Review The Geography of Bliss

The geography of bliss: kisah penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan. Buku yang saya baca ini versi terjemahannya dan merupakan cetakan ke 5 yang diterbitkan 2013.

         
Eric Weiner, penulisnya berhasil menjadikan buku ini Best seller New york times. Memang seperti judulnya, Eric berkeliling dunia mencari tempat paling bahagia. Perjalanan berawal di Belanda dimana dia menemui pakai riset kebahagiaan Venhooven. Database dari dia, Eric gunakan untuk bekal perjalanannya. Menurut riset venhooen, negara paling bahagia adalah Islandia dan paling sedih adalah moldova. Eric Weiner menempuh puluhan ribu kilometer, bertahan dari kegelapan siang di Islandia dan panas yang padat di Qatar, fungsionalitas kecerewetan Swiss, dan ketakterdugaan nyata India. Eric selamat menghadapi situasi kudeta di Thailand, dan berduka atas hilangnya sebuah pena yang harganya konyol. Perjalanan terakhirnya adalah ke New York. 
Dari buku ini kita akan belajar banyak hal bahkan seperti membaca ensiklopedi sebuah bangsa. Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania raya, India, dan Amerika. Gaya bahasanya mudah dipahami, dalam, dan nyaman diikuti meski buku ini cukup tebal (500 halaman). 
Uang itu penting, tapi kurang penting dibandingkan dengan yang kita kira dan bukan seperti yang kita kita. Keluarga itu penting. Demikian juga dengan sahabat. Rasa iri itu racun. Begitu juga berpikir yang berlebihan. Pantai itu bersifat pilihan. Tapi tidak dengan kepercayaan. Tidak pula dengan rasa syukur. 
Kesimpulan mengenai kebahagiaan yang dicari oleh penulis, tergambar dalam kalimat Karma Ura seorang cendekiawan Bhutan. “Tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi, kebahagiaan 100% bersifat relasional.” Hakikatnya memang begitu, saya juga percaya bahwa kebahagiaan yang saya rasakan ada sangkutannya dengan hal lain. Misal siang ini, kebahagiaan saya bersangkutan dengan hujan, udara sejuk, tukang nasi penyet, tukang tempe, ayam yang menghasilkan telor, dan masih banyak lagi…jangan lupa..saya percaya Allah swt yang mengatur semua kerumitan dunia ini menjadi kebahagiaan.

—- 4/5 Bintang buat buku ini —-

Tinggalkan Balasan