Review Habibie & Ainun dari kacamata engineer

Habibie & Ainun
by Bacharuddin Jusuf Habibie
Paperback, 323 pages
Published November 30th 2010 by THC Mandiri
ISBN                              139789791255134
edition language               Indonesian
original title                      Habibie
& Ainun

Saya engineer, dan saya semakin bangga dengan Indonesia. Sejak kemunculannya di tahun 2010, saya sama sekali tidak tertarik membelinya. Masalahnya apa? Tebel banget, padat, dan sepertinya bacaan yang berat. Hingga akhirnya, di penghujung 2012 ketika biografi ini akan difilmkan saya melahapnya dalam 1 minggu. Hehe..waktu buku itu sampai di tangan, saya kira akan sebulan menamatkannya.
Intisari dari buku ini dapat saya bagi ke beberapa point:
1. Sejarah teknologi Indonesia
Dimulai dengan perjuangan Pak Habibi di Jerman, amanah presiden soekarno, teori-teori luar biasa dalam hal konstruksi..hingga suatu malam saya mimpi ngerjain soal setelah baca bagian dimana Pak Habibi berjuang untuk S3 nya. 
Bagi saya yang merupakan engineer, dan akhirnya masuk ke dunia manufaktur, buku ini pas banget. Saya jadi tahu sejarah perkembangan teknologi di Indonesia yang ternyata banyak dirintis Pak Habibi.
BPPT, Puspitek, IPTN, PTDI, beberapa hal yang dirintis kala itu. Apa jadinya ya, jika saat Indonesia sedang giat-giatnya membangun di era orde baru tapi teknologinya juga tidak dibangun? Tidak ada BPPT, Puspitek, badan standarisasi, hemm…jaman sekarang kita hanya menikmati rintisan jaman dulu yang terseok seok pada awalnya.
Keinginan Pak Harto kala itu yang merupakan bapak pembangunan adalah juga membangun SDM. Keinginan tersebut pak Habibi terjemahkan ke pembentukan lembaga-lembaga riset, kerjasama internasional dalam hal teknologi, dan lahirnya pesawat Gatotkoco saat HUT RI ke 50. 
2. Pelajaran rumah tangga
Perjuangan cinta sejak di Bandung, Jerman, hingga maut menghadang patut dijadikan guru. Kebersamaan dan saling melengkapi. Istri yang menghilangkan keraguan suami saat suami sedang dilanda masalah. Mereka selalu seatap, suka duka bersama. Tentang komunikasi yang tidak hanya dengan komunikasi verbal namun juga hati.
3. Politik ala engineer
Selama ini saya memandang bahwa dunia politik itu tidak bisa disatukan dengan dunia ke-engineering-an. Politik hanya isinya omong kosong, pemimpin tidak becus. Saya salah, hanya jadi korban pers. Sejak reformasi bergulir 1998 yang pada waktu itu saya masih SD, pemberitaan terus saja menyudutkan pemerintah mau era siapapun. 
Di buku ini saya mengenal Pak Harto dari kacamata Pak Habibi, juga Pak SBY. Sedikit mendapat gambaran mengenai cara berfikir Pak Habibi yang tetap “engineer”. Kadang cara berfikir seperti ini terlihat radikal. Menyimpulkan dari sisi yang berbeda. 
Sedikit pula tergambar kebingungan Pak Habibi saat tiba-tiba di”toyor”masuk dunia politik jadi koordinator Golkar, wapres, dan presiden.
Sebagai sesama engineer, saya bisa merasakan bahwa kekuasaan bukanlah yang dicari. Sayapun setuju, dan sependapat jika melakukan riset lebih menyenangkan daripada jadi presiden. Lebih-lebih saat usia senja, waktunya pensiun.
4. Kebangkitan cendekiawan muslim
Cendekiawan, istilah untuk orang berilmu yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Lewat sekelompok mahasiswa Unibraw Malang yang didukung puluhan cendekiawan akhirnya lahirlah ICMI. Dari ICMI ini, akhirnya lahir Republika, dompet duafa republika, bank muamalat, asuransi Tafakul, dan BMT. Sekolah insan Cendekia juga ternyata lahir dari ICMI.

Memang butuh perjuangan membaca buku ini. Tidak seperti novel, namun kadang mirip jurnal ilmiah, diktat kuliah, dan di sisi lain kadang mirip koran. Konsentrasi tinggi sangat diperlukan, bahkan sering saya terpaksa mengulang membaca paragraf karena belum paham dan tidak fokus 
Recomended

Tinggalkan Balasan