Review Kyai Joksin, Kyai Tanpa Pesantren

Penulis: Imam Sibawaih
El-Hasany

Tebal/ Ukuran : 258 halaman/ 13 x 19
cm

Jenis Cetak : Soft Cover plus Spot
UV/BookPaper 57,5 gram

 
Sinopsis


Novel ini bercerita tentang perjalanan sipritual seorang kyai muda dalam
melakukan pencarian jatidirinya.
 


Banyak hal luar biasa yang dialaminya selama proses pencarian tersebut.
Pengalaman yang diperoleh dalam proses pencarian tersebut telah mendorongnya
untuk merumuskan metode dakwah baru yang lebih tepat sasaran. Termasuk di
dalamnya kritik sang kyai muda, bukan saja terhadap cara-cara berdakwah dan
ibadah kelompok umat Islam yang terlalu mengutamakan syariat, tetapi juga
kritik terhadap kesalahkaprahan tata cara ibadah para penganut tarikat.
 


Dengan cara dan penampilan yang tidak seperti kyai kebanyakan, bahkan cenderung
“nyentrik”, kyai Joksin pun berdakwah dengan metode yang dianggapnya
lebih tepat sasaran. Seperti bisa diduga, tajdid yang digagas dan diterapkan
Kyai Joksin banyak menuai kritik dan kecaman, terutama dari kalangan
tokoh-tokoh agama yang “terlanjur” memiliki kedudukan penting di
masyarakat. Bahkan ada kelompok ormas yang berencana untuk membunuhnya ….
 


Review:

Saya mendapatkan novel ini dari penerbit lentera hati sepaket dengan 5 buku
lain dan 1 kitab sebagai hadiah atas lomba Resensi buku yang saya menangkan.
Saya pernah dengar istilah “kyai tanpa pesantren” bahkan pernah dengar istilah
“kyai joksin” tapi lupa dimana, mungkin dalam mimpi.
Awalnya saya kira ini novel akan saya selesaikan dalam beberapa minggu
karena terasa berat. Ternyata saya baca, ngalir begitu saja dengan derasnya.
Meskipun tokoh utamanya laki-laki tapi kadang saya merasakan pernah
mengalami seperti si tokoh. Banyak kemiripan. Dan ketika saya sampaikan ini ke
penulisnya lewat akun twitternya, ya wajar saja karena setiap orang pasti
pernah menjalani pengalaman spiritual. “
Saya sebut tutur spiritual, karena sesungguhnya itu merupakan hasil belajar dari pengalaman menjalani dan mengalami perjalanan hidup sepanjang waktu yang saya tempuh itu. Dari situ saya mendapatkan hikmah-hikmah kehidupan, yang kemudian ada beberapa yang tersinergikan dalam buku-buku dan kitab-kitab klasik. Lalu saya pikir, daripada saya hanya mensyarah semacam al-hikam saja, gimana kalau kemudian diperluas menjadi tutur, sehingga orang bisa membacanya dengan lebih enak dan lebih paham”.
Yang membuat saya semakin suka, karena ada setting novel ini di kota
Yogyakarta. 
Intinya sih, kecerdasan spiritual disampaikan di novel ini.  

Tinggalkan Balasan