Manusia fana

Pernah suatu kali aku meninggalkan kota dan dalam perjalanan pulang, melewati daerah yang tanahnya menanjak; bisa kulihat laut yang membentang di sebelah kiriku, dan didepan sana jalanan yang begitu panjang; sekonyong-konyong aku serasa berada di surga. Tempat itu sebenarnya sama saja seperti saat kulewati beberapa waktu sebelumnya, tapi cara pandangku sudah berubah. Perasaan itu campuran energi yang meluap-luap serta kedamaian tak terkira–begitu tajam dan membahagiakan. Sebelumnya, jalanan, laut, pepohonan, udara, dan matahari berbicara dalam bahasa berbeda-beda, tapi sekarang mereka berbicara dalam satu bahasa. Pohon menyadari keberadaan jalan, jalan menyadari keberadaan udara, udara melihat keberadaan laut, dan laut berbagi segala-galanya dengan matahari. Setiap unsur ini hidup berdampingan dalam damai bersama tetangganya, semua bersatu dan bersaudara. Aku berlutut sebagai manusia fana, dan bangkit sebagai makhluk abadi. Aku merasa seperti pusat sebuah lingkaran kecil yang menyatu dengan pusat lingkaran yang jauh lebih besar. 

                        (Dikutip dari Life of Pi hlm.103)

Tinggalkan Balasan