kalau sebaiknya “jangan jatuh cinta diam-diam,ungkapin aja.” Untold story of first love.
Kenapa marmut merah jambu sih? Ternyata marmut itu perumpamaan untuk Bang Dika yang gigih dan lincah. Lihat gambar marmutnya aku malah jadi ingat Hamtaro. 
3 Martabak telor deh buat Marmut Merah Jambu. 
Setauku cinta itu random
Tak tau kapan datang dan dengan siapa
Buktinya indah ini datang
Dengan tiba-tiba dan dia orangnya
Ku jatuh cinta tuk yang pertama

Cinta itu kayak marmut lucu warna merah jambu
Yang berlari di sebuah roda
Seolah berjalan jauh tapi nggak kemana-mana
Nggak tau kapan berhenti, ku jatuh cinta
Sering aku tersenyum sendiri
Melukis wajahmu didalam mimpi
Dan ku terbangun di pagi hari masih terasa indah
Sekarang baru ku mengerti teka tekimu
Kalimat indah tak pernah ku sadari
Tulismu ku tak menyangka jatuh cinta semudah ini
Kepada sahabat baruku
Nggak tau kapan berhenti, ku jatuh cinta (ku jatuh cinta, ku jatuh cinta, ku jatuh cinta……)

Tinggalkan Balasan