Kreatif Sampai Mati : handbook orang kreatif


Judul:
Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penyunting: Nur Jannah
Intan
Cetakan ke-1 : 2013
Penerbit: Bentang
ISBN: 978-602-8811-99-6
Halaman: 302

Resensi:
Sebuah scratch book
yang bisa dijadikan handbook bahkan buku bacaan wajib di sekolah. Buku ini
menyemai imajinasi pembacanya agar tumbuh, berkembang, tidak takut gagal, dan
out of the box. Menyajikan 17 bab yang disebut butir. Setiap bab dipisahkan
dengan warna berbeda pada perpindahan bab serta disertai quotes yang tersaji
secara kreatif. Pembaca tidak akan merasa sedang membaca buku, karena
seolah-olah penulis berbicara langsung. Pembaca tidak perlu membayangkan secara
rumit karena semua ilustrasi sangat jelas dan kreatif.


Di bagian awal, penulis
menjabarkan mengenai caranya menemukan passion. Waditya juga mengkritisi bahwa
yang namanya seni itu dibutuhkan dalam kehidupan. Hidup kita tidak selamanya
butuh matematika, bergelut dengan angka dan ilmu pasti yang lainnya. Hidup itu
butuh kreativitas dan warna. Jadi, tidak ada peng-anaktirian terhadap ilmu
manapun. Semuanya tetap dibutuhkan tapi harus seimbang. Selanjutnya penulis
mengarahkan pembaca untuk berlatih berpikir out of the box, menemukan ide, dan
mematahkan perasaan takut gagal. Di bagian akhir, dijelaskan mengenai
eksistensi serta perjuanagn KDRI (Kementrian Desain Republik Indonesia), dan
Hellomotion dimana penulis adalah foundernya.


Bahasa yang digunakan
ringan tapi tetap berusaha menyesuaikan dengan kaidah bahasa yang berlaku. Penuturan
dari bawah lalu klimaks dan penurunan di bagian akhir. Bagian klimaks dalam
buku ini dimulai di butir 5 yaitu “Bagaimana kalau?”. Berisi tentang mimpi sang
penulis membuat video klip untu grup band favoritnya Padi. Mimpi itu terus
diingat dan akhirnya terwujud. Meski dengan susah payah, dan takut mengecewakan
Padi, ternyata klip yang unik tersebut mendapat penghargaan klip favorit
pilihan penonton dari Video Musik Indonesia 2002.


Informasi yang tersaji
di dalam buku yang digunakan untuk memperkuat ide penulis sudah snagat relevan,
terbaru, dan valid. Semua gambar selalu disertai sumber asalnya, begitu pula
dengan pernyatan-pernyataan atau quotes. Tidak ada pernyataan penulis yang
terkesan menggurui.


Kreativitas penulis
terlihat mulai dari cover depan, hingga cover belakang. Semua tampak
proporsional, indah, unik, dan tidak membosankan. Pemilihan font yang pas serta
penambahan coretan-coretan di sana sini adalah keunggulan yang bisa menarik
pembaca dari berbagai usia, dan latar belakang. Sangat berbeda dengan buku motivasi
lain. Pembaca tidak akan merasa berat membuka halaman demi halaman meski buku
ini tergolong tebal. Hal lain yang menarik dari sisi desain adalah adanya
gambar di pojok kanan dan kiri atas yang jika digerakan akan menjadi animasi. Selain
itu tersedia space satu halaman cover yang bebas untuk di”kerjain” oleh
pembaca.
Cover hasil kreasi saya (galau) 

Buku ini tentunya belum
sempurna karena ada beberapa kelemahan. Konsistensi antar bab kurang baik. Hal ini
bisa disebabkan karena cara menulis yang random. Di akhir bab disebutkan bahwa
penulis menuangkan idenya secara random dari bab 2 lalu bab 4 dan kembali ke
bab 2. Bagian yang tidak konsisten itu terasa sekali di sini:“kreativitas akan muncul secara subur adalah
ketika orang-orang tersebut sudah menemukan tempat yang nyaman untuk berkarya

(halaman 21) adalah benar. Tapi di bagian lain yaitu di butir 7 malah jadi
terasa kontra. Di sini penulis mengungkapkan mengenai keterbatasan yang menjadi
peluang. Situsasi yang serba terbatas malah mendatangkan kreativitas. “..memanipulasi keterbatasan. Selain dipacu
untuk kreatif, kita juga disadarkan tentang efisiensi dan berkreasi seoptimal
mungkin”.
Jadi yang benar, kreatifitas itu muncul dalam kondisi nyaman,
terbatas, atau keduanya bisa?


Penulis adalah seorang
animator, creator, desainer. Tentunya, tulisannya juga berkaitan dengan itu
semua. Bagi pembaca yang kurang meminati hal itu tentu akan merasa bosan. Penulis
sama seklai tidak menyinggung bidang kreativitas lain misalnya fashion atau
arsitektur.


Pemilihan jenis kertas
pada bagian cover perlu dipertimbangkan. Pada bagian cover “plain” yang
disediakan untuk pembaca agar berekspresi justru licin. Penggunaan pensil warna
dan krayon tidak bisa maksimal jika pembaca ingin menggambar dan mewarnainya.
Secara umum, buku ini
sangat recomended untuk anak muda Indonesia maupun yang ingin berjiwa muda. Meski
bentuknya “nyleneh” berupa scratch book tapi layak dijadikan handbook untuk
para creator, bacaan putera-puteri di rumah maupun sekolah, serta motivasi bagi
para pekerja yang merasa terjebak pada hal yang bukan passion.
Penulis berpesan secara
tersirat di buku ini agar kreatifitas bisa dimanfaatkan bukan hanya untuk
materi pribadi semata, tapi juga kontribusi yang bermanfaat bagi bangsa dan
dunia. Kreatif itu sederhana, kita sering tidak merasa jika kita sedang
berkreasi.

Tinggalkan Balasan