Resensi Edensor

Published 2007 by Bentang Pustaka
ISBN: 139789791227025
edition language : Indonesian
original title: Edensor
series: Tetralogi Laskar Pelangi #3
literary awards: Khatulistiwa Literary Award Nominee for Prosa (2007)
Ini adalah kali kedua saya membaca novel ini. Pertama kali di tahun 2008 dan belum sempat meresensi. Meski mebaca ulang, tapi tetap seru lho..
Sinopsis:
Ikal dan Arai bukan lagi para pemimpi. Impian keduanya dulu untuk dapat bersekolah ke Perancis, menjelajah sampai afrika telah tercapai. Berkat kerja keras dan pengorbanan, Ikal dan Arai berhasil mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Sorbonne Perancis-sebuah impian yang telah sejak lama mereka cita-citakan. Ikal berkutat dengan teori-teori ekonomi, sedangkan Arai sibuk dengan penelitian ilmiah biologinya. Dan ketika liburan musim panas tiba, Ikal dan Arai membuat keputusan gila. Keduanya akan menjelajah Eropa dan Afrika dengan modal sebagai manusia patung!! Mereka menjelajahi dinginnya Belush’ye di bagian utara Rusia, dan menyeberangi panasnya padang pasir sahara di Mali. Mereka mengarungi Islandia di barat sampai ke Laut Kaspia di timur. Tak lupa selama perjalanan itu, Ikal mencari sosok A Ling, cinta pertamanya yang hilang. Cinta pertama yang membuatnya tergila-gila. Cinta pertama yang menghadiahinya novel Seandainya Mereka Bisa Bicara. Cinta pertama yg mengenalkannya pada keindahan Edensor, sebuah tempat yang dipikir Ikal hanya ada di dunia khayal. Penjelajahan usai, namun kuliah terus dilanjutkan. Ikal kemudian pindah kuliah ke Inggris. Sementara Arai pulang ke tanah air karena sakit. Siapa sangka kepindahan Ikal ke Inggris akan mengantarkannya ke tempat terindah yang sangat diidam-idamkannya; Edensor.
Resensi:
Membaca Edensor layaknya mebaca sebuah buku panduan travelling atau catatan perjalanan seseorang. Sangat menarik daripada buku yang memang aslinya buku travelling. Tanpa ada unsur kenarsisan sama sekali, bahkan bertabur metafora yang indah. Metafora yang tersaji sangat scientist tanpa terasa kaku. Meskipun setting ada di luar negeri, tapi penulis tetap menyajikan percakapan dalam bahasa Indonesia sehingga pembaca mudah memahami. Sebuah penyampaian yang tidak membosankan dan membuat penasaran. Karena saya belum pernah ke Perancis dan tidak paham keadaan di sana, saya ikuti saja alurnya meskipun banyak yang bilang ada hal-hal yang tidak logis dan terkesan didramatisir.
Moral value yang bisa ditangkap diantaranya adalah mengenai kegigihan menggapai mimpi. Tuhan memeluk mimpi kita, meski kadang kita sampai garis finish belum mendapatkan mimpi itu justru disitulah jawaban dari Tuhan. Sebuah kenyataan yang kadang pahit atas mimpi yang harus diterima.

Tinggalkan Balasan