Review Rumah Cokelat, Wanita karier atau fullMom?

Author: Sitta Karina

Paperback, 226 pages
Published January 20th 2012 by
Buah Hati (first published 2011)
ISBN 6028663743 (ISBN13:
9786028663748)
edition language: Indonesian
Sinopsis:
JADI IBU MUDA BEKERJA DI JAKARTA
TIDAK MUDAH! Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar;
bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup
terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai
melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!),
memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in
touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.
Sempurna? Awalnya Hannah merasa
begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari
selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang
sesungguhnya dimulai sejak momen itu.
rumah cokelat cover (by me on instagram)
Review:
saya mendapatkannya di
sebuah toko buku kecil di kota ini. karena suntuk banget, akhirnya ngeloyor ke
toko buku dan kecewa karena buku yang tersedia terbatas. Dari rumah sudah janji
hanya akan membeli buku ringan, dan ini sulit. Buku ynag selalu menarik
perhatian saya selalu buku berat (serius).
Singkat cerita, mulailah saya
membaca. hemm..ringan ya bahasanya. Tidak perlu mengulang ulang paragraf agar
bisa memahami benar. mungkin karena saya yang meskipun masih lajang begitu
memahami situasi Hannah, Wigra, dan sempat pula mengalami yang dirasakan Rasya.
Novel ini berhasil mendoktrin
saya lebih dalam lagi, tentang pilihan hidup setelah memiliki anak adalah
menjadi ibu rumah tangga. kembali ke kodrat. saya engineer, mungkin akan aneh di
mata sebagian besar orang kenapa saya memilih itu.
Tak ada yang sia-sia, termasuk
gelar saya. Bukankah mengurus anak dengan tangan sendiri, lalu mendidik anak
dengan pengetahuan yang kita punya, itu adalah bakti seorang wanita yang sudah
berkeluarga?
Jangan sampai anak kita mengenal
kita hanya sebatas sebagai seseorang yang membelikan mainan. Dan justru si anak
lebih mengenal si nanny (babysitter) sebagai seorang yang memberikan kehangatan
serta rasa aman.
Baby sitter hanya sementara
bersama dia, jika kita mengandalkan sepenuhnya tanggung jawab mengasuh anak ke
orang lain berarti kita belum siap berkeluarga.
Salah satu hal yang harus saya
lakukan kelak jika sudah berkeluarga yaitu akan bersama suami rajin
berolahraga. hehehe
Kata rumah cokelat yang dijadikan
judul buku ini hanya terbaca 1x di bagian akhir 🙂

Tinggalkan Balasan