Review Totto-chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela (The Little Girl at the Window)

Paperback, 1st ed., 197 pages
Published : 1985 by Pantja
Simpati (first published 1981)
edition language: Indonesian
original titleTotto-chan: The
Little Girl at the Window
charactersTotto, Sosaku Kobayashi
settingnear Jiyugaoka Station,
Tokyo (Japan)
Cetakan awal sebelum diterbitkan ulang oleh Penerbit Gramedia
cover 1984
versi bahasa arab
versi sekarang

Sinopsis:
Ibu Guru menganggap Totto chan
nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah
sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena
para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto chan dikeluarkan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto chan
ke Tomoe Gakuen. Totto chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di
gerbong kereta yng dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati
pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.
Mengasyikkan sekali kan? Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan
pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika,
ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya
sesuka mereka.
Karena sekolah itu begitu unik,
Totto chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain
di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan,
rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.
Review:
Anak-anak memiliki karakter yang
natural. Jiwa mereka bebas penuh rasa ingin tahu. Dan dunia pendidikan kita
sering menjadi pembatas. Membatasi ruang gerak dan kreativitas mereka.
Pendidikan kita sering menanamkan program-program tanpa kompromi yang membuat
mereka seperti robot.
Dunia sekolah terkadang menjadi
tempat yang menakutkan. Berbagai macam buku dijejalkan ke dalam tas mereka. Dan
sekolah berlangsung dari pagi hingga sore hari. Setelah pulang tak ada
aktivitas yang bisa mereka lakukan selain duduk melepas lelah bersama televisi.
Dan waktu malam yang santai dihabiskan dengan mengerjakan segudang PR yang
aduhai banyaknya. Singkat kata, sekolah tidak menjadi komunitas yang
menyenangkan. Semua dilakukan dengan tujuan hanya menjadi pintar menurut
standar rapot.
Membaca buku ini membuatku iri
pada Totto-chan. Memiliki kesempatan belajar & bermain di sebuah sekolah
dasar yang benar-benar mendidik, tidak hanya dari segi pengetahuan tapi juga budi
pekerti.

source: goodreads.com

Tinggalkan Balasan