Review Proof of Heaven

Near death experience (NDE) atau yang akrab disebut mati suri sebelumnya hanyalah hal spiritualis. Tapi jika NED dialami seorang ilmuwan, dokter ahli bedah syaraf, tentu akan berbeda. 
Judul: Proof of Heaven
Author: Eben Alexander, M.D.
Originally published by Simon & Schuster, Inc.
Penerbit: Bentang Pustaka

Sebagai seorang ahli bedah, Eben Alexander belajar untuk lebih memercayai dunia medis dengan segala rasionalitasnya. Meskipun sering berhadapan dengan hidup-mati seseorang, Eben selalu abai ketika para pasiennya yang selamat, menceritakan “petualangan” mereka ke alam baka. Sama seperti dokter dan ilmuwan yang lainnya, ia memilih percaya bahwa petualangan itu hanya khayalan belaka. Hingga pada suatu malam, hidup Eben tiba-tiba berubah. Otaknya, bagian paling luar biasa dari tubuh manusia terserang penyakit yang paling mematikan. Bagian otak yang bertugas untuk berpikir dan mengatur emosi, kehilangan fungsinya. Eben mengalami koma selama 7 hari. Dan dalam 7 hari tersebut, Eben memulai petualangan luar biasa di alam baka. Petualangan yang memutarbalikkan kepercayaanya terhadap ilmu medis dan menyeretnya kembali ke berbagai ingatan masa lalu. 
Buku yang masuk genre non fiksi inspirasi ini habis saya baca hanya dalam beberapa jam. Dan selama membaca itu saya tertidur, dan “ereup-ereup” mimpi atau apalah namanya dimana badan susah digerakan. Haha..saya terbawa bacaan saya. Penulisnya, Eben Alexander, M.D. merupakan ahli bedah saraf profesional selama 25 tahun terakhir, termasuk 15 tahun pengalamannya di Brigham & women’s and the Children’s Hospital dan Harvard Medical School di Boston. Buku ini sesuai dengan keterangan di sampulnya “kontroversial tentang akhirat & Tuhan”.
Saya sebenarnya tidak suka baca buku terjemahan, kadang kalimatnya jadi “aneh” dan kurang merasuk. Meski agak tertatih, saya bisa faham buku ini dan saya beri 4 dari 5 bintang. Pantas saja jika Proof of Heaven jadi #1 New York Times Bestseller. 
Konsep akhirat dan Tuhan sudah kuyakini melalui agamaku. Dan meski tidak menyebutkan nama agama, di buku ini penulis sedikit menyinggung dengan kutipan berikut ini. 
“Aku menyadari bahwa keseganan beberapa agama untuk menamai Tuhan atau menggambarkan para nabi memiliki ketepatan intuitif karena realitas Tuhan sebenarnya sangat melampaui upaya manusia dalam menggambarkan Tuhan dengan kata-kata atau lukisan selagi berada di bumi ini”. 
Intinya, Tuhan..akhirat..hidup sesudah mati, kasih tak bersyarat, itu jelas adanya. Di penghujung buku ini Eben menulis “berkomunikasi dengan Tuhan adalah pengalaman paling luar biasa yang dapat dibayangkan, tetapi pada saat yang bersamaan itu metode paling alami karena Tuhan hadir di dalam diri kita setiap saat. Mahatahu, mahakuasa, pribadi, mengasihi tanpa syarat. Kita terhubung menjadi satu melalui pertautan surgawi kita dengan Tuhan”.

Tinggalkan Balasan