Review: Novel negeri 5 menara memperbaiki Image Pesantren

Paperback: 432 pages

Published:  August 2009 by Gramedia
(first published July 2009)
ISBN: 139789792248616
edition language: Indonesian
original title: Negeri 5 Menara
urlhttp://negeri5menara.com/
seriesNegeri 5 Menara #1
characters: Alif, Raja, Atang,
Said, Dulmajid, Baso, Randai, Sarah, Amak, Kiai Rais, Ustad Salman, Tyson
literary awardsKhatulistiwa
Literary Award Nominee for Fiksi (2010), Penulis dan Buku Fiksi Terfavorit,
Anugerah Pembaca Indonesia (2010)

Sinopsis:
Alif lahir di pinggir Danau
Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa
kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di
sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.
Tiba-tiba saja dia harus naik bus
tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di
pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin
menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di
pondok.
Di kelas hari pertamanya di
Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada.
Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.
Dia terheran-heran mendengar
komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris,
merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat
pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer
berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya,
Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara
masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap
awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu
menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda
ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah
remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Review:
Novel ini sangat inspiratif
dengan Man Jadda wa Jadda sebagai tag line nya. Penggambaran yang jelas,
setting yang menarik, membuat saya merasa ini tulisan dari penulis tempo
doeloe. Kehidupan pesantren dan remajanya sesuai sekali dengan realita. Saya yakin
jika saya laki-laki dan masih cukup usia pasti pengen banget ke ponpes Gontor
setelah baca novel ini.
Peristiwa pengeboman yang
dilakukan oleh beberapa alumni pesantren banyak membuat orang bertanya-tanya.
Jadi sebetulnya apakah yang diajarkan di pesantren? Benarkah sekedar dogma
agama yang tak bisa dipertanyakan keabsahannya? Bila tidak ada sesuatu yang
salah, mengapa proses pendidikan yang dijalankan pesantren segalanya serba
tertutup bagi publik?
Lantas, apa lagi yang menarik
dari kehidupan pesantren? Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti
akan sukses. Mantra yang diucapkan sejak santri pertama kali menginjakkan
kakinya di pesantren terus-menerus didengungkan oleh kyai pemilik pesantren,
para ustadz, dan senior setiap hari, sepanjang tahun hingga sang santri lulus.
Bukan hanya mantra ini,
pendidikan adalah sebuah proses perjuangan yang kalau perlu dilalui dengan
melampaui batas kemampuan yang dimiliki oleh seorang santri. Tengoklah masa-masa
menjelang ujian. Bila di sekolah umum para guru “menebar teror” ketakutan
resiko tidak lulus, sehingga sebagian besar dari mereka menyarankan siswanya
untuk mencontek saat ujian, pesantren dalam novel ini menciptakan iklim di mana
ujian adalah sebuah perayaan. Semua orang harus terlibat di dalamnya. Para
ustadz tanpa segan mendatangi santri sampai ke kamar asrama untuk mengecek
kesiapan santri dalam menghadapi ujian. Memberikan materi yang dirasa belum
cukup dipahami di dalam kelas, atau hanya sekedar membesarkan hati santri yang
kebat-kebit akibat tidak percaya diri menghadapi ujian.

Tinggalkan Balasan