Review Film Madre-Penuh Kejutan

Film ini lahir dari sebuah cerita yang terdapat di buku
kumpulan cerita Madre karangan Dewi Lestari. Review bukunya bisa dilihat di
sini review buku Madre
20% film madre berasal dari buku, dan sisanya adalah sesuatu
yang baru. Bahkan endingnya pun berbeda dengan buku. Ya..memang tidak mudah
memvisualisasikan buku, apalagi untuk cerita yang hanya beberapa lembar. Jika ingin
100% mengambil dari buku, film ini mungkin durasinya hanya 30 menit.
Setting film ini di jl. Braga Bandung, sedangkan aslinya di
kota tua Jakarta. Panorama bali beberapa kali menghiasi scene, tapi daya tarik
Braga yang oldie dan klasik lebih membuat segar mata. Karakter Tan yang
diperankan Vino G Bastian sebenarnya cocok, tapi kurang artistic karena wig
gimbalnya itu. Kelihatan banget kalau itu wig. Hehehe.

Perbedaan lain dari film madre dan bukunya selain setting
adalah alur cerita. Di buku diceritakan bahwa ketika Tan De Baker bekerja sama
dengan Fairy Bread, Tan dan Mey sering bertemu dan akhirnya jatuh cinta. Ending
cerita adalah saat Mey dan Tansen membuat adonan biang baru yang diberinama
Padre. Di film, ada tambahan alur dimana mey ternyata sudah memiliki kekasih
dan akan menikah. Hubungan Tansen dengan Mey rusak, begitupun kontrak antara
Tan De Baker dengan Fairy bread yang terputus. Tansen memilih kembali ke Bali. Sebelum
dia pergi, dia berpesan kepada Mey agar menjaga Madre. Mey mencari Tansen ke
Bali tapi tidak ditemukan. Akhirnya Mey mengembangkan Tan De bakker menjadi
toko klasik dan masih tetap apa adanya. Ending cerita adalah saat Tansen
kembali ke Bandung, menemui Tan de Bakker dan Mey.
Salah satu hal yang saya suka dari film dan buku Madre adalah tentang aktivitas blogging. Jika Tansen tidak bercerita di blognya, tidak ada kisah panjang Madre. Membuat semangat blogging saya bertambah. Meski social media sudah beraneka rupa, keep blogging deh. Tapi, waktu saya search blog “Sang pemburu Ombak”, blog itu tidak ada. hehehe
Overall, kurang nampol untuk sebuah film. Diantara Film yang diangkat dari buku Dewi Lestari, yang paling bagus Perahu Kertas. Madre dan Rectoverso masih berasa ini
sekedar FTV. 
“Kita harus menyikapi suatu hal secara manusiawi”

Tinggalkan Balasan