Novel Jadul Yang Patut Dibaca

Membaca itu aktivitas yang sangat menyenangkan apalagi sembari menunggu. kalau tak ada buku, twitter pun jadi, hehe. Di SMA, saya mendapatkan target untuk membaca dan membuat resensi
20 karya sastra lama. Ini tugas yang menyenangkan. Saat itu saya mulai mengenal
karya sasta-karya sastra orang dahulu yang luar biasa. Penggambaran yang luwes,
karakter yang kuat, dan membuat saya berimajinasi tinggi. Misal ketika membaca
novel Harimau-Harimau karya mochtar lubis saya berimajinasi kehidupan di hutan
di zaman itu. Ah..ini novel rekomendasi guru saya dan saya baca hanya dalam
beberapa jam (kurang dari sehari).

Beberapa judul yang masih saya ingat adalah ini:
Angkatan Balai Pustaka
Marah Roesli: Siti Nurbaya (1922)
Karya Sastra Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana: Layar Terkembang (1936)
Hamka:
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939)
Idrus: Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
Ali Akbar Navis: Robohnya Surau Kami – 8 cerita pendek
pilihan (1955)
Y.B Mangunwijaya: Burung-burung Manyar (1981)
Kalau angkatan 2000an yang saya sukai:
Ayu Utami
Saman (1998)
Larung (2001)
Andrea Hirata
Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov (2008)
Ahmad Fuadi
Negeri 5 Menara (2009)
Dari sekian banyak novel itu, yang terseok seok dalam mebaca
karena butuh pemahaman tingkat tinggi adalah Siti Nurbaya. Luar biasa…belum
khatam sampai sekarang J
 Bukannya saya tak suka baca checklit atau teenlit, tapi sering kecewa baca novel begituan. Mungkin karena bahasa, kekuatan penggambaran karakter, dan cerita yang terlalu ringan. 

Tinggalkan Balasan