Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Berderai air mata, dialog panjang para tokoh dengan tutur bahasa khas karya sastra lama. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk diangkat dari novel dengan judul sama yang ditulis Buya Hamka pada 1938. Novel ini bacaan wajib di SMA saya pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya sudah meresensinya waktu SMA, cukup mendalam isinya. Kisah perjuangan seorang yang terjatuh lalu bangkit lalu terjatuh lagi dan terjerembab. Terusir dari kampungnya dan tak diakui karena masalah adat istiadat serta kemiskinan. Cinta Zainudin ke Hayati terpangkas karena wanita itu memilih pria lain. Sudahlah terlalu panjang kalau saya ceritakan isinya, hehe. Yaps film ini panjang banget, 2 jam lebih tapi TUNTAS. Bahasa sastra dalam novel yang tak terlalu saya pahami bisa dijelaskan dengan gamblang lewat versi film. 

Pemilihan tokoh sudah pas, kecuali Junot menurut saya. Yang luar biasa dari film ini adalah kualitas gambarnya, setting, serta properti yang “niat banget”. Detail properti, rumah, pakaian pemain utama maupun figuran semuanya diperhatikan. Rumah-rumahnya otentik, apalagi mobilnya. Kerennn itu pasti mahal banget pakai mobil antik gitu. 
Harusnya penonton film ini banyak meneteskan air mata. Dialognya menyayat hati dan panjang-panjang banget. Tapi entah kenapa saya malah banyak tertawa karena akting Junot yang terkesan lebay. Apalagi waktu mau cium pevita, ingus dan ludah kemana-mana (seisi bioskop bilang “hiiii”). Adegan yang paling saya suka adalah ketika Pevita mengucap janji di pinggir danau. Kalau adegan paling aneh adalah pas ada pesta dansa di rumah Zainudin, itu musiknya seperti terlalu modern nggak sih..kan 1930an.
Overall, 4 dari 5 bintang untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk the movie. Baru kali ini nonton bioskop ketemu kakek-kakek, bapak-bapak, pasti mereka penggemar sastra lama. 

Tinggalkan Balasan